Mohon tunggu...
Theodorus BM
Theodorus BM Mohon Tunggu... Administrasi - Writer

Seorang pemuda yang senang menyusun cerita dan sejarah IG: @theobenhard email: theo_marbun@yahoo.com wattpad: @theobenhard

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Joko Tingkir [Novel Nusa Antara]

20 Mei 2020   09:24 Diperbarui: 20 Mei 2020   09:20 65
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Joko Tingkir terdiam sejenak. Ia memikirkan sesuatu.

Hanya saja.... ini Bali. Pulau Dewata. Pulau terindah di seluruh nusantara.

Joko Tingkir tidak menyelesaikan kalimatnya. Lawan bicaranya pun tidak memedulikannya, perhatiannya kini tertuju kepada anaknya yang mulai memasukkan kertas -- kertas ke dalam mulut sendiri.

Aku ingin bersenang -- senang dahulu. Memandangi pantai, biru laut, biru langit. Memandangi jalak atau penyu. Atau memandangi wanita -- wanita tanpa penutup dada. Apa gunanya punya koin tapi tidak digunakan?

Ia kembali melempar pandangan keluar jendela. Joko Tingkir merasa bersyukur bahwa dirinya ditemani oleh sang pedagang kain dan anaknya. Kesepian adalah hal yang paling ditakutinya. Ia menyadari dirinya adalah orang yang tidak banyak berkata -- kata dan tidak suka mencurahkan perasaan kepada orang lain, namun keadaan sepi adalah musuh baginya. Joko Tingkir berpikir, mungkin hal itu disebabkan oleh dirinya yang terus menerus memenangkan pertandingan. Semua orang memusuhinya.

Salah satu cara untuk mengusir kesepian adalah dengan cara memiliki seorang kekasih.

Joko Tingkir mengingat -- ingat ucapan yang diberikan kepadanya di kedai minum Pasar Tumapel, beberapa saat sebelum kekacauan akibat penyelaan oleh prajurit terjadi. Seorang tua berkata kepadanya: mumpung masih muda, carilah wanita yang tepat untuk menjadi pendampingmu. Kenalilah wanita sebanyak mungkin. Buatlah cerita bersama mereka. Jangan biarkan masa muda habis tanpa kisah yang dapat diceritakan di waktu tua.

Sang pemuda menunduk. Ia merasakan dirinya berada di usia penghujung dasa dua dan menganggap waktu kemudaannya hampir habis. Ia tidak memiliki kekasih atau mengenal banyak wanita. Ia merasa hidupnya penuh kesia -- siaan. Hanya mengejar kemenangan dan uang, kini baru terasa. Dan aku tidak menyukai emosi palsu yang ditawarkan badut -- badut di rumah bordil.

Bau laut kini mulau tercium, tanda kereta kuda sudah mendekati Pelabuhan Ketapang. I Putu Wikarna menganggukkan kepala ketika Joko Tingkir bertanya bahwa mereka sudah dekat dengan pelabuhan. Ia mulai bersiap -- siap membenahi diri. Sebaliknya Joko Tingkir tidak menyibukkan dirinya dan memilih untuk menikmati pemandangan. Perlahan -- lahan pemandangan hutan kayu jati beralih menjadi semak -- semak dan pohon kelapa yang menjulang tinggi. Bunyi deburan ombak mulai terdengar. Beberapa saat kemudian garis pantai utara mulai terlihat di pandangan.

Sungguh indah. Aku bertanya pada diriku sendiri, jika Jawa saja seindah ini, apalagi pulau para dewa?

Perlahan -- lahan jalan yang dilalui oleh kereta mulai melalui gundukan -- gundukan batu yang membuat kereta tidak bisa melaju seperti biasa. Beberapa hitungan kemudian laju kereta berhenti sepenuhnya. Kusir membuka pintu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun