Mohon tunggu...
Tubagus Encep
Tubagus Encep Mohon Tunggu... profesional -

Asal Pandeglang, Kakek 1 Cucu, belajar mengajar di madrasah dan ingin terus belajar............E-mail: tebe.ncep@gmail.com, Twitter: @TebeNcep IG: tubagusencep

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Mengunjungi Solo Gratis, Berkat Menulis

27 Juni 2014   03:59 Diperbarui: 18 Juni 2015   08:42 45
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sebuah kemanjaan berikutnya yang diberikan Deltomed pada kompasianer lewat pemilihan rumah inap yang tenang dan jauh dari kesan formil dibandingkan bila menginap di sebuah hotel.

Kopi yang penulis seduh belum juga mendingin seusai salat maghrib, ditimpali obrolan santai tentang tulisan dengan mas Thamrin Sonata. Tiba-tiba penulis dikejutkan dengan kedatangan beberapa kompasianer Solo mulai dari Tante paku disusul kemudian Mbak Niken yang biasa menulis perihal anak Jokowi selanjutnya disusul ibu Sri beserta suaminya.

Diskusipun kian ramai dengan kehadiran sahabat-sahabat kompasianer Solo, tentu saja masalah capres Jokowi menjadi obrolan hangat malam itu.

[caption id="attachment_330932" align="aligncenter" width="404" caption="Restoran Goela Klapa, Solo. (dokpri)"]

14037877891481507603
14037877891481507603
[/caption] Restoran Goela Klapa, Manahan, Pukul: 19.30-21.00 wib.

Dengan izin ibu Agatha Nirbanawati seyogyanya kompasianer Solo bisa menemani makan malam rombongan tur, namun mereka menolak halus dan mempersilahkan kami untuk menikmati santap malam di sebuah restoran yang terletak di daerah Manahan tersebut.

Goela Klapa, begitulah tulisan yang terbaca pada atas gerbang utama restoran tersebut. Gedung yang bercat putih ini membuka ingatan penulis akan sebuah artikel Kompas Minggu tentang liputan kumpulan komunitas onthel Solo yang sering berkumpul di restoran ini. Aha, kini penulis berada dan akan memasuki tempat yang dulu hanya dikenal lewat tulisan reportase harian kompas. Thank.. Deltomed.

Restoran yang mengandalkan cita rasa tradisional Indonesia ini memang pantas menjadi pilihan, bukan saja karena rasanya yang akrab dengan lidah lokal namun harganya pun tidak terlalu menguras kantong bagi yang berkantong pas-pasan. Harga pasaran namun penampilan dan olahannya sekelas restoran berbintang.

Lihatlah di sana ada sate ayam khas Goela klapa, Garang Asem, Nasi Bakar Kendi dan banyak macam lainnya, serta minuman-minuman khas Nusantara namun ditata dengan ala restoran bintang lima.

Sayang kedatangan rombongan kompasianer di malam hari sehingga tidak menemukan dua penjaga pintu (doorman) yang biasanya berpakaian ala serdadu Belanda berdiri menyambut kedatangan tamu. Tampak beberapa kompasianer memuaskan diri dengan berfoto ria di depan restoran bersenjatakan bedil ala jaman penjajahan, mungkin melampiaskan diri karena tak sempat bertemu dengan serdadu Belanda yang biasanya berdiri di pintu restoran.

[caption id="attachment_330933" align="aligncenter" width="640" caption="Candi Cetho dilihat dari undakan atas (dokpri)"]

1403788341933879432
1403788341933879432
[/caption] Candi Cehto, Kemuning Karang-Anyar Pukul: 09.00-11.00 wib.

Terletak di puncak Gunung Lawu dan berada di ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut, Candi Cetho menyiratkan kekaguman penulis akan kehebatan nenek moyang Indonesia di masa lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun