Boris Toka Pelawi (Bang Bo)
Boris Toka Pelawi (Bang Bo) karyawan swasta

IG: BORIS TOKA PELAWI

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup highlight headline

Bangun Keluarga yang Positif Lewat Grup WhatsApp

9 Agustus 2017   23:05 Diperbarui: 10 Agustus 2017   10:04 524 10 5
Bangun Keluarga yang Positif Lewat Grup WhatsApp
Sumber Gambar (Playbuzz)

Cukup menantang, saat Pemerintah, dalam hal ini Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengajak Kompasianer untuk berbagi cerita dan pengalaman membangun keluarga yang berketahanan dan berkarakter nasional dengan bijak dalam menggunakan media sosial. BKKBN sendiri dimulai dari pembentukan Perkumpulan Keluarga Berencana pada tanggal 23 Desember 1957 di gedung Ikatan Dokter Indonesia. Saat itu namanya masih Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Ketika itu PKBI fokus memperjuangkan terwujudnya keluarga- keluarga yang sejahtera melalui 3 macam usaha pelayanan yaitu mengatur kehamilan atau menjarangkan kehamilan, mengobati kemandulan serta memberi nasihat perkawinan.

Dari awal berdiri, maka dapat dipastikan bahwa BKKBN adalah sebuah lembaga yang fokus pada pembangunan keluarga di Indonesia. Visi BKKBN sendiri adalah Menjadi lembaga yang handal dan dipercaya dalam mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas. Lalu bagaimana cara membangun keluarga yang berkualitas melalui media sosial, atau pada prakteknya, bagaimana cara bijak menggunakan media sosial demi terbentuknya keluaraga yang berketahanan? Menurut saya pribadi, dalam konteks keluarga, cara terbijak dalam bermedia sosial adalah dengan tidak menggunakan media sosial itu sendiri.

Dalam keluarga saya, hanya kamilah anak-anak yang menggunakan media sosial. Orang tua tak ada yang menggunakan media sosial. Buktinya sampai sekarang tak pernah kami anak-anaknya menggunakan media sosial untuk hal-hal negatif. Saya yakin, keluarga yang berkualitas tak dapat dibangun lewat bermedia sosial. Apalagi jika media sosial yang dimaksud adalah facebook. Menurut saya facebook itu sudah sangat kotor, sudah sangat banyak "sampah" yang bertebaran di sana.

Ada begitu banyak konten negatif, mulai dari gambar, berita hoax hingga video tak senonoh di media sosial seperti facebook. Jika kita lihat saat ini memang facebook sudah mulai ditinggalkan, namun hanya ditinggalkan dalam bentuk silent reader .Kebanyakan orang sudah jarang bikin status tapi masih aktif mengecek halaman facebooknya. Jadi menurut saya, bijak dalam menggunakan media sosial itu sendiri harus dimulai dari awal (wise from the beginning). Sebab dalam media sosial yang buruk sudah kontennya, bukan media sosial itu sendiri. Namun bukankah kita tak bisa mengatur orang untuk memposting sesuatu? Saat mereka memposting sebuah konten negatif sudah barang tentu kita akan mengkonsumsinya saat kita membuka media sosial.

Namun kalaupun kita sudah terlanjur menggunakan media sosial, dan belum bisa lepas darinya karena kepentingan pertemanan dan bisnis, maka jangan jadikan media sosial sebagai media pelampiasan. Caranya kita harus berteman dengan setiap anggota keluarga kita yang memiliki akun media sosial, tujuannya agar kita bisa memantau perilaku anggota keluarga kita di dunia maya. Di sinilah faktor kontrol dari keluarga berperan, dia tahu kalau dia diawasi sehingga dia tak akan memposting sesuatu yang aneh-aneh.

Dalam hal mengajak seluruh masyarakat untuk mengoptimalisasi peran dan fungsi keluarga untuk membangun karakter bangsa Indonesia dalam momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang jatuh pada 29 Juni setiap tahunnya, maka sudah sangat tepat langkah BKKBN dalam mendengungkan agar setiap keluarga mengambil peran dan fungsinya agar terbangunnya keluarga yang berketahanan dan harmonis. 

Dari yang "grafi" bisa menjadi "aksi" jika kita membiarkan keluarga kita menggunakan media sosial yang memang kontennya lebih banyak negatif dari pada positifnya. Kalau mau gunakanlah WhatsApp lalu membuat grup keluarga, di sana setiap anggota keluarga bisa membangun komunikasi yang sehat, membagikan artikel inspiratif, bercanda ria, dan saling support untuk setiap anggota.

Saya juga di WhatsApp bergabung dengan grup yang isinya adalah orang-orang yang dikenal, seperti saudara dan keluarga. Bahkan ada juga grup persekutuan dimana setiap anggotanya rajin membagikan artikel yang dapat membangun sisi rohani anggota. Jadi menurut saya salah satu cara bijak menggunakan media sosial adalah memilih aplikasi medsos yang cocok untuk membangun komunikasi yang positif dengan keluarga. Contohnya memanfaatkan WhatsApp untuk membuat komunitas dengan orang-orang terdekat.

Tak ada gunanya menggunakan media sosial yang jumlah pertemanannya ribuan tapi tidak saling kenal. Dalam konteks membangun keluarga dengan bijak menggunakan media sosial, maka membuat grup seperti yang saya ceritakan di atas jauh lebih bermanfaat. Misalnya jika ada yang berulang tahun, maka setiap anggota grup akan turut mengucapkan dan mendoakan. Jadi kuncinya ada pada memanfaatkan media sebagai alat komunikasi dan membangun komunitas yang baik.

Link Twitter disini.