Mohon tunggu...
JPIC Kapusin Medan
JPIC Kapusin Medan Mohon Tunggu... Lainnya - Capuchin Brother

Fransiskan Kapusin

Selanjutnya

Tutup

Diary

Menanti Kasih di Desa Siantar Sitanduk

4 Desember 2021   15:59 Diperbarui: 4 Desember 2021   16:06 672
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Seorang religius/biarawan-ti harus dengan senang hati diutus atau ditempatkan oleh pimpinan/superior/provinsial di mana saja. Hal ini merupakan efek logis dari kaul ketaatan yang diikrarkannya.

Demikian pula halnya dengan saya dan empat saudara Kapusin dari Ordo Kapusin Provinsi Medan (disingkat: OKPM). Kami taat dan dengan senang hati, diutus oleh Provinsial OKPM untuk menjadi staf pembina (formatores) para postulan (calon) Kapusin di rumah pembinaan yang terletak di Siantar Sitanduk. 

Siantar Sitanduk merupakan salah satu desa dengan penduduk terbanyak dan terpadat di Kecamatan Tarabintang, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Desa tetangga yang dekat dengan Sitanduk yakni Tarabintang, Marpadan, Mungkur, Sibongkare Sirata, Sibongkare Sianju, Sihombu, Sihotang Hasugian (Sihas) Toruan, dan Simbara.

Di desa ini, penduduk umumnya bertani dan berkebun (karet, kelapa sawit, dan cokelat). Lahan yang dapat diolah masih sangat luas. 

Alam desanya sungguh indah, sejuk, dan amat segar sebab jutaan pohon masih berdiri tegap menghiasi perbukitan yang menjulang megah. Aliran air sungai masih sangat segar, walau tidak bening karena warna airnya kecokelat-cokelatan mengikuti warna tanah dan jubah Kapusin. He he he. 

Masyarakat setempat mayoritas berdarah Batak Dairi. Bahasa sehari-hari yang digunakan di desa ini juga Batak Dairi, seperti kade (apa), mike (kemana), oda lot (tidak ada), dor mo (cepatlah), katerra (bagaimana) dan lain-lain. Kalau mau belajar, silakan berkunjung ke desa ini.

Tantangan yang dihadapi

Akan tetapi, ada beberapa kesulitan yang dihadapi kalau hendak berkunjung ke desa ini. 

Pertama, akses jalan masih belum sepenuhnya bagus. Di beberapa tempat, masih ada jalan yang berbatu lepas.

Kedua, sangat sulit mendapatkan sinyal handphone dan akses internet. Di desa ini, belum ada satu pun tower pemancar jaringan. Padahal, di masa pandemi yang mengharuskan PBM (proses belajar mengajar) via daring, anak-anak sekolah menjadi kesulitan mengakses internet.

[Barangkali, ini menjadi satu faktor kami jarang publikasi anggitan ke Kompasiana ini. Kalau pun ada, itu terjadi ketika kami berada di luar desa. Yeayy...]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun