Mohon tunggu...
Tuhombowo Wau
Tuhombowo Wau Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

tuho.sakti@yahoo.co.uk

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Usulan Sekolah Cukup 3 Hari dari Kak Seto Menarik, Tapi...

5 Desember 2019   02:37 Diperbarui: 5 Desember 2019   02:38 1585
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi | Gambar: KOMPAS.com

Ambil contoh di Finlandia, salah satu negara yang diakui punya kualitas pendidikan terbaik di dunia. Mirip dengan gagasan Kak Seto, negara itu telah menerapkan yang namanya efektifitas belajar.

Jumlah hari belajar tiap minggu di Finlandia tetap 5 hari, sementara jam belajar berkisar 4 sampai 5 jam per hari, dan tidak ada PR. Artinya di sini usulan Kak Seto sebagian melampaui apa yang diterapkan di Finlandia.

Bisakah sekolah-sekolah di Indonesia mengadopsi (menerapkan) sistem serta pola pendidikan homeschooling Kak Seto dan sekolah di Finlandia? Jawabannya, pasti mampu. Yang penting ada kemauan, kemampuan, dan persiapan. 

Mengenai kapan mulai diterapkan dan apakah berlaku serentak di seluruh sekolah, pemerintah (Mendikbud) yang berhak menentukan, karena memang cukup banyak yang perlu dipertimbangkan. Berikut beberapa pertimbangan itu yang mestinya juga dipahami oleh Kak Seto saat ini.

Pertama, homeschooling Kak Seto didirikan dengan konsep berbeda, tidak seperti sekolah-sekolah formal pada umumnya. Dinamika perjalanannya selama 13 tahun juga pasti naik-turun. Maksudnya, merubah budaya di sekolah formal tampaknya agak sulit karena sudah mengakar lama.

Kedua, tidak semua sekolah sanggup bekerjasama dengan lembaga pendidikan luar negeri, semisal homeschooling Kak Seto dan Universitas Cambridge. Kerjasama tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Jangankan biaya untuk kerjasama; pengadaan fasilitas, sarana dan prasarana memadai di setiap sekolah di Indonesia saja belum merata. Ratusan ribu sekolah kondisi fisiknya tidak sama.

Ketiga, Kak Seto perlu menyadari bahwa pendidikan di Finlandia bisa maju bukan semata terletak pada faktor efektifitas jadwal belajar. Di Finlandia, kondisi dan perlengkapan fisik sekolah sama, makanya di sana tidak ada label sekolah favorit atau unggulan. Artinya semuanya memang unggul.

Kelebihan lain dari Finlandia yakni, seluruh biaya pendidikan gratis. Bukan cuma uang sekolah, pemerintah Finlandia menanggung biaya (menyediakan) makan siang, transportasi dan kesehatan para pelajar. Sanggupkah pemerintah Indonesia melakukan itu, termasuk ke sekolah-sekolah swasta?

Keempat, guru atau tenaga pendidik di Finlandia sangat amat berkualitas, makanya di sana sulit menjadi guru. Mengapa? Karena seleksinya ketat, mulai dari nilai, integritas, semangat mengajar, hingga karya apa yang bisa menunjang pendidikan di Finlandia.

Para guru di Finlandia minimal memiliki gelar master dan merupakan 10 besar lulusan terbaik dari universitas asal. Oleh karena itu, imbalan atau upah yang diterima para guru pun tidak main-main, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta (rupiah) per bulan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun