Tria Indah S
Tria Indah S Freelance

Masih belajar menangkap kegelisahan untuk dituangkan menjadi tulisan

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Tradisi Ketupat Hari Raya

15 Juni 2018   00:47 Diperbarui: 15 Juni 2018   01:04 492 1 0
Tradisi Ketupat Hari Raya
dokumen pribadi

Gema malam takbir berkumandang menandakan esok hari tiba waktunya Hari Raya Umat Islam berlebaran. Kesibukan hilir mudik di jalan, bersegera ke kampung halaman. Iring-iringan pawai berkeliling kota menabuhkan takbir berdendang. Langit pun tak luput dari keramaian, warna warni kembang api yang diluncurkan menambah semarak malam.

Dirumah rumah sudah kelelahan menyiapkan santapan makan, mulai dari opor ayam, sambal goreng, hingga ketupat khas lebaran. Ketupat yang biasa disajikan ternyata memiliki arti filosofi yang mendalam.

Dahulu Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa. Dalam filosofi Jawa, Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau Kupat merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku Lepat artinya mengakui kesalahan dan diimplementasiakan dalam Tradisi sungkeman, dengan melakukan itu mengajarkan pentingnya menghormati orang tua bersikap rendah hati hingga memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Laku Papat artinya empat tindakan. Lebaran (menandakan usainya waktu puasa). Luberan (Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah kepada fakir miskin untuk mengeluarkan zakat fitrah). Leburan (Melebur atau sudah habisnya dosa dan kesalahan sehingga harus saling memaafkan). Laburan (Asal kata Labur yang berarti penjernih/pemutih, maksudnya agar setiap manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin)

Selain itu Ketupat yang biasa kita lihat, memiliki makna juga mulai dari bungkusannya menggunakan  janur (bahasa Arab "Ja'a nur" artinya telah datang cahaya). Dari bentuk fisik ketupat yang segiempat diibaratkan hati manusia. Ketika seseorang sudah mengakui kesalahan maka hatinya diibaratkan seperti kupat yang dibelah, saat dibuka isinya putih bersih diibaratkan hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? Karena hati nya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).

Walaupun ketupat memiliki arti yang begitu mendalam, namun tanpa ketupat pun kita tetap harus saling memaafkan satu sama lain. Seyogyanya pada hari raya idul fitri, merupakan bentuk dari kemenangan dalam menggapai kesucian dan kembali pada keadaan fitrah  (suci tanpa dosa) lahir dan batin.