Mohon tunggu...
TYAS MAGHFIRAHWAHIDATUN
TYAS MAGHFIRAHWAHIDATUN Mohon Tunggu... Mahasiswa - Tyas Maghfirah Wahidatun U

Tyas Maghfirah

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

UIN Malang Meningkatkan UMKM Rengginang sebagai Sentra Industri Desa Sambigede Kabupaten Malang di Masa Pandemi

6 Februari 2022   19:24 Diperbarui: 6 Februari 2022   19:41 712
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saya Tyas Maghfirah Wahidatun Utama, mahasiswa jurusan pendidikan agama islam angkatan 2019 dari kelompok KKM 48 menjadi peserta KKM-DR UIN Mengabdi 2021-2022 yang berlokasi di Desa Sambigede Kabupaten Malang.

Desa yang dijuluki sebagai sentra rengginang ini terletak di Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Sumberpucung. Desa ini memiliki luas sekitar 2963 hektar. Sebagian besar mata pencaharian utama masyarakat di desa ini adalah petani dan peternak, hal ini didukung oleh saluran irigasi yang baik serta lahan yang besar. 

Desa ini memiliki banyak ikon mulai dari bon watu sebagai wisata pemancingan, sentra papaya kalifornia, sentra rengginang, dan lain sebagainya. Namun ikon yang paling terkenal dari Desa Sambigede adalah rengginang khasnya. Rumah industri rengginang sangat menjamur di desa ini, bahkan Desa Sambigede dijuluki sebagai sentra industri rengginang Kabupaten Malang.

Rengginang merupakan makanan yang berjenis kerupuk terbuat dari beras ketan dan berbentuk bulat. Rengginang didesa ini diproduksi dalam bentuk kering atau masih perlu proses penggorengan dan ada juga yang sudah siap makan. Di desa ini terdapat kurang lebih 80 produsen rengginang, akan tetapi sejak 2019 produsen rengginang mulai menyusut hingga menjadi 30 produsen. Hal ini diakibatkan oleh dampak Covid-19. 

Dengan diterapkannya PPKM membuat produsen kesulitan untuk mengirimkan produknya kebeberapa wilayah terlebih wilayah diluar Kabupaten Malang karena diperbatasan setiap daerah dijaga ketat oleh petugas. 

Selain dampak Covid-19 produksi rengginang mengalami penurunan cukup drastis dikarenakan besarnya permintaan lebih kecil dari penawaran sehingga banyak rengginang yang gagal dalam pemasaran  dan membuat beberapa produsen berhenti melakukan produksi. 

Dari pembahasan diatas mahasiswa KKM-DR kelompok kerja Danurdara berusaha mengembalikan pasar rengginang pasca Covid-19 yang dapat memungkinkan produsen mulai melakukan produksi kembali.

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan bersama Bapak Suparliyanto selaku salah satu produsen rengginang di Desa Sambigede, produksi rengginang pada masa pandemi mengalami penurunan yang cukup drastis. Sebelum pandemi Pak Suparliyanto mampu memproduksi hingga 100 kwintal rengginang, akan tetapi saat ini hanya memproduksi sekitar 25-30 kg rengginang. Pak Suparliyanto mengirimkan produksi rengginangnya mulai dari Poncokusumo, Tumpang, Tajinan, Blitar, Kediri, bali bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. 

Untuk satu kemasan rengginang dijual dengan kisaran harga 10 ribu rupiah. Rengginang ini dapat bertahan hingga 1 tahun lamanya tergantung proses penyimpanan, jika penyimpan ditempat yang kering dan tidak lembab maka rengginang akan tidak mudah berjamur dan sebaliknya jika disimpan ditempat yang lembab maka rengginang akan jauh lebih mudah berjamur sehingga tidak dapat dikonsumsi.

Proses pembuatan rengginang Bapak Suparliyanto dimulai pada pukul 3 dini hari, kegiatan diawali dengan menanak beras ketan. Rengginang yang enak berasal dari beras ketan yang asli atau tidak dicampur dengan beras biasa. Banyak produsen diluar sana yang mencapur beras ketan dengan beras biasa hal ini dapat menyebabkan rengginang menjadi keras. 

Setelah selesai memasak beras ketan, hal yang dilakukan selanjutnya yaitu memberikan varian rasa, rengginang yang diproduksi oleh pak Suparliyanto memiliki berbagai rasa mulai dari original, udang, terasi, dan ketan hitam. Setelah memberikan variasi rasa, rengginang siap dicetak. Cetakannya sendiri terdapat cetakan besar dan kecil. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun