Humaniora

Gaya Hidup Materialisme dan Peran Tasawuf dalam Kehidupan Manusia

4 Oktober 2018   15:09 Diperbarui: 4 Oktober 2018   15:11 323 1 0

A

pa itu materialisme? Materialisme terdiri dari kata "materi" dan "isme". Materi dapat dipahami sebagai bahan,benda dan segala sesuatu yang tampak. Materialisme adalah pandangan hidup yang semata-mata hanya mencari kesenangan,kekayaan,dan benda-benda merupakan satu-satunya tujuan atau nilai tertinggi dan paling utama. Materialisme disamping itu juga mengesampingkan nilai-nilai rohani. Bahkan gaya hidup yang materialisme tidak mengetahui adanya sesuatu yang tidak dapat dilihat atau diraba atau tidak percaya adanya Tuhan, roh, hantu dan malaikat.

Materialisme sendiri dikenal sebagai faham atau sistem berpikir yang meyakini bahwa materi adalah satu-satunya keberadaan yang sesungguhnya atau mutlak dan menolak segala bentuk apapun yang berkaitan dengan selain materi.

Orang-orang yang hidupnya bergantung pada materi disebut "materialis". Orang-orang ini adalah orang yang mengusung suatu paham atau ajaran materialisme yang mementingkan harta,jabatan, uang dan lain-lain.

Gaya hidup materialisme saat ini sudah merajalela di kalangan manusia-manusia masa kini. Gaya hidup seperti ini menjadi ajang perlombaan untuk menunjukkan harta atau kekayaan yang dimiliki seseorang,semakin orang mengejar kesenangan dunianya semakin jauh pula orang-orang yang seperti ini dari Tuhan-Nya. Bahkan mereka cenderung meninggalkan urusan-urusan akhiratnya.

Ciri- Ciri Paham Materialisme :

  • Segala sesuatu yang ada (wujud) berasal dari satu sumber yang sama yaitu materi (ma'dah)
  • Orang-orang yang menganut paham materialisme tidak meyakini adanya alam ghaib.
  • Menjadikan panca indra sebagai satu-satunya alat untuk mencapai ilmu.
  • Menggantikan kecondongan perilaku manusia sebagai akhlak.
  • Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan suatu hukum.

Kritik terhadap materialisme :

Salah satu kritik terhadap paham materialisme dikemukakan oleh aliran filsafat eksistensialisme. Materialisme mengajarkan pada akhirnya manusia adalah sama dengan benda-benda lainnya. Tetapi bukan berarti manusia sama dengan tumbuhan atau benda-benda lain karena manusia pada hakikatnya lebih unggul dibandingkan yang lain. Akan tetapi, secara mendasar manusia hanya dipandang sebagai materi,yakni hasil dari proses unsur kimia. Padahal manusia memiliki totalitas-totalitas yang lebih dari makhluk lainnya yaitu dapat merasakan cemas,takut,khawatir dan lain-lain.

Apa Itu Tasawuf?

 Ada beberapa kata yang menjadi akar kata tasawuf diantaranya :

  • Ahl as-suffah merupakan istilah yang diterapkan kepada sahabat Nabi yang tinggal di serambi Mesjid.
  • Shafa' mengandung arti suci dan bersih, yakni orang-orang yang selalu berusaha menyucikan dirinya di hadapan Allah swt.
  • Shaf yang artinya barisan, yakni orang yang selalu berusaha berada dalam barisan terdepan untuk beribadah pada tuhannya.
  • Shaufi yang artinya kebijaksanaan, yakni orang-orang yang mengerti tasawuf akan mencintai sebuah kebijaksaan dalam hidupnya.
  • Shaufana, kata ini diistilahkan pada tumbuhan berbulu yang tumbuh dipadang pasir. Maksud dari berbulu ini adalah karena para sufi selalu
  • memakai baju dari kain wol tetapi bahannya masih kasar tidak seperti kain wol pada saat ini yang bertekstur lembut.
  • Dari segi istilah tasawuf adalah cara untuk menyucikan diri, meningkatkan akhlak dan membangun kehidupan jasmani dan rohani guna sampai pada hakikatnya sebagai manusia. Dalam arti yang lain tasawuf adalah menghindarkan diri dari dorongan hawa nafsu,hidup yang bermewah-mewahan,berbuat baik kepada sesama dan taat kepada Alloh swt serta mengikuti ajaran Rasulullah saw guna meraih hidup yang hakiki.

 

 Peranan Tasawuf dalam Mengatasi Gaya Hidup Materialisme

Tasawuf atau sufisme telah diakui dalam sejarah telah berpengaruh besar atas kehidupan moral dan spiritual Islam sejak ribuan tahun silam. Selama kurun waktu itu kehidupan tasawuf sangat melekat pada masyarakat terdahulu bukan hanya sebatas kelompok kecil atau perorangan. Seiring berjalan waktu kehidupan tasawuf mulai tergeser karena adanya paham materialisme yang semakin merajalela di Era Modern saat ini.

Dalam masyarakat modern yang cenderung terhadap sikap rasionalis, sekuler, dan materialis, ternyata tidak akan menambah ketenteraman dan kebahagiaan dalam hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hossein Nasr, menilai bahwa akibat masyarakat yang modern yang mengutamakan ilmu pengetahuan dan seperti menjadi budak oleh teknologi, berada dalam wilayah pinggiran dirinya sebagai manusia. Hal ini mengakibatkan kehampaan spiritual, yang akibatnya sekarang kita banyak menjumpai orang gila, stres, dan gelisah mengenai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya karena tidak mempunyai pegangan dalam hidup.

Semua perasaan-perasaan itu diakibatkan karena takut kehilangan semua apa yang telah dimilkinya di dunia seperti jabatan, harta, uang, dan lain-lain. Mereka tidak mampu mengontrol kondisi rohani dan spiritualnya sehingga menyebabkan mereka semakin jauh dengan Tuhannya.

Untuk itu alternatif yang sangat bagus adalah dengan mempelajari tasawuf, karena tasawuf dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan spiritual mereka. Tetapi dalam hal ini tasawuf bukan berarti menjauhkan manusia dari kenyataan ini, akan tetapi tasawuf adalah suatu usaha untuk membentengi diri dengan nilai-nilai rohaniah, sebab dalam tasawuf selalu dilakukan dzikir kepada Allah swt sebagai sumber motivasi dan nilai-nilai spiritual.

Tasawuf juga dapat melatih manusia memiliki ketajaman batin dan menjadikan manusia memiliki kehalusan budi pekerti dan selalu mempunyai pegangan dalam hidupnya sehingga manusia tidak mudah terhempas oleh kehidupan modern yang serba mewah dan menjunjung tinggi materi. Inilah sebagian kecil dari peran tasawuf untuk kehidupan manusia.

Imam Junaid al-Baghdadi : Studi atas Pemikiran Tasawufnya

Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim al-Junaid bin Muhammad al-Khazzaz al-Nihawandi. Ia dilahirkan di Kota Nihawand,persia. Orang tuanya adalah pedagang pecah belah. Ibunya adalah saudara kandung dari Sari as-Saqati (253 H/867 M), seorang tokoh sufi pada masa itu yang kemudian menjadi gurunya.

Dikatakan bahwa di antara para Sufi pada masanya, Junaid adalah seorang Sufi yang mempunyai wawasan yang luas terhadap ajaran tasawuf, dan mampu membahasa secara mendalam khususnya dalam pembahasan tauhid dan fana'.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2