Mohon tunggu...
Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung Mohon Tunggu... Wiraswasta - Kompasioner sejak 2012

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Ketika Dogma Bermetamorfosa Menjadi Kebenaran

6 Agustus 2018   21:23 Diperbarui: 7 Agustus 2018   05:16 457
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Images : merdeka.com

Tetapi sesuatu akan terus menampakkan diri sebagai hanya sebuah 'dogma' manakala ia dibiarkan terus tertutup dan tidak ada upaya ilmiah untuk mendalaminya secara sungguh sungguh. sehingga apakah sesuatu itu sebuah dogma ataukah bukan itu bisa bergantung pada bagaimana orang memandang atau memahaminya.sehingga bagi seseorang sesuatu itu dianggap dogma tetapi tidak demikian bagi orang lain yang telah dapat memahami konstruksi atau argument ilmiah nya

Atau dengan kata lain, sesuatu bukan lagi merupakan sebuah dogma bagi seseorang apabila ia telah dapat menemukan argument ilmiah dibalik nya atau telah dapat me logika kan nya atau telah memahami makna di baliknya dan akan tetap sebagai dogma bagi orang orang yang tidak memahami argument ilmiah atau makna dibaliknya

Contoh nyata yang persis pernah saya alami dalam pengalaman hidup :

Dulu saat masih kecil konsep 'sorga-neraka' atau konsep 'balasan akhirat' itu saya terima sebagai doktrin dan untuk beberapa waktu ia tersimpan sebagai sebuah 'dogma' dalam ingatan sampai saya dewasa dan saya menghadapkannya dengan beragam realitas kenyataan kehidupan

Dalam realitas ternyata kehidupan tidaklah seindah masa kecil,setelah dewasa saya mulai melihat serta merasakan menyakitkannya sebuah kejahatan yang dilakukan manusia apakah itu terhadap diri saya pribadi maupun terhadap orang lain.tetapi faktanya orang yang telah melakukan kejahatan terhadap saya atau orang lain itu dapat menghilang begitu saja mungkin tanpa pernah merasakan pembalasan dari apa yang pernah dibuatnya atau mungkin tanpa ada rasa penyesalan sama sekali atau bahkan merasa puas bahwa perbuatannya itu telah menyebabkan orang lain menderita

Bahkan bila kejahatan itu menimpa orang lain saya pun merasakan efek kemarahan dan dendam yang sama seolah hal itu saya bayangkan terjadi pada diri saya.dan bayangkan hampir tiap hari saya disuguhi berita kriminal. dan kebencian terhadap kejahatan itu telah menjelma menjadi suatu yang permanen dalam hati saya,walau bukan berarti saya berhak mengklaim sebagai orang suci

Di sisi lain saya pun merasa sakit hati melihat orang orang yang telah mengorbankan diri berbuat kebaikan tetapi yang ia dapatkan adalah pembalasan yang tidak setimpal dari sesamanya

Nah dari pengalaman bergumul dengan pengalaman seperti itulah maka saya mulai merindukan konsep keadilan universal yang dapat mengadili semua amal perbuatan manusia dimana setiap orang dapat menyesali semua amal perbuatan buruknya dan bersyukur atas semua perbuatan baik yang telah mereka lakukan walau mereka memperoleh balasan yang sebaliknya dari sesamanya

Dan pengalaman saya dengan hal hal yang berkaitan dengan agama bukan sebatas konsep sorga neraka saja.tetapi juga banyak hal lain.saya pernah misal merasakan keadilan konsep hukum waris cara islam dimana laki laki berhak memperoleh dua bagian dari perempuan.karena dengan memperoleh dua bagian itu saya dapat menggunakannya sebagai modal usaha sedang saudara perempuan saya mungkin hanya menggunakannya untuk beli perhiasan dll. karena urusan biaya hidup mereka ditanggung oleh suaminya masing masing

Orang luar mungkin akan menganggap argument yang saya ungkapkan berkaitan dengan agama diatas hanyalah sebentuk 'pembenaran' dari apa yang saya percayai atau dari doktrin agama yang saya pegang. tetapi soal tuduhan demikian maka saya pun tak boleh balik memvonis dan tidak boleh secara emosional menyikapinya.hal terkait tuduhan tersebut harus saya dalami dan saya balikkan kepada kejujuran nurani terdalam diri sendiri karena keyakinan akan kebenaran itu bukan buat orang lain tapi untuk masing masing pribadi

Sayapun tak perlu ngotot berupaya memproklamirkan kehadapan publik bahwa pengalaman saya berhasil membuktikan konsep konsep agama yang saya yakini sebagai 'kebenaran' karena saya pun sadar belum tentu orang mengalami hal yang persis sama dengan yang saya alami. kejahatan itu dilihat dan ada dalam pengalaman semua orang tetapi belum tentu semua orang membencinya dan belum tentu juga yang membencinya juga mendalaminya secara lebih jauh serta menghubungkannya dengan konsep pembalasan akhirat

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun