Mohon tunggu...
Mauraqsha
Mauraqsha Mohon Tunggu... Wiraswasta - Staff Biasa di Aviasi.com

Penggemar Aviasi namun terjun di Pariwisata, berlayar pilihan pertama untuk liburan, homestay dan farmstay piihan pertama untuk penginapan.

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

FIR di Antara Kedaulatan Negara dan Keselamatan Penerbangan

28 Januari 2022   11:03 Diperbarui: 28 Januari 2022   11:35 315
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto : Denis Velicanov/pixabay.com

Wilayah udara atau airspace memang berkaitan  dengan kedaulatan negara namun bila pada pengaturan penerbangan baik sipil maupun militer, keselamatan berada paling atas.

Keselamatan penerbangan adalah bahasa yang bersifat universal digunakan oleh semua negara  serta ICAO sebagai badan yang memastikan hal itu terwujud 

Perkembangan yang terjadi mengenai penyesuaian kontrol FIR Singapore memang membelah dua sisi yaitu sisi kedaulatan negara dan sisi keselamatan penerbangan, namun alangkah baiknya kita melihat dari yang lebih besar dan utama yaitu keselamatan penerbangan.

Bila kita melihat negara Singapore yang wilayah nya tidak luas, maka gambaran dalam penerbangan adalah beberapa menit setelah roda pesawat masuk ke badan pesawat, maka saat itu pula pesawat sudah masuk wilayah udara Indonesia.

Begitu pula negara negara Eropa yang saling berdekatan, bila lepas landas dari Bandara Zurich , seketika itu kita masuk wilayah udara Jerman, begitu pula negara negara lainnya.

Indonesia juga mengatur penerbangan di Christmas Island milik Australia serta negara Timor Leste, semua ini dilakukan atas dasar pertimbangan utama yaitu keselamatan penerbangan.

Pesawat pesawat yang akan lepas landas dari sebuah bandara akan berkomunikasi dengan ground control kemudian ATC untuk takeoff clearance, setelah lepas landas komunikasi akan beralih ke departure control hingga setelah berada di flight level atau diatas level  altitude.

Jika negara kecil seperti Singapore atau Timor Leste sekalipun yang hanya memiliki ruang udara yang kecil, penenpatan departure control yang umumnya bisa berjarak sekitar hingga 80 kml dari bandara keberangkatan bisa jadi sudah berada di wilayah teritorial negara lain, sama terjadi di negara negara Eropa.

Pada bandara dengan trafik yang padat dimana pesawat yang lepas landas bisa berdekatan perlu di monitor jarak keamanannya, ini dilakukan oleh departure control yang bisa berlokasi di teritorial negara lain tersebut diatas.
Begitu pula berlaku untuk pesawat yang akan mendarat.

Trafik di bandara Changi padat sekali dan keberadaan departure control yang selama ini berada di Singapore adalah untuk memastikan keselamatan penerbangan, walaupun departure control yang berjarak 80 km bisa saja seharusnya berada pada teritorial Indonesia.

Semua pesawat yang berada pada sektor sektor  dibawah kontrol FIR Singapore seperti wilayah kita, perlu melapor bila akan lepas landas atau mendarat serta melintas atau berada dari 0-37,000 feet, bukan meminta ijin, hal ini untuk memastikan pihak kontrol Singapore dapat mengatur trafik yang berada pada area tersebut.

Apakah ini keinginan atau tugas Singapore untuk menjamin keselamatan penerbangan? jawabanya bukan iya karena semua itu atas dasar pertimbangan utama yaitu keselamatan penerbangan yang telah ditetapkan oleh ICAO untuk setiap negara di dunia menerapkannya.

Kita mengatur penerbangan di Christmas Island dan Timor Leste, bukan berarti kita menguasai wilayah udara mereka, ini  berdasarkan keselamatan penerbangan yang berlaku bagi semua negara, bukan hanya Eropa saja dimana jarak antar negara berdekatan.

Dari sisi militer, penggunaan airspace kita untuk militer Singpore sebaiknya dilihat dari sisi good neighborhood dengan melihat luas negara kita dan mereka, selain itu pula tidak memang seharusnya kita melihat itu sebagai ancaman sama sekali, come on.., kita ini anggota ASEAN.

Kita juga jangan melupakan bahwa Timor Leste dan Australia meginjinkan kita untuk mengatur penerbangan di airspace mereka untuk keselamatan penerbangan, untuk Australia mungkin karena melihat lokasi pulau tersebut yang lebih dekat ke FIR Jakarta, bagi Timor Leste karena bisa jadi karena Kita lebih memiliki kompetensi untuk menjamin keselamatan penerbangan, tidak mengaitkan dengan kedaulatan negara sama sekali.

Satu hal lagi adalah untuk mengatur airspace memerlukan audit dari ICAO, sehingga negara negara memerlukan hal itu sebelum dinilai mampu baik dari sisi SDM maupun peralatan dan lainnya.

Dari segala sisi baik itu kedaulatan negara ataupun lainnya seperti hukum hingga martabat, keselamatan penerbangan adalah paling atas.

Penyesuaian FIR Singapore bagi penulis adalah tidak hanya sebagai tonggak sejarah aviasi kita tapi juga momentum kita untuk lebih mempersiapkan diri kedepan untuk mengatur semua sektor yang seharusnya masuk FIR Jakarta bila ingin melihat dari kedaulatan negara, kita harus membuktikan dan meyakinkan dunia bahwa kita mampu mengatur airspace atas dasar pertimbangan utama yaitu keselamatan penerbangan, seperti yang kita sudah buktikan pada Christmas Island dan Timor Leste.

Bukan kemauan pula kita untuk mengatur airspace di wilayah Timor Leste dan Christmas Island, namun ini pendelegasian dari ICAO kepada Indonesia, begitu pula halnya sektor di FIR Singapore 

Sehingga sah sah saja untuk mengedepankan kedaulatan negara, namun sebagai negara pada anggota komunitas dunia dan ICAO, bahasa Universal penerbangan yaitu Safety First menjadi yang terdepan dan teratas, walau demikian bila kita ingin meraih kedua nya diperlukan persiapan dari kita dahulu.


Referensi

Satu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun