Mohon tunggu...
Fitria Ananta R
Fitria Ananta R Mohon Tunggu... -

you can't speak? then write it!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ada Apa dengan UGM?

2 Mei 2016   14:12 Diperbarui: 2 Mei 2016   15:25 1905
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Belakangan ini tengah terjadi hiruk pikuk perbincangan mengenai sebuah kampus yang dikenal dengan istilah “Kampus Kerakyatan”. Bukan tanpa alasan, namun hal itu terjadi menyusul keresahan yang dirasakan oleh para mahasiswanya terkait beberapa kebijakan baru, seperti biaya pendidikan yang semakin meningkat, dihapuskannya anggaran beasiswa Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP PPA), direlokasikannya kantin Bonbin yang cukup legendaris, dan lain sebagainya.

Meningkatnya biaya UKT (Uang Kuliah Tunggal) dianggap oleh mahasiswa tidak relevan, mengingat masih adanya pemungutan biaya yang lain diluar UKT, diabaikannya aspek lain dalam menggolongkan biaya UKT di luar penghasilan kotor orang tua, seperti berapa jumlah tanggungan dalam keluarga, dan lain sebagainya. Seolah tidak cukup sampai di situ, mahasiswa semakin dikejutkan dengan kebijakan penghapusan anggaran beasiswa BBP dan PPA tahun ini. Kedua beasiswa yang tadinya merupakan angin segar ditengah “mencekiknya” biaya UKT, kini justru ditiadakan.

Hal tersebut yang membuat mahasiswa semakin gelisah dan mempertanyakan, “di mana titel kerakyatan yang selama ini digaungkan?"

Bukan mahasiswa kalau hanya diam saja tanpa menyampaikan aspirasi mereka, terutama ketika kegelisahan tengah melanda. Dengan berbagai permasalahan yang terjadi, ketika negosiasi maupun audiensi yang terlaksana tak kunjung berbuah manis, maka muncul lah sebuah gagasan dari mahasiswa untuk mengadakan aksi pesta rakyat guna mengekspresikan segala keresahan dan kepedulian mereka terhadap peliknya isu yang terjadi di dalam kampus.

Pesta Rakyat Hanyalah Simulasi

Amarah mahasiswa semakin dipicu ketika pada hari Minggu (1/5/2016), Ibu Rektor Dwikorita Karnawati dalam siaran langsung acara talkshow yang diadakan oleh satu radio di Yogyakarta mengungkapkan statement mengejutkan, bahwa aksi pesta rakyat tersebut merupakan simulasi geladi demonstrasi yang difasilitasi oleh UGM. Hal tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk melatih kepekaan mereka akan isu yang sedang terjadi di kampus.

Aksi tersebut merupakan praktikum lapangan bagi mahasiswa untuk berlatih mengemukakan pendapatnya” tuturnya.

Pendapat tersebut langsung menuai protes dari mahasiswa. Sekumpulan mahasiswa pun berbondong-bondong menyambangi kantor radio tersebut untuk melakukan klarifikasi. Mereka menyatakan bahwa pesta rakyat yang akan mereka adakan bukanlah simulasi seperti yang dikatakan oleh Dwikorita, melainkan murni berdasarkan inisiatif mahasiswa yang berlandaskan kepedulian mereka akan kondisi kampus saat ini.

Undangan untuk Pesta Rakyat Gadjah Mada

Pesta Rakyat Gadjah Mada #bUKTicinta

Kegiatan yang bertajuk “Pesta Rakyat Gadjah Mada” diselenggarakan pada 2 Mei 2016, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Acara tersebut dapat dikatakan sebagai demonstrasi besar-besaran karena tidak hanya melibatkan ribuan mahasiswa secara keseluruhan, melainkan juga beberapa tenaga pendidik, serta pihak-pihak lain yang turut terlibat dalam merasakan dampak dari kebijakan yang ada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun