Mohon tunggu...
Uli Elysabet Pardede
Uli Elysabet Pardede Mohon Tunggu... Karyawan Swasta -

Inspirasiku dalam menulis adalah lagu indah, orang yang keren perjuangannya, ketakutanku dan hal-hal remeh-temeh yang mungkin saja bisa dibesarkan atau dipentingkan… Tuing! blog : truepardede.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bayangan yang Tersenyum

26 Februari 2017   21:23 Diperbarui: 27 Februari 2017   06:00 334
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sudah jam 8 malam, hujan baru saja berhenti. Udin tersenyum sumringah mengintip dari balik jendela. Dia segera membuka pintu rumahnya yang reot dan segera memakai sendalnya yang butut. Samiyem istrinya berteriak dari dalam rumah memanggil Udin.

"Mas! Kemana toh, Mas?"

"Beli rokok sebentar..." Jawab Udin sambil berjalan menjinjit membelah jalanan becek di perkampungan kumuh itu.

Walau hujan masih rintik-rintik, Udin tetap bertahan pergi ke warung demi rokok yang belum dihisapnya sehari karena hujan. Padahal dari rumah Udin ke warung rokok Mang Mamai sekitar 500 meter. Sesekali Udin mengigil kedinginan diterpa angin malam. Jalanan sepi sekali.

Tiba-tiba Udin menoleh ke arah rumah Nenek Mumun. Nenek Mumun biasa duduk-duduk di depan rumahnya sambil melihat orang-orang yang berseliweran. Terkadang Nenek Mumun bertegur sapa dengan orang-orang yang lewat. Kasihan dia kesepian. Suaminya sudah meninggal dari setahun yang lalu. Udin melemparkan senyuman ke arah Nenek Mumun, Nenek Mumun pun membalasnya. Udin menoleh lagi sambil mengernyitkan dahi, Nenek Mumun tetap membalas dengan senyuman. Ada yang aneh, tapi Udin bingung entah apa.

Udin pun hampir tiba di warung Mang Mamai. Langkahnya dipercepat, karena tiba-tiba hujan turun lagi dengan derasnya. Mang Mamai terlihat terkantuk-kantuk di dalam warung kecilnya. 

"Mang... Mang..." panggil Udin. 

"Eh..." Mang Mamai terbangun dari mimpinya dan masih gelagapan. "Udin... Apaan?"

"Rokok, Mang..." Kata Udin.

"Bon lagi?" Mang Mamai menatap dengan curiga.

"Pastinya dong... Hehehe..." Tawa Udin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun