TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Sosial Pilihan

Sesungguhnya Setiap Orang Bisa Menjadi Duta Persahabatan

17 Mei 2018   20:32 Diperbarui: 17 Mei 2018   21:06 516 8 5
Sesungguhnya Setiap Orang Bisa Menjadi Duta Persahabatan
di Mataram/dokumentasi pribadi

 

Tidak Semua Orang Bisa Jadi Duta, tapi Setiap Orang Dapat Berperan Menyembatani Perbedaan

50 tahun lalu di kampung halaman saya di Padang terdapat Kampung Cina, Kampung Nias, Kampung Keling, dan Kampung Jawa. Walaupun tidak ada aturan tertulis yang melarang orang berbeda suku untuk tinggal dalam lingkungan berbeda, tapi secara spontan, terjadi jurang pemisah.

Di Kampung Cina, hampir seratus persen didiami warga keturunan Tionghoa dan di Kampung Nias, juga hampir seratus persen didiami warga asal dari Pulau Nias, begitu seterusnya.

di Banda Aceh/dokumentasi pribadi
di Banda Aceh/dokumentasi pribadi
Gambaran Nusantara Secara Miniatur

Tentu saja, gambaran kehidupan di Kota Padang, tidak dapat dijadikan takaran atau ukuran bagi seluruh Indonesia. Akan tetapi  mungkin dapat dikatakan sebagai gambaran miniatur dari keseluruhan kehidupan di Nusantara.

Masing-masing orang lebih merasa aman dan nyaman bila bergaul dengan sesama orang sekampung ketimbang dengan orang yang berlainan asal daerahnya. Maka secara tanpa sadar terjadilah jurang pemisah yang tidak kasat mata.

berbuka puasa bersama /dokumentasi pribadi
berbuka puasa bersama /dokumentasi pribadi
Perlu Setiap Orang Sadar Diri

Pemerintah tentu tidak mungkin dapat menerbitkan peraturan bahwa semua orang harus mau bergaul dan menjalin hubungan persahabatan dengan beragam suku bangsa yang ada di tanah air kita. Satu-satunya jalan adalah kesadaran dari setiap orang untuk menjembatani jurang perbedaan ini dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk berinteraksi secara aktif dalam berbagai kesempatan.

di Biak/dokumentasi pribadi
di Biak/dokumentasi pribadi
Pada awal melangkah mungkin akan terasa risih, tapi setelah langkah pertama, maka langkah selanjutnya akan menjadi lebih mudah. Dengan jalan demikian maka dampak dari hubungan baik ini akan mampu mengubah paradigma yang keliru selama ini. Baik karena ketidaktahuan maupun karena isu-isu yang tidak jelas asal-usulnya.

Seperti pada awal pertama kali saya dan istri akan ke Banda Aceh, kami disarankan oleh beberapa orang teman untuk membatalkan rencana kami, dengan mengatakan bahwa kami berdua memiliki perbedaan ganda, yakni keturunan Cina dan non-Muslim lagi. Namun tekad kami sudah bulat dan ternyata di Banda Aceh kami diterima bukan hanya dengan tangan terbuka, tapi juga dengan hati terbuka. Bahkan kami diajak berbuka puasa bersama.

di Palangkaraya/dokumentasi pribadi
di Palangkaraya/dokumentasi pribadi

Pengalaman Sama di Mataram

Begitu juga ketika kami ke Mataram, kami ditemani oleh Ibu Hj. Nurul, warga asli dari suku Sasak. Ternyata penerimaan teman-teman di sana sangat baik. Kami diajak ke rumah mereka dan makan bersama di meja makan keluarga. Tak setitikpun terbersit rasa perbedaan, baik dalam gestur, maupun dalam tutur kata. Baik yang tampak, maupun yang tersirat.

di Bandung/dokumentasi pribadi
di Bandung/dokumentasi pribadi

Melangkah ke Palangkaraya, kami diterima oleh Bu Tuti dan suaminya, Pak Suwandi. Kami disambut hangat dan kembali diajak ke rumah beliau untuk makan bersama.

Hal inilah yang mendorong kami menjelajahi hampir seluruh daerah di Nusantara untuk merajut persahabatan dalam segala macam perbedaan. Baik beda asal muasal, beda budaya, dan beda agama, yang kalau diceritakan secara keseluruhan mungkin dibutuhkan satu buku.

Tulisan ini hanya merupakan sebuah renungan diri bahwa sesungguhnya setiap orang dapat menjadi duta persahabatan, setidaknya bagi dirinya sendiri dan keluarga.

Seperti kata pribahasa: "Kalau berniat mengubah dunia, maka mulailah terlebih dulu dari diri sendiri"

Tjiptadinata Effendi