Mohon tunggu...
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widarmanto Mohon Tunggu... Penulis dan praktisi pendidikan

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Pendidikan terakhir S2 di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis dalam genre puisi, cerpen, artikel/esai/opini. Beberapa bukunya telah terbit. Buku puisinya "Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak" menjadi salah satu buku terbaik tk. nasional versi Hari Puisi Indonesia tahun 2016. Tinggal di Ngawi dan bisa dihubungi melalui email: cahyont@yahoo.co.id, WA 085643653271. No.Rek BCA Cabang Ngawi 7790121109, a.n.Tjahjono Widarmanto

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Bermula dari Kata

19 September 2020   13:48 Diperbarui: 20 September 2020   20:16 176 19 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bermula dari Kata
Photo by Jason Rosewell on Unsplash

Setiap orang bisa mendebat asal muasal manusia dari berbagai kerangka pemikiran. Ada yang berteori muasal manusia bermula dari semacam kera yang berdiri tegak lantas berkembang final menjadi homo sapiens. 

Ada yang yakin manusia sejak awal sudah sempurna dari stuktur fisikal dan kemampuan bernalar seperti manusia saat ini, sehingga tidak pernah mengalami proses evolusi.

Ada pula yang percaya bahwa manusia adalah 'perpanjangan Tuhan' karena pada merupakan keturunan nabi yang terpilih sehingga dari sononya sudah disabda kun sehingga tumbuh menjalani takdir sebagai yang terpilih dan tersempurna. 

Semua pendapat tersebut sah-sah saja, dan semuanya memiliki pembenaran dan argumen yang boleh saja menimbulkan kontroversi perdebatan.

Yang mutak dan tak bisa disangkal bahwa manusia menempuh proses menjadi melalui kata, melalui bahasa. Tak terbantahkan bahwa manusia merancang, membentuk kebudayaan dan menyempurnakan peradabannya melalui kerumunan kata, melalui lorong bahasa. Manusia membangun peradaban dengan memberi penandaan semesta dengan pemaknaan-pemaknaan melalui kata dan bahasa.

Sejak awal pun, religiusitas menunjukkan keterpautan manusia dan kata. Ayat pertama dalam kitab suci Islam menyebutkan istilah iqra yang jelas-jelas menunjukkan 'keterbacaan' sebagai pondasi dasar manusia dalam memahami isyarat-isyarat Tuhan yang tersebar di seluruh semesta, sekaligus untuk menyelami makna dan mengembangkannya sebagai bekal dalam menunaikan tugasnya sebagai khalifah di semesta.

Asal muasal dan eksintesisial suatu identitas kelompok manusia pun sering berpaut kuat dengan keberadaan bahasa. Misalnya, riwayat manusia Jawa mengisahkan keberadaan jati dirinya terangkum dalam deretan aksara hana caraka, data sawala, pada jayanya, maga bathanga, yang meriwayatkan cikal bakal manusia Jawa, bernama Aji Saka yang menaklukan raja lalim Dewata Cengkar. 

Aksara-aksara tersebut menjadi sarana bagi manusia Jawa untuk merumuskan identitas kesukuannya, sejarah, konsep hidup, jatidiri, cara pandang alam serta filsafat dan pandangan spiritualnya. 

Kisah ini merupakan kenyataan tak terbantahkan bahwa melalui kata atau bahasa manusia merumuskan dirinya sekaligus menempatkan diri menjalankan titah Tuhan sebagai khalifah.

Kata dan bahasalah yang melucuti manusia dari belenggu kebodohan nalar bahkan pun dari kegelapan spiritual. 

Tak berkelebihan kalau kemudian Julia Kristeva dalam bukunya yang terbit di tahun 1981 berjudul Le Langege, cet inconnu (Dahana, 2009), menegaskan bahwa dengan bahasa, manusia menjadi sebuah gerak demistifikasi yang sempurna. Kata dan bahasa menjadi sebuah ruang yang tertutup sekaligus terbuka tempat manusia menghikmati dirinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x