Mohon tunggu...
Jaya Irawan
Jaya Irawan Mohon Tunggu... -

Dilahirkan di Jambi, bermukim di Sumatera Selatan, Bekerja di Perusahaan Milik Negara.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Hari Rasa Pagi dengan Minyak Ekaliptus Aromatherapy

7 November 2016   00:11 Diperbarui: 7 November 2016   00:29 42
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bandara pagi itu sudah ramai seperti biasa. Aku tiba kurang dari sepuluh menit sebelum jadwal boarding dengan sangat terburu-buru. Jarak tempat tinggalku hanya 20 km dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Namun pekerjaan proyek Light Rail Transit (LRT) yang sedang berjalan di sepanjang jalan utama Kota Palembang membuat setiap pengendara untuk pergi lebih jauh lebih awal jika ingin tiba tepat waktu. Dan parahnya lagi, aku bangun terlambat! Tidak ada waktu untuk mandi! 

Pesawatku jam 05:40 wib, Palembang – Jakarta pagi itu. Padahal enam jam sebelumnya aku baru tiba dari rumah dinas Baturaja, 200 km dari Kota Palembang. Perjalanan malam itu terlambat dua jam akibat lalu lintas padat angkutan batubara yang berbaris satu berbanjar panjang, persis gerbong kereta hampir sepanjang jalan menuju Palembang. Setiba di rumah Palembang, setelah selesai menjamak sholat, aku menyempatkan untuk melakukan beberapa persiapan seringkas-ringkasnya agar bisa segera tidur. Jam 23:50 setelah semua persiapan selesai, giliran mataku tak bisa terpejam. Mungkin akibat terlalu banyak tidur dalam perjalanan Baturaja – Palembang. Alhasil, mata baru bisa tertidur sekitar jam 01:30 dini hari. Itulah penyebab mengapa aku bangun terlambat dan sangat terburu-buru ke bandara.

Tiba di bandara, bersyukur sekali karena tiket sudah di-check-in oleh rekan sekantor. Setelah mendapati lembar boarding pass dari rekanku, kami langsung bergegas menuju Gate 2 karena sudah panggilan kedua naik pesawat. Penumpang cukup ramai. Hampir semua kursi yang terlihat sekilas olehku terisi semua. Banyak sekali orang-orang yang punya kepentingan ke Jakarta sepagi ini, pikirku. Aku mendapat kursi di sisi aisle, baris ketiga dari depan kelas Ekonomi. Sambil bernafas lega sudah duduk di kursi pesawat, aku masih mengingat bagaimana perjalananku ke bandara pagi itu. Aku berharap, tidak ada yang tertinggal.

Sekitar 20 menit duduk di dalam pesawat, satu senti pun sepertinya roda pesawat belum bergerak. Aku mulai kesulitan menjaga suasana hati. Apa mungkin para kru pesawat juga bangun terlambat sehingga persiapan penerbangan belum siap? Bahkan aku tidak sempat menyantap apapun demi bergegas datang ke sini.  Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berpenampilan rapi masuk dengan santainya kemudian duduk di kelas bisnis. Lalu terdengarkan sapaan pramugari yang mengatakan bahwa pesawat akan segera tinggal landas. Dalam hatiku mulai menggerutu karena seisi pesawat harus menunggu satu pejabat naik pesawat. “Tau begini, aku makan mie rebus aja dulu di atas meja tadi” kesalku sambil memejam mata.

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, langit sudah terang. Aku dan kedua rekanku langsung keluar dan mencari taksi.  Langkah kami cukup santai sekarang karena jadwal meeting kami masih sekitar 2 jam lagi. Beberapa taksi bandara parkir tak jauh dari tempat kami berdiri. Kami langsung memilih salah satunya dan segera masuk ke dalam mobil. Aku memilih duduk di depan, sedangkan dua rekanku duduk di belakang.

“Ke Rasuna Said ya, pak.” ujarku kepada pak supir.

“Baik pak” jawabnya sambil mengaktifkan argometer.

Mobil pun langsung bergerak menuju kuningan, Jakarta Selatan.  Jalanan tampak masing lengang dan lancar di tengah pagi yang cerah.  Di antrian pintu tol Prof. Sedyatmo, pak supir tiba-tiba mengeluarkan botol kecil berwarna hijau. Kulihat dengan jelas, itu minyak kayu putih cap lang. Ia menuangkan minyak kayu putih tersebut cukup banyak dengan cepat ke atas telapak tangan kirinya, kemudian mengusapkannya ke bagian leher dan kedua lengannya. Lalu ia meratakan minyak yang tersisa ke kedua telapak tangan dan di sela-sela jarinya.

“Sakit pak?” tanyaku.

“Ooh, ga pak. Suka aja sama baunya. Jadi kebiasaan begini terus. Pikiran juga jadi rileks aja rasanya”.

“Efek tiap hari ngadepin macet ya pak” balasku dengan sedikit canda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun