Mohon tunggu...
Thomson Cyrus
Thomson Cyrus Mohon Tunggu... Wiraswasta, blogger, vlogger

Tetap Semangat Indonesia, Kerja Keras dan Harus Optimis Email : thomson.cyrus@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Fasilitas Umum untuk Wisata di Balige, Danau Toba Baru Dibangun, tapi Dibiarkan Tak Terurus

11 Desember 2019   12:54 Diperbarui: 11 Desember 2019   18:40 114 2 1 Mohon Tunggu...
Fasilitas Umum untuk Wisata di Balige, Danau Toba Baru Dibangun, tapi Dibiarkan Tak Terurus
Dokumentasi pribadi

Tanggal 10 Desember 2019, saya mendatangi spot wisata baru di Balige, tepatnya di Pantai Lumban Bulbul Balige. Di pantai ini, pasir putihnya ada beberapa bagian. Kalau tidak salah 3 bagian.

Dua bagian yang sudah lumayan bagus dan rapi penataannya. Ada satu bagian yang tahun 2018 kalau tidak salah selesai dibangun dengan dilengkapi fasilitas seperti taman, kios, cafe, dan tentu mengandalkan pantai pasir putih.

Tetapi sangat disayangkan, salah satu spot baru yang saya sebutkan ini, fasilitasnya baru di bangun seperti taman, saung untuk pengunjung, kios untuk makanan, dan pernak-pernik wisata, kamar mandi dan toilet serta cafe di bagian atas bangunan, kini dibiarkan begitu saja tidak terurus.

Rumput-rumput dibiarkan tumbuh liar begitu saja merusak taman dan merusak pemandangan.

Air di kamar mandinya mati dan baunya tidak sedap, bau ee dan bau kencing, pasir dan kencing bertebaran di lantai kamar mandi. Visual lengkapnya bisa di tonton nanti di Youtube Channel saya dengan nama Thomson Cyrus.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Kios-kios untuk makanan dan aksesoris wisata dibiarkan mati dan tutup. Cafe yang sedianya ada di atas bangunan sudah tutup. Kursi dan tendanya sudah hilang dari sana.

Sampah-sampah plastik bekas makanan dan minuman dibiarkan menyatu dengan sampah enceng gondok yang menutupi pasir putih. Perahu rusak dibiarkan begitu sana dan menambah semrawutnya pantai pasir putih itu. Sekali lagi visualnya bisa di cek di Youtube Channel Thomson Cyrus.

Embusan angin yang indah dan suara ombak di sore hari menambah sedih perasaanku saat itu. Kembali saya bertanya, "Apa yang salah?" Kok alam seindah ini tidak dapat kita manfaatkan dengan baik untuk kebaikan warga sekitar?

Jernihnya air danau dan birunya pegunungan di seberang sana kok tidak bisa kita jadikan sebagai sumber ekonomi bagi masyarakat setempat? Kembali saya bertanya dalam hati, "Apa yang salah? Siapa yang salah?"

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Sebegitu jelekkah kinerja Pemda Tobasa hingga mengurus hal kecil seperti ini tidak mampu? Se-cuek itukah warga sekitar hingga tak memiliki sense of belonging?

Sudah separah itukah rasa memiliki warga sekitar sehingga tak mau ambil bagian memperbaiki, memelihara kepingan surga itu? Rasanya ingin marah! Tapi marah kepada siapa?

Saya tidak tahu anggaran yang digunakan untuk membangun fasilitas ini. Apakah anggaran dari pusat? Dengan kucuran APBN? Atau anggaran dari dari provinsi? Atau anggaran pemda kabupaten?

Saya yakin anggaran untuk membangun fasilitas umum itu miliaran rupiah. Sebodoh itukah kita, mampu membangun hingga miliaran rupiah tapi nihil rupiah untuk pemeliharaan? Mengapa para pemimpin di daerah ini seperti tidak memiliki hikmat (Habisuhon).

Bukan itu dibangun untuk mendatangkan wisatawan ke sana, lalu berharap para wisatawan membelanjakan uangnya di sana, lalu kemudian warga yang berdagang bisa mendapatkan untung, tukang parkir mendapatkan penghasilan dan terjadilah pertumbuhan ekonomi baru? Bukankah itu tujuan dibangunnya fasilitas itu?

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Nah, kalau dibiarkan kotor, tak terurus! Orangtua manakah yang membiarkan anaknya bermain di tempat kotor seperti itu? Siapa yang tidak muntah ketika memasuki kamar mandi yang bau, penuh dengan aroma kencing dan ee? Ayolah Tobasa, saya bukan nyinyir, ini demi kemajuan Danau Toba kita.

Jauh sebelum Jokowi mencanangkan Danau Toba sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata Indonesia, saya telah banyak menulis tentang Danau Toba baik di Kompasiana maupun di medsos lainnya.

Tulisan ini bertujuan agar anggaran tidak mubazir, harus digunakan untuk kemajuan Bangsa.

Yang menjadi pertanyaan lain bagi saya adalah bagaimana kita mampu menghargai orang, menghargai alam, menghargai para wisatawan, jika kita tidak mampu menghargai apa yang sudah kita bangun? 

Bukankah setiap pembangunan yang kita bangun didanai dari jerih payah rakyat (pajak)? Kok segampang itu kita menelantarkan bangunan miliaran rupiah? 

Bukankah setiap rupiah itu susah payah dikumpulkan? Kok se-rendah itu kualitas kita untuk menghargai pembangunan?

Sedih! Jika kita melihat bangunan baru, terlantar, dibiarkan tidak terurus. Seakan kita ini tak mampu untuk memelihara. 

Saya yakin ada yang salah dengan ini! Tapi apa yang salah? Siapa yang salah? Biarlah para pembaca menuliskan komentarnya di kolom komentar agar tulisan ini sampai kepada para pejabat baik daerah maupun di pusat.

Presiden Jokowi sudah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk membangun infrastruktur dan fasilitas lainnya di sekitar Danau Toba, pun demikian anggaran untuk meningkatkan sumber daya manusia. 

Tetapi kalau penduduk setempat tidak deberdayakan, tidak diedukasi tentang sadar wisata, peduli wisata, peduli lingkungan, maka sebesar apapun usaha, pasti akan gagal. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x