Mohon tunggu...
Vika Kurniawati
Vika Kurniawati Mohon Tunggu... Wiraswasta - Freelancer

| Content Writer

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

[KJogGoes] Antara Mati Suri, Istana Yogyakarta dan Kopdar Pertama

29 Maret 2016   10:23 Diperbarui: 29 Maret 2016   13:51 295
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption caption="Kopdar pertama di Yogya. Sumber: Doc Hendra Wardana"][/caption]Dingin, sunyi dan membosankan adalah tiga kata menggambarkan kesan pertama Saya saat bergabung dalam grup facebook Kompasianer Jogja(KJog). Dan ternyata sekali tiga uang saat mojok di grup whatapp KJog, hedeh. Sebenarnya wajar karena hampir semua anggota mempunyai kesibukan masing-masing sehingga tidak 24/7 mengakses media sosial. Dan Saya sebagai tenaga rodi tambahan dari dunia fiksi mulai berusaha mencairkan suasana. Tidak mudah tapi perlahan mulai menghangat seperti kawasan Kaliurang yang berkurang sejuknya.

Berbekal misi dan visi (bahasa tingkat dewa) sedikit mendorong roda kegiatan KJog serta usulan dari Mas Hendra Wardana (salah satu sesepuh KJog walaupun belum sepuh) maka rencana kopi darat (Kopdar) pertama digulirkan. Istana Kepresidenan Yogyakarta dipilih sebagai tempat kencan para Kompasianer Jogja. Terima kasih pada Presiden Jokowi yang telah mengizinkan istana menjadi tujuan wisata yang baru di Yogyakarta.

 

[caption caption="Kopdar pertama di Yogya. Sumber: Doc Hendra Wardana"]

[/caption]Untuk sekadar informasi, pada masa pemerintahan sebelumnya tidak pernah ada warga negara sipil yang diperbolehkan menginjakkan kaki di gedung agung kecuali pada acara tertentu. Alhasil kunjungan ke istana kepresidenan menjadi salah satu yang ditunggu dan memang para Kompasianer Jogja bersemangat mendaftar. Riuh reda komentar dan pertanyaan mulai bermunculan, mulai dari menanyakan kode berpakaian hingga jam kami akan berkumpul. Periode mati suri sudah berakhir, KJog mulai menggeliat bahkan siap terbang. Ada nafas lega terasa seperti filsuf Tiongkok kuno, Lao Zi katakan, ''perjalanan panjang dimulai dari satu langkah."

Dan tibalah kami berkumpul di depan gedung agung ditemani gerimis yang konon romantis, tapi waktu itu mengkhawatirkan bagiku. Harap-harap cemas apakah semua anggota bisa berkumpul tanpa tersiram hujan. Syukurlah hangatnya matahari dan tiupan angin menyingkirkan awan penuh dengan air.

[caption caption="Kopdar pertama di Yogya. Sumber:Image: Doc Umi"]

[/caption]Setelah mengurus ijin masuk dengan mengisi data diri penanggung jawab maka kami mendapat kesempatan dipandu oleh satu staf khusus dari istana. Beliau menerangkan tiap detail bagian bahkan dengan sabar menjawab rentetan pertanyaan kami. Yah, bagaimana lagi, kepo adalah nama tambahan bagi para jurnalis.

Oya ada dua pengawal berpakaian safari biru yang turut mengawal, tentu bukan menjaga keselamatan kami namun menjaga tiap jengkal bagian istana dari usapan tangan pengunjung. Yah maklum semua benda di dalam istana masih dipergunakan dan mempunyai nilai sejarah.

[caption caption="Kopdar pertama di Yogya. Sumber:Image: Doc Hendra Wardana"]


[/caption]Suhu dalam istana sedikit membuat keringat kami bahkan staf bercucuran walau hanya tersampaikan melalui usapan di wajah. Sedikit mengherankan karena pintu dibuka lebar namun jika dilihat dari banyaknya lukisan berharga maka pemilihan suhu ruangan 27 derajat Celcius bisa dimaklumi. Lukisan asli dari Basuki Abdulah, Raden Patah dan beberapa maestro lain wajib dijaga keutuhannya. Saat sepatu menginjak lantai dua yang penuh dengan lukisan cat minyak (baik berbahan kanvas maupun karung goni),  kami berkesempatan mendapat kurasi dari Mas Kurniawan yang merupakan staf khusus lulusan dari ISI.

Penjelasaannya sangat detail walaupun diselingi candaan yang tak lepas dari pertanyaan kami. Beberapa anggota bahkan merekam penjelasaan Mas Kurniawan melalui gawai masing-masing. Hum...salah satu isi wishlist saya adalah bisa melihat secara dekat lukisan Raden Patah dan saat itu adalah kali kedua saya melihat lukisan "Berburu Banteng." Mudah-mudahan lukisan asli "Ditangkapnya Pangeran Diponegoro" bisa segera bisa saya saksikan secepatnya.

[caption caption="Kopdar pertama di Yogya. Sumber:Image: Doc Umi"]

[/caption]Acara kunjungan ke istana berlangsung sekitar dua jam yang kami awali dengan foto bersama ala kabinet dan diahkiri selfie gaya bebas. Dokumentasi memang diperlukan di setiap momen dalam hidup. Dan bukti berakhirnya mati suri KJog mulai bertumpuk. Nafas lega aku hembuskan. Langkah kami selanjutnya terarah ke resto Raminten yang berada di lantai tiga.

[caption caption="Kopdar pertama di Yogya. Sumber:Image: Doc pribadi"]

[/caption]Untungnya sandal gunung sudah tersenyum manis saat bertemu dengan kaki dan menggantikan sepatuku. Dengan perut berdendang kami menaiki memasuki pintu toko dengan disapa wangi bunga serta dupa. Jarum pendek sudah menunjukkan angka 11 dan hanya kami yang sibuk memesan makanan. Sedikit mengherankan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun