Mohon tunggu...
Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung Mohon Tunggu... Wiraswasta - Kompasioner sejak 2012

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Apa Perbedaan Antara Mengajak Berpikir dengan Mendoktrin?

9 Januari 2019   09:41 Diperbarui: 7 Juli 2021   19:09 1208
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Apa Perbedaan Antara Mengajak Berpikir dengan Mendoktrin? (Images : md.podcast.org)

Contoh; betapa penguasa Korut atau penguasa komunis Sovyet itu mengkonsep sebuah masyarakat-warga negara yang harus se ideologi-satu pandangan dengan penguasa dan menuntut kesetiaan tanpa syarat kepada penguasa. 

Bagi yang berbeda pandangan dan apalagi yang memposisikan diri sebagai oposisi yang berseberangan itu akan dianggap sebagai musuh secara politik dan bukan rahasia kalau di negara negara komunis itu banyak terdapat tahanan politik yaitu orang orang yang dianggap berbahaya secara politik dan tidak sedikit yang dihabisi. 

Walau partai atau ideologi Komunis sekarang bisa memakai jubah demokrasi seperti di Perancis tetapi setelah masuk kedalamnya maka nuansa indoktrinasi akan tetap terasa

Nah dalam kondisi yang tertekan karena ada rasa takut kepada penguasa dan lalu memilih mencari aman dalam rangka menjalani kehidupan itulah maka masyarakat negara komunis misal rela menelan mentah mentah indoktrinasi politik yang didoktrinkan penguasanya tanpa banyak bertanya kepada nurani serta akal nya perihal kebenaran dari apa yang di doktrinkan itu 

Sedang orang yang menggunakan nurani serta akal nya dan menemukan ketidakbenaran dari apa yang di doktrinkan penguasa maka mereka banyak yang menjadi musuh politik penguasa dan banyak yang menjadi individu yang dikejar kejar bila mereka berhasil melarikan diri ke luar negeri

Coba berkotbah perihal ajakan penggunaan nurani dan akal kepada warga negara komunis mungkin itu suatu yang asing bagi mereka,sedang bagi masyarakat beragama itu bukan suatu yang asing sebab pada tiap kotbah sering menjadi tema yang dibahas

Banyak orang yang masuk kepada agama Ilahi dengan sukarela-atas kesadarannya sendiri-bukan karena paksaan dan itu terjadi setelah sebelumnya mereka mengeksplorasi nurani serta akalnya untuk berpikir dan lalu menemukan ada kebenaran didalamnya. 

Kitab suci agama Ilahi sendiri menyatakan bahwa tak ada pemaksaan dalam agama artinya orang beragama itu harus dengan dan melalui kesadaran sendiri-bukan melalui indoktrinasi yang berarti pemaksaan, 

artinya harus melalui alur berpikir bebas yang meniscayakan penggunaan nurani-akal tapi coba analisis adakah orang yang setelah merenung-menghayati secara mendalam dengan menggunakan nurani-mata hati-akal sehat dan lalu secara sadar masuk kedalam pelukan komunisme dan mengakui kebenaran nya misal ?

Aspek lain yang membuat orang mudah terindoktrinasi selain faktor ketakutan adalah faktor kekaguman atau ketertakjuban. Seseorang takjub-kagum dan lalu cenderung mengkultuskan seseorang atau sesuatu sehingga nurani dan akal nya tidak jalan dan pikirannya tersihir sehingga tanpa sadar masuk ke pelukan indoktrinasi

Dan intinya itulah kelemahan manusia ada dalam rasa perasaannya dimana rasa perasaan manusiawi itu bisa dihinggapi rasa takut,rasa takjub,perasaan ingin hidup aman-tenang dlsb. Dan itu semua dapat menjadi latar belakang yang memudahkan terjadinya proses indoktrinasi dalam diri manusia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun