Mohon tunggu...
R.A. Vita Astuti
R.A. Vita Astuti Mohon Tunggu... Dosen - IG @v4vita | @ravita.nat | @svasti.lakshmi

Edukator dan penulis #uajy

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Memori

11 Mei 2022   21:24 Diperbarui: 16 Mei 2022   00:30 410
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Kita mau ke mana, Os?" Lea mulai bingung ketika Osa membawa mobil menjauh dari arah pondok tempat syuting. Arah ini belum pernah dia lewati selama beberapa hari di Sumba.

"Bikin memori, kita berdua akan bikin memori baru," kata Osa serius tanpa memandang ke arah Lea. "Aku ingin kamu melupakan apapun yang bikin kamu sedih di masa lalu. Biar kamu meninggalkan Sumba hanya ingat tentang kita, tentang sesuatu yang bikin kamu senang. Kita ke pantai, kamu kan senang ke pantai, Lea?"

"Berhenti, Osa," Lea tiba-tiba merasa sesak. Osa melakukan sesuatu yang tidak diduganya. "Kamu tidak perlu melakukan ini. Udah, kita kembali ke pondok, jangan sampai Iva menelponku."

"Aku akan berhenti dan kembali kalau kamu berjanji tidak akan melamun lagi," Osa sempat memandang ke arah Lea ketika mereka berhenti di lampu merah. Dia lihat wajah Lea geram padanya.

"Itu bukan urusanmu, Osa. Bukan tanggung jawabmu. Aku mau melamun atau senang, itu hidupku. Kembali, Osa," Lea mulai marah. Entah dia mulai merasa tidak nyaman dan gerah. Dia ingin sendiri, ingin hanyut dalam pikirannya sendiri yang dihadirkan oleh Sumba dan suasananya. 

"Tidak bisa," Osa keras kepala. Mobil dia bawa jalan terus, melanjutkan perjalanan ke pantai di Sumba yang menurutnya paling indah. Dia sudah sering syuting di Sumba dan pantai ini membuatnya merasa di dunia lain, membuatnya refresh karena sudah mendapatkan hiburan.

Tiba-tiba Osa merasa aneh. Lea diam saja, tidak ada suara di sampingnya. Mobil dia pelankan ketika jalanan sepi, dia lihat di belakang tidak ada kendaraan lain, Osa menoleh ke samping, ke arah Lea.

"Kamu menangis?" Osa kaget setengah mati. Selama ini dia hanya mengenal Lea yang selalu riang, atau pahitnya marah, bukan sedih dan menangis. Dia lihat ada aliran air mata berlinang di pipi Lea, berkilat kena cahaya lampu jalan.

Akhirnya Osa menepikan mobilnya. Dia tidak lagi marah, tapi cemas dan khawatir pada kondisi Lea. Dia menyesal telah memaksa cewek itu untuk ikut ke Sumba. Bisa-bisa cita-citanya untuk mengubah memori Lea bisa gagal total atau malah menambah memori buruk.

Anehnya, Lea tidak terisak tapi linangan air mata sepertinya deras mengalir dan sama sekali tidak ada usaha Lea untuk menghapusnya. Pandangan cewek itu dari tadi ke arah luar jendela mobil. Osa bingung harus ngapain. Cewek itu tetap diam.

"Lea," Osa merasa harus berhati-hati berinteraksi dengan Lea yang sangat rentan saat ini. Dia tidak siap menghadapi Lea yang sedih dan menangis. Biasanya cewek ini menjadi tempat curhatnya, penghiburannya, bahunya siap menanggung segala keluh kesahnya, Bukan kebalikannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun