Kandidat

Andai Sedetik Saja Jarmin Bisa "Ngomong", FAJAR-lah Pemenang Debat

13 Mei 2018   22:54 Diperbarui: 13 Mei 2018   23:04 409 0 0

MERANGIN - Debat publik pasangan calon bupati dan calon wakil bupati Merangin berjalan sukses tadi malam. Acara yang disiarkan live oleh TVRI Jambi ini langsung dari ruang sidang utama DPRD Merangin. Penampilan terbaik dari pasangan calon telah ditunjukkan,  visi dan misi juga telah disampaikan.

Tentu, banyak hal menarik yang disampaikan oleh pasangan calon begitupun dengan kejadian-kejadian diluar dugaan yang juga asyik untuk diulas. Debat memang bukan dalam rangka mencari siapa menang siapa kalah. Pemenang yang dimaskud pada judul ulasan ni hanya soal keunggulan calon saat mengikuti debat versi penulis saja. 

Tampil dengan mengusung visi Merangin Sejahtera 2023 calon bupati nomor urut 1 Ahmad Fauzi berhasil menunjukkan utuh kualitas intelektualnya kepada masyarakat Merangin, penyampaian visi dan misinya jelas, sistematis dan realistis, dengan bahasa ilmiahnya tinggi, jangankan masyarakat luas sekelas calon bupati juga ada yang tidak mengerti, hee. Soal isi harus diakui Ojie memang berkualitas. 

Namun kualitas intelektual saja tidak-lah cukup membuat penampilan Ojie bisa dikatakan sempurna, sebab ada Dua hal yang menurut pengamatan penulis yang ditunjukkannya sehingga membuat penampilan Ojie berujung bully-an bukan pujian.

Pertama, sesuai prediksi saya sebelum debat, Ojie dipastikan tidak akan canggung apalagi demam panggung, namun penulis belum begitu yakin Ojie mampu membendung emosi-nya. Hal ini terbukti dari penampilan Ojie yang begitu menggebu-gebu, terkesan ambisius dalam menyampaikan visi, misi, pertanyaan maupun jawaban bahkan terlihat 'emosi'.

Baca Juga: Prediksi Debat, Ojie versus Al Haris atau Ojie versus Haris dan Nalim

Lihat saja, sejak namanya dipanggil moderator cantik Chacha Annisa, Ojie terlihat kurang tenang, saat melangkah menuju kursi debat bersama Sujarmin ia sudah terlihat kurang kontrol sehingga hampir saja pasangan Ahamad Fauzi - Sujarmin (Fajar) ini terpleset saat melangkah kelantai bawah yang terlihat seperti anak tangga.  

Semangat Ojie dalam menghadapi debat telah terlihat dari jauh-jauh hari, bisa jadi karena yakin akan menjadi "bintang panggung" debat malam tadi. Penampilannya memang luar biasa, cara penyampaiannya juga luar biasa, suaranya semakin mengeras seakan menggambarkan Ojie memang luar biasaaaa.  

Kedua, selama lebih kurang 2,5 jam jalannya debat berlangsung tak sepatah kata dan sedetik waktupun diberikan Ojie kepada calon wakilnya Sujarmin untuk "ngomong" yang mana visi dan misi serta program kerja dibuat secara bersama dan jika terpilih akan dijalankan secara bersama pula.

Atas kejadian ini, timbul berbagai anggapan terhadap nasib Sujarmin yang tidak diberi sedikitpun kesempatan "ikut campur" bicara dalam debat ini, kecuali ikut berdiri dan pegang secarik kertas yang diduga berupa catatan. Menurut penulis ini tak terlepas dari trauma Ojie terhadap wakilnya soal sebutan "Buta warna Al-Qur'an" yang diucapkan Jarmin beberapa waktu lalu di televisi online lokal. Kalimat ini juga sempat viral di sosial media.

Mungkin, Ojie atas pengalaman itu sepertinya diduga was-was memberi kesempatan kepada Sujarmin ikut campur dalam pembahasan materi debat. Penulis sendiri tidaklah heran atas kejadian ini, karena sebelum debat saya juga sudah memprediksi jika Ojie memberi ruang dan waktu yang luas dan panjang kepada Sujarmin akan berpotensi blunder. (bisa jadi ini pertimbangannya).

Namun dengan tak sedetikpun memberi kesempatan kepada calon wakilnya, tentu ini akan berakibat lebih parah lagi, seakan Ojie memberi isyarat kemampuan Jarmin diragukan. Disamping itu menurut penulis, Ojie juga menegaskan bahwa kemampuannya diatas rata-rata, dan sangat jauh diatas kemampuan mantan Kadus 24 tahun itu yang saat ini jadi calon wakilnya.

Lagi, kejadian ini juga tidak mengherankan bagi penulis, sebab sekitar lima bulan lalu atas keputusan Ojie memilih Sujarmin sebagai pendampingnya pada pesta demokrasi 27 Juni 2018 ini penulis anggap sebuah spekukasi besar. Saya tahu betul kemampuan SDM kepada Bappeda pada tiga Gubernur Jambi ini.

Baca Juga : Gaet Jarmin, Ojie Berspekulasi Besar

Menarik untuk dinanti, seperti apa jadinya hubungan FAJAR pasca debat, apakah Jarmin merasa berkecil hati atau menerima dengan dengan senang hati atas "perlakuan" itu, karena tak sedikit pihak yang menyayangkan kejadian itu. Menurut saya jika kehadiran Jarmin di 'hitung' bisa saja dengan mempersilahkan Jarmin membacakan pertanyaan yang telah dikonsep itu. (sekedar bisa dikatakan berbagi) 

Jika dalam penyampaiannya Ojie tenang dan tidak "mekik-mekik" serta Jarmin diberi kesempatan ikut ngomong agar kehadirannya dianggap sebagai pasangan calon yang juga ikut acara debat. Jika itu dilakukan Ojie tadi malam maka versi penulis FAJAR-lah pemenangnya dalam debat publik ini. (namun itu tak dilakukakan).

Sementara itu, untuk pasangan nomor urut 2 Al Haris - Mashuri (Hamas) paslon ini dihujani berbagai serangan (maklum calon petahana) plusnya bagi pasangan ini mampu mengotrol emosi dan dapat menjawab pertanyaan dan serangan dengan tenang.

Meskipun, menurut penulis tak ada yang nampak begitu menonjol dan istimewa dari apa yang disampaikan pasangan ini, apalagi saat giliran penjelasan oleh Mashuri ada hal yang disampaikan tak kongkrit dan nampak tidak menguasai materi. 

Namun, kepercayaan Al Haris kepada Mashuri untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan pendidikan maupun soal lain dapat memberikan nilai plus baginya. Dia menunjukkan tipe kepemimpinan demokratis, tidak egois serta menunjukkan tauladan sebagai bupati dan wakil yang harus saling berbagi.  

Al Haris juga cukup membanggakan Mashuri yang nota bene sebagai mantan kepala dinas pendidikan (meskipun pernah mengundurkan diri jabatanya saat Al Haris bupati). Al Haris berharap kelak, jika terpilih Mashuri diyakini mampu meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) di Merangin.

Selanjutnya, pasangan nomor urut tiga, Nalim - Khafid juga banyak hal menarik yang ditampilkan pada debat yaang terdiri dari enam segmen, Nalim sesuai prediksi penulis memang lemah dalam retorika termasuk pembedaharaan kata, salah sebut juga sering menghiasi jawabannya. Seperti kata "Etensip" yang dimaksud adalah insentif dan beberapa kalimat lain. 

Beruntungnya Nalim pada pencalonanya kali ini didampingi sosok birokrat ulung yang sedejet pengalaman birokrasi hingga jabatan tertinggi di PNS pernah di embannya, Abdul Khafid mampu menyamarkan kekurangan-kekurangan Nalim dalam saat debat berlangsung.

Penguasaan materi dan gaya pidato Khafid cukup meyakinkan, saling berbagi waktu dalam menjawab dan menjelaskan pertanya para lawan pada pasangan ini juga terlihat penuh kebersamaan, meskipun dalam hal pemanfaatan waktu paslon ini sering didahulukan oleh bunyi bel.


#Jangan Lupo 27 Juni 2018 datang ke TPS gunakan hak pilih anda.


Bangko, 13 Mei 2018

Oleh: Himun Zuhri (Sekjend KoPiPeDe Merangin)