Mohon tunggu...
Tuhombowo Wau
Tuhombowo Wau Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

tuho.sakti@yahoo.co.uk

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Memek" dan "Kontool", Dua Nama Viral yang Wajib Dipahami dengan Benar Warga Indonesia

4 September 2019   14:58 Diperbarui: 28 Juni 2021   18:58 1036
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beberapa hari ini, warga jagat maya terpaksa menghadapi 'ujian' mental yang cukup berat. Mereka harus mampu mengendalikan pikiran dan menambah wawasan agar tidak salah memahami dua istilah berikut, yaitu "memek" dan "kontool".

Tampak kompak hadir, kedua istilah tersebut menghiasi media sosial dan menjadi topik pembicaraan viral para netizen. Yang lebih awal muncul adalah "memek", baru kemudian "kontool".

Bila tidak punya pengendalian diri yang tinggi dan pengetahuan cukup, seseorang pasti menilai kedua-duanya negatif, karena identik dengan alat kelamin, seperti yang dipahami sebagian besar masyarakat Indonesia. Yang satu untuk wanita dan yang lainnya untuk pria.

Nah, daripada gagal paham, alangkah baiknya jika kita bahas lebih jelas apa itu "memek" dan "kontool" (huruf O harus dobel).

"Memek" adalah makanan khas warga Pulau Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang sudah dinobatkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia.

Baca juga : Paradoks Kebijakan di Aceh: Toleransi Identitas Beragama

Sebutan "memek" berasal kata "mamemek" yang artinya mengunyah beras. Kata itu merupakan ujaran bahasa sehari-hari masyarakat Pulau Simeulue. Indonesia cukup beragam, mulai dari suku, ras, agama, budaya, dan bahasa. Jadi kata "memek" yang selama ini diidentikkan negatif tidak boleh diberlakukan sama di semua wilayah.

Memek makanan khas Aceh yang dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia (sumber gambar: KOMPAS.com)
Memek makanan khas Aceh yang dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia (sumber gambar: KOMPAS.com)
Bahan utama pembuatan "memek" yaitu pisang, beras ketan, dan santan. Sedangkan bahan tambahan lainnya yakni gula dan garam. Cara membuatnya cukup mudah, antara lain beras ketan (atau pulut) digongseng atau disangrai, lalu pisang matang dihancurkan sampai lumat tapi masih bertekstur kasar.

Untuk menghancurkan (menghaluskan) pisang, alat yang biasanya digunakan adalah pelepah pisang sendiri. Kalau sudah halus, pisang disiram santan yang sudah kian panas. Selanjutnya ditambahkan gula dan garam.

Kemudian pisang yang sudah tercampur ditaburi beras ketan sangrai. Begitulah cara membuat "memek". Cukup sederhana, bukan? Bagi yang tertarik, sila dicoba di rumah. Jadi tidak perlu jauh-jauh pergi ke Aceh hanya untuk menikmati "memek".

Baca juga : Kopi Aceh Tanpa Ganja

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun