Veronika Gultom
Veronika Gultom IT Consultant - Data Modeler, Performance Management

IT - Data Modeler

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ibuku yang Biasa-biasa Saja

3 Januari 2018   23:16 Diperbarui: 3 Januari 2018   23:40 592 1 0

Ibuku, orang yang sederhana, simple, dan seperti umumnya ibu-ibu jaman dulu. Bahkan sampai sekarang, ibuku masih tetap seperti ibu-ibu jaman dulu, yang tidak suka makan diluar, yang lebih suka makan masakan yang dimasak di rumah sendiri daripada membeli jadi. Kesederhanaan yang juga memang ciri khas keluarga kami, adalah kesederhanaan yang tidak ikut berlomba dalam hal materi, sederhana yang artinya tidak usil dengan orang lain, sederhana yang apa adanya. Ada uang atau tidak ada uang tidak perlu ditunjukan ke luar, biasa-biasa saja.

Ibuku memang orang yang biasa-biasa saja. Biasa-biasa sajanya ini yang menjadi bekalku merantau. Mulai dari kota yang jaraknya hanya 5 jam dari tempat tinggal orang tuaku sampai merantau ke negara tetangga. Sifat biasa-biasa yang aku bawa dari rumah menjadi bekalku merantau dan membawaku sukses melalui rintangan hidup yang kadang tidak mudah. Sifat biasa-biasa saja yang mampu menembus perbedaan budaya, sifat, dan karakter. Kesederhanaan yang menjadi kelebihanku sehingga aku dapat beradaptasi, atau setidaknya bertahan, dalam semua level pergaulan, dengan tetap menjadi diri sendiri yang memiliki prinsip kuat. Kesederhanaan yang ditanamkam dari rumah oleh orang tuaku, Ibu dan ayahku. Tentu saja peran ibu sangat kuat dalam hal ini. Ibu yang tidak seperti wanita pada umumnya, tidak pernah ikut pamer materi atau usil dengan kelebihan atau kekurangan materi orang-orang sekitar. Ibu yang melakukan tugas-tugas rumah tangganya sendiri saja dibantu anak-anaknya. Selain melalukan tugas-tugas rumah tangga, ibu juga mengurus ke-7 anaknya sementara Ayah bekerja. Bukan hanya itu, ibu juga masih sempat membuka toko, ya memang tokonya tidak maju-maju malah nyaris bangkrut, tapi kenyataannya kami tidak pernah kekurangan, sekalipun keluarga kami harus menerima tumpangan saudara-saudara dari kampung sampai mereka mendapatkan pekerjaan.

Sederhana yang tidak menuntut hidup harus seperti orang lain, atau ikut-ikutan trend. Sederhana yang tidak minder dengan keadaan yang biasa-biasa saja. Itu semua yang membuatku biasa-biasa saja ketika berada di lingkungan yang untuk levelku adalah lingkungan yang 'wah', tidak merasa minder, dan tidak juga lantas cari-cari muka atau bergaya 'senada' dengan lingkungan tersebut. 

Sikapku ini justru membuat teman-temanku merasa 'aman' untuk menceritakan hal-hal yang mungkin dirahasiakan kepada orang lain, yang membuatku sedikit kaget namun berusaha tetap netral, karena ternyata apa yang tampak dari luar ternyata seringkali hanya kulit luarnya saja. Kenyataannya ada bagian-bagian yang tidak terbayangkan sebelumnya. Semua itu memperkaya pengetahuanku dan membuatku lebih bersyukur dengan hidup yang biasa-biasa saja hasil didikan kedua orang tuaku dan contoh nyata yang ditunjukan ibuku sebagai sesama wanita.

Sederhana yang tidak memandang rendah orang lain yang secara sosial berada dibawah level sosial kita. Tetap bergaul dengan mereka tanpa memandang status, namun bebas menjadi diri sendiri, yang senang jalan-jalan keluar kota atau luar negeri jika ada waktu dan ada uang, yang senang mencoba hal-hal baru.

Aku merasa sangat beruntung dengan hadiah ajaran kesederhanaan ini. Mengerjakan hal-hal kecil seperti mencuci baju, menyeterika, masak sekali-sekali, dan mengurus sendiri hal-hal kecil lainnya, terasa biasa saja bagiku ketika tinggal jauh dari orangtua, karena memang ibuku memberlakukan jadwal giliran cuci piring, memasak, membersihkan lantai diantara anak-anaknya. Hal itu bukan sesuatu yang baru sehingga aku tidak perlu 'kaget' dengan semua itu. Terima kasih ibu, untuk semua itu.

Aku juga belajar untuk setia dari ibuku. Ibuku jatuh sakit karena penyakit yang membuatnya tidak merasa lapar dan lupa apakah sudah makan atau belum. Tidak ada yang menyadari hal itu sampai ibuku benar-benar sakit dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan merawat ibuku. Kembali ke rumah orang tua di usia yang tidak terlalu muda dan setelah terbiasa mandiri, ternyata bukan hal yang mudah dan aku hampir saja menyerah. 

Bagaimanapun ketika aku hidup di 'luar rumah' ada banyak hal lain yang sadar atau tidak terserap menjadi bagian dari hidupku. Keteraturan, pengaturan waktu, kebebasan beraktivitas diluar rumah, dll. Aku harus beradaptasi lagi ketika 'pulang' ke rumah, bertoleransi dengan ketidak teraturan, dan budaya sungkan yang membuatku seolah terlalu saklek ketika mengungkapkan ketidak setujuan. Ditambah lagi aku harus hidup bersama orang tuaku yang lansia, merawat ibuku dan juga memperhatikan ayahku yang juga semakin menua. Dan aku baru menyadari ternyata ayahku juga bukan orang yang sempurna yang membuatku sempat bertanya-tanya koq  bisa ibu tahan bertahun-tahun mendampingi ayahku... :D Namun itulah bentuk kesetiaan ibu. Kesetiaan yang menjadi komitmen, tanpa banyak alasan.

Dan dalam sakitnya ibu selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang beliau pikir masih bisa dikerjakan sendiri karena tidak mau membebaniku. Meski beliau sekarang menjadi seorang yang pelupa, kadang bertanya sesuatu hal berulang-ulang dalam selang waktu beberapa menit saja, namun beliau tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih, untuk segelas susu yang aku buat, untuk membantunya berjalan, untuk menyendokan makanan ke piringnya, dll. Ibuku  yang  tetap menjadi pendamai ditengah-tengah kami. Dia yang meski pelupa namun selalu dapat merasakan apa yang kurasakan meski tak kuceritakan. Dia yang selalu mengingatkan ketika aku kurang sabar dan terlalu banyak mengeluh dan menuntut orang lain untuk berbuat yang sesuai standarku.

Terima kasih ibu untuk pengajaran, teladan, kesetiaan, dan untuk tetap mengasihiku meski aku sempat ingin menyerah saja dan meninggalkanmu di hari tuamu. Aku mau menjadi orang yang sederhana sepertimu. Sederhana yang membuatmu mampu  melakukan banyak hal luar biasa.