Mohon tunggu...
Silvi Novitasari
Silvi Novitasari Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Penyuka kamu, buku, senja, dan keindahan. Sempat jadi orang yang ansos, tapi akhirnya jadi orang sosial lewat tulisan. Bahkan menjadi sarjana sosial :D

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Waspada Gangguan Mental, Bagaimana Seharusnya Kita Memaknai Insecuritas?

16 September 2020   15:55 Diperbarui: 17 September 2020   03:07 270 14 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Waspada Gangguan Mental, Bagaimana Seharusnya Kita Memaknai Insecuritas?
ilustrasi insecure/ sumber: thegloss.ie

Apabila ketiga pertanyaan ini dijawab dengan jujur maka jawaban-jawabannya akan mengungkapkan kemampuan dan ketidakmampuan menyesuaikan diri secara sosial dan emosional.

Individu yang mampu menyesuaikan diri akan menjawab bahwa ia adalah orang yang diterima oleh kelompok sosialnya, bahwa ia disukai oleh para anggota kelompoknya, dan sebaliknya ia juga menyukai mereka. Dan tentunya ia menyukai diri mereka sendiri.

Orang yang tidak mampu menyesuaikan diri akan bereaksi secara berbeda. Ekspresi wajahnya mungkin akan kelihatan sedih atau bahkan untuk kondisi yang sudah parah mungkin akan menangis.

Jawabannya bisa berupa: "Tidak, saya tidak memiliki kawan-kawan akrab, Saya menyukai orang-orang lain, tetapi mereka kelihatannya tidak menyukai saya. Apakah saya menyukai diri saya sendiri? Tidak, kadang-kadang saya membenci diri saya sendiri."

Bagaimana membuat diri terhindar dari insecuritas dan menghindarkan diri agar tidak membuat orang lain merasa insceure?

Ok, setelah kita membahas sedikit demi sedikit tentang sikap yang harus dilakukan untuk memaknai insecuritas. Lantas, bagaimana cara agar kita bisa menghindarkan diri dari rasa insecure dan menghindarkan diri untuk tidak membuat orang lain merasa insecure?

Tentunya hal ini harus dilakukan dengan kerjasama atas berbagai pihak. Di mana kerjasama ini untuk membangun sebuah kesehatan mental yang baik dan memupuk semangat serta dukungan satu sama lain.

Untuk menghindari masalah insecuritas sebaikanya kita mulai untuk membiasakan diri dalammengutamakan sikap menerima dan memuji. Bukan malah sikap menyalahkan dan menghukum. Kita harus belajar menghormati martabat atau privasi pribadi setiap individu.

Misalnya saja di sekolah, seorang guru sebaiknya tidak boleh memakai sindiran dan ketakutan sebagai senjata untuk mengendalikan murid-murid.

Orang tua senantiasi untuk membesarkan hati anak serta membantunya agar sang anak bisa menggunakan kemampuannya sebaik-baiknya.

Begitu pun dengan pemimpin perusahaan mencari alasan mengapa karyawan tidak melakukan pekerjaannya secara memuaskan, lalu kemudian membuat penyesuaian diri yang diperlukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x