Padika
Padika Petani

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Pemilu 2019 Punya Hukum Sendiri, Popularitas Bukan Lagi Segalanya

15 Mei 2019   00:47 Diperbarui: 15 Mei 2019   11:37 974 15 9
Pemilu 2019 Punya Hukum Sendiri, Popularitas Bukan Lagi Segalanya
Arzeti Biblina, Vena Melinda, dan Krisdayanti, 3 caleg artis peraih suara banyak di Jatim [Diolah dari Kompas.com dan Tribunnews.com]

Ada satu hal yang diyakini para politisi: popularitas adalah faktor kunci kemenangan pemilu. Pemilu 2019 mengajarkan kita, pandangan ini sudah saatnya dicampakkan.

Masuk akal memang menempatkan popularitas sebagai faktor kunci keterpilihan dalam pemilu. Kian populer, kian mungkin seorang politisi dipilih. Demikian sudah diyakini sejak dahulu, seperti bunyi ujar-ujaran "dikenal maka disayang."

Dikenal adalah syarat disayang. Dalam politik, wujud disayang adalah dipilih. Tanpa terlebih dahulu dikenali, mustahil seorang politisi dipilih. Kian terkenal seorang politisi, kian banyak orang yang mungkin memilihnya.

Jalan paling mudah untuk terkenal adalah sering muncul di media massa. Jangan heran jika banyak parpol menjadikan artis papan atas, terutama penyanyi dan pemain film sebagai caleg. Selain dikenali rakyat melalui lagu atau film mereka, artis juga media darling. Acara TV bergenre warta dunia hiburan, termasuk kehidupan pribadi selebriti (infotainment) adalah salah satu yang paling banyak ditonton pemirsa televisi Indonesia. 

Melalui acara itu, kalangan artis bukan cuma dikenali karya-karyanya, melainkan juga tetek bengek urusan pribadinya. Sampai-sampai ukuran pakaian dalam mereka pun jadi bahan berita.

Serupa artis, para politisi top yang sering nongol di layar TV juga sudah pasti populer. Selama masa kampanye pilpres  ada sejumlah politisi yang nyaris tiap hari mengisi layar kaca acara talkshow dan debat sebab jabatan mereka sebagai juru bicara tim pemenangan capres-cawapres. Sebelum hari pencoblosan orang-orang ini diprediksi menang mudah dalam pemilu.

Sudah jamak pula anak tokoh terkenal jadi atribut yang mendongkrak popularitas politisi. Mereka mendapatkan imbas dari kesukaan media massa memberitakan orang tua mereka.

Ketiga golongan politisi di atas sudah menang start dibandingkan politisi lain. Nama dan wajah mereka terkenal di seantero negeri tanpa perlu mengeluarkan uang banyak mencetak alat peraga kampanye; tanpa harus keluar-masuk kampung menggelar pertemuan dengan rakyat.

Tetapi pemilu 2019 membuktikan bahwa popularitas bukanlah segalanya. Banyak artis, politisi beken, dan anak tokoh populer yang gagal melenggang ke Senayan.

Di Jawa Timur, dari 16 caleg DPR RI dari kalangan artis, hanya dua (Krisdayanti dan Arzeti Biblina) yang lolos menjadi anggota DPR RI. Enam caleg artis bahkan tak sanggup meraih suara lebih dari 10 ribu. Mereka adalah Sundari Soekotjo dari PKB (9.754 suara), Luki Perdana dari Nasdem (9.163 suara), Manohara Odelia Pinod dari Nasdem (6.865 suara), Elma Theana dari Nasdem (2.822 suara), Ratna Listy dari Nasdem (2.162 suara), Tessa Kaunang dari Nasdem (1.316 suara).

Para politisi beken yang selama masa kampanye pemilu dan pilpres terus muncul di layar TV banyak yang tumbang, gagal menjadi anggota DPR 2019-2024. Di kubu TKN Jokowi-Ma'ruf ada Budiman Sudjatmiko, Maruarar Sirait, Irma Suryani Chaniago, dan Akbar Faizal. Di kubu BPN Prabowo-Sandiaga ada Ferry Juliantono, Sudirman Said, Faldo Maldini, Roy Suryo, Jansen Sitindaon, dan Ferdinand Hutahean.

Dari kalangan anak tokoh, Siti Hediati Hariyadi alias Titiek adalah contoh kasus kegagalan. Putri Soeharto ini hanya memperoleh 25.159 suara pribadi di Yogyakarta, jauh di bawah perolehan suara anak Amien Rais, Hanafi yang mencapai 171.316 suara.

Gugurnya para pesohor dalam pemilu 2019 ini menunjukkan bahwa popularitas tidak otomatis membuat politisi melenggang mudah ke Senayan. Ada banyak faktor lain yang turut berperan.


Saat ini kita tak bisa menyimpulkan dengan mudah faktor apa saja itu. Soal kapasitas misalnya. Nyatanya Budiman Sudjatmiko, Maruarar Sirait, Irma Suryani Chaniago, Akbar Faizal, Ferry Juliantono, Sudirman Said, dan Faldo Maldini adalah caleg-caleg dengan kualitas baik.

Demikian pula soal intensitas mengunjungi rakyat di dapil, bukan satu-satunya faktor. Dalam kasus Budiman Sudjatmiko, hal ini berpengaruh. Seperti yang diakui Budiman, dirinya memang lebih banyak berkampanye di luar negeri dan di televisi untuk pemenangan Jokowi-Ma'ruf dibandingkan mengunjungi dapil barunya di Jawa Timur. Tetapi Akbar Faizal dan Sudirman Said yang rajin mengunjungi dapil pun nyatanya gagal terpilih.

Butuh telaah mendalam dan spesifik per dapil untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang signifikan membentuk hukum elektabilitas politisi dalam pemilu 2019. Yang pasti, peran popularitas tak lagi sebesar dahulu.***

Sumber:

  1. Kompas.com (14/05/2019) "Suara Titiek Soeharto Jauh di Bawah Politisi Lain di DIY"
  2. Kompas.com (14/05/2019) "16 Artis Bertarung di Jatim Dalam Pileg 2019, 14 Tumbang"
  3. Fajar.co.id (11/05/2019) "Pemilu Kali Ini Paling Brutal"
  4. Tagar.id (07/05/2019)"Tiga Jubir BPN Prabowo-Sandiaga Gagal ke Senayan"
  5. Tagar.id (08/05/2019) "Empat Caleg TKN Jokowi-Ma'ruf Gagal ke Senayan"