Mohon tunggu...
Kevin William
Kevin William Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Football Enthusiast

Menimba ilmu hingga sejenius Guardiola, sambil memahat kata seindah Peter Drury.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Jerman Asik Main Politik, Lupa Main Bola

24 November 2022   19:31 Diperbarui: 3 Desember 2022   14:31 1332
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Timnas Jerman dengan gestur menutup mulut sebagai bentuk protes. (sumber: Twitter @brfootball)

Sebaliknya, apa tindakan dari negara barat yang menunjukan 'keberagaman dan saling menghormati'? Tidak bisa mengibarkan bendera pelangi, mereka mengeluh. Tidak bisa minum alkohol, mereka mengeluh. Tidak bisa memakai ban kapten tertentu, mereka mengeluh. Padahal, tidak ada satu pun dari hal-hal tadi yang esensial. Semuanya bisa ditahan dan seharusnya tidak akan jadi masalah.

Lagipula, apakah etis memprotes tuan rumah yang telah mempersilakan para peserta bermain di tanahnya dengan ideologi mereka masing-masing? Ibarat kita bertamu ke rumah orang lain yang punya acara, sudah dijamu dengan makanan dan minuman, lalu kita protes karena si tuan rumah tidak menyiapkan ayam goreng (misalnya) untuk kita. Sopankah begitu?

Dengan memprotes tuan rumah, justru mereka sendiri yang melanggar 'nilai-nilai' yang telah disebutkan tadi. Mungkin mereka harus belajar lebih banyak dari kapten Perancis, Hugo Lloris.

"Ketika kita di Perancis, saat kami menyambut orang asing, kami sering ingin mereka mengikuti peraturan kami, untuk menghormati budaya kami, dan saya akan melakukan hal yang sama saat saya pergi ke Qatar. Cukup sederhana. Saya bisa setuju atau tidak setuju dengan ide mereka, tapi saya harus menunjukan respek," kata Lloris mengenai dirinya yang sebelumnya telah menolak memakai ban kapten One Love.

Pernyataan dari kiper Perancis itu mungkin jauh lebih berarti dan masuk akal daripada foto menutup mulut.

Bicara soal saling menghormati, inilah yang dilakukan Antonio Rüdiger di lapangan semalam. Benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang dipegang timnas Jerman.


Lucunya, sudah berkoar-koar protes di media sosial, pada akhirnya kalah juga dari Jepang. Lalu apakah para penonton bola masih membanggakan foto dengan gaya menutup mulut tadi? Tentu tidak dong. 

Bukannya diapresiasi, malah dibuat meme oleh para netizen. Jadi buat apa menulis caption panjang-panjang dan merencanakan gaya di foto kalau tidak bisa menunjukan performa di lapangan? Mungkin tujuan awal mereka ke Qatar mau kampanye, bukan untuk main bola.

Malah, timnas Jepang lebih layak mendapat apresiasi di pertandingan kemarin. Setelah berhasil mengalahkan raksasa Eropa, mereka tidak jumawa dan meninggalkan ruang ganti dengan kondisi sangat rapi. Tanpa protes, tanpa berkoar-koar tentang nilai-nilai. Hanya aksi dan kerja keras.


Kepada timnas Jerman (dan negara-negara barat lainnya), sudahilah aksi badutmu. Kami hanya ingin menonton bola. Kami ingin melihat Der Panzer yang katanya akan secanggih Bayern Munchen di bawah Hansi Flick.

Tak usah memikirkan hal yang aneh-aneh. Fokus saja bermain bola-karena main bola saja di jaman sekarang sudah sulit. Fokus bagaimana cara mengalahkan lawanmu selanjutnya, Spanyol, yang dengan sadis telah membantai Kosta Rika 7-0. Fokus bagaimana caranya bisa lolos dari grup yang kini keliatannya cukup sulit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun