Mohon tunggu...
George
George Mohon Tunggu... Konsultan - https://omgege.com/

https://omgege.com/

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Menjadikan Petani Kaya sebagai Chain Activity Integrators (Bagian 3b)

20 April 2020   06:00 Diperbarui: 25 Juni 2020   21:42 338
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pengembangan Rantai Nilai Pertanian [ilustrasi, goodnewsfromindonesia.id]

Pada BAGIAN 3A, kita sudah membahas contoh pertama petani sebagai chain activity integrators, kasus petani vanili di Kabupaten Alor. Kini kita bahas contoh kasus percabangan komoditi, yaitu ketika dari satu komoditi asal, petani melakukan aktivitas handling dan processing untuk menghasilkan sejumlah komoditi turunan.

Kita akan mengambil contoh kasus petani kemiri di Alor. Tetapi sebelumnya alangkah baiknya Anda membaca dahulu 4 artikel sebelumnya di seri "4 Level Petani dalam Value Chain Development"

Meskipun bukan komoditas ekspor, kemiri adalah komoditas perkebunan strategis di Indonesia jika ditinjau dari jumlah rumah tangga petani yang mengusahakannya. Dari 40 jenis tanaman perkebunan yang disurvei BPS, kemiri berada di peringkat 10. 

Ada 370.918 rumah tangga petani Indonesia yang menjadikan kemiri salah satu sumber pendapatan [Agustini and Anugrah Adi, Analisis Rumah Tangga Usaha Perkebunan Di Indonesia. 2015].

Sekitar 97 persen lahan kemiri ada di 11 Provinsi. Nusa Tenggara Timur adalah provinsi dengan luas lahan kemiri terbesar, berkontribusi 51 persen terhadap total lahan kemiri nasional. Kabupaten Alor termasuk 3 besar kabupaten penghasil kemiri di provinsi ini.

Ada satu kenyataan menarik soal kemiri Alor. Di antara para pedagang di Jawa, kemiri di Alor disebut berbuah sepanjang musim.

Yang sebenarnya bukan demikian. Pasokan kemiri dari Alor selalu ada karena orang Alor mengumpulkan kemiri hanya di saat butuh uang tunai. Kapan mereka butuh uang tunai, saat itulah mereka ke "gunung" untuk mengumpulkan kemiri.

Petani di Alor menyatakan kemiri adalah sumber penghasilan mereka. Tetapi hal ini bertolak belakang dengan kenyataan. Selain nyatanya petani hanya mengumpulkan kemiri saat butuh uang tunai---di NTT hasil hutan menjadi semacam bantal pengaman ketika musim kering, gagal panen, atau kebutuhan uang tunai mendesak---uang yang dihasilkan dari tanaman kemiri relatif kecil.

Dalam hitung-hitungan saya pada 2018---sebuah survei pasar yang tidak dipublikasi--petani hanya menghasilkan Rp 2,7 juta dari dari rata-rata per hektar lahan tanaman kemiri. 

Nilai ini sangat rendah dibandingkan tanaman lain jika diproyeksikan ke dalam luas tanam 1 hektar, seperti vanili (Rp 240an juta), cengkeh (Rp 13 juta), kopi (Rp 6,7 juta), jambu mente (Rp 6,5 juta ), dan pinang (3,4 juta). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun