Mohon tunggu...
Tuhombowo Wau
Tuhombowo Wau Mohon Tunggu... Penulis

You can teach a turkey to climb a tree, but it's easier to hire a squirrel to do it. - Lyle Spencer

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Memek" dan "Kontool", Dua Nama Viral yang Wajib Dipahami dengan Benar Warga Indonesia

4 September 2019   14:58 Diperbarui: 4 September 2019   15:15 0 4 0 Mohon Tunggu...
"Memek" dan "Kontool", Dua Nama Viral yang Wajib Dipahami dengan Benar Warga Indonesia
Proses pembuatan Kuah Beulangong, makanan khas Aceh yang disajikan gratis dalam Festival Kopi dan Kuliner Aceh 2016 di Banda Aceh, Aceh, Rabu (11/5/2016). Pemerintah Provinsi Aceh bersama Pemerintah Kota Banda Aceh menyelenggarakan Festival Kopi dan Kuliner Aceh 2016 pada 10-12 Mei 2016 untuk semakin memperkenalkan kopi dan kuliner Aceh ke wisatawan.(KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH)

Beberapa hari ini, warga jagat maya terpaksa menghadapi 'ujian' mental yang cukup berat. Mereka harus mampu mengendalikan pikiran dan menambah wawasan agar tidak salah memahami dua istilah berikut, yaitu "memek" dan "kontool".

Tampak kompak hadir, kedua istilah tersebut menghiasi media sosial dan menjadi topik pembicaraan viral para netizen. Yang lebih awal muncul adalah "memek", baru kemudian "kontool".

Bila tidak punya pengendalian diri yang tinggi dan pengetahuan cukup, seseorang pasti menilai kedua-duanya negatif, karena identik dengan alat kelamin, seperti yang dipahami sebagian besar masyarakat Indonesia. Yang satu untuk wanita dan yang lainnya untuk pria.

Nah, daripada gagal paham, alangkah baiknya jika kita bahas lebih jelas apa itu "memek" dan "kontool" (huruf O harus dobel).

"Memek" adalah makanan khas warga Pulau Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang sudah dinobatkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia.

Sebutan "memek" berasal kata "mamemek" yang artinya mengunyah beras. Kata itu merupakan ujaran bahasa sehari-hari masyarakat Pulau Simeulue. Indonesia cukup beragam, mulai dari suku, ras, agama, budaya, dan bahasa. Jadi kata "memek" yang selama ini diidentikkan negatif tidak boleh diberlakukan sama di semua wilayah.

Memek makanan khas Aceh yang dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia (sumber gambar: KOMPAS.com)
Memek makanan khas Aceh yang dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia (sumber gambar: KOMPAS.com)
Bahan utama pembuatan "memek" yaitu pisang, beras ketan, dan santan. Sedangkan bahan tambahan lainnya yakni gula dan garam. Cara membuatnya cukup mudah, antara lain beras ketan (atau pulut) digongseng atau disangrai, lalu pisang matang dihancurkan sampai lumat tapi masih bertekstur kasar.

Untuk menghancurkan (menghaluskan) pisang, alat yang biasanya digunakan adalah pelepah pisang sendiri. Kalau sudah halus, pisang disiram santan yang sudah kian panas. Selanjutnya ditambahkan gula dan garam.

Kemudian pisang yang sudah tercampur ditaburi beras ketan sangrai. Begitulah cara membuat "memek". Cukup sederhana, bukan? Bagi yang tertarik, sila dicoba di rumah. Jadi tidak perlu jauh-jauh pergi ke Aceh hanya untuk menikmati "memek".

Selain disajikan untuk para tamu dan dijual di sekitar destinasi wisata atau kafe-kafe dengan harga per porsi Rp 5.000, "memek" juga dijadikan sebagai makanan saat berbuka puasa karena rasanya yang manis dan gurih.

"Hari ini memek dapat dijumpai di destinasi-destinasi wisata dalam sajian makanan khas, antara lain menek, rabaha batok, tabaha longon, sanggal batok, lompong batok, kule tafee, dan lainnya," ujar Abdul Karim, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simeulue (1/9/2019).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x