Jakarta

Lingkungan Hidup Warga Miskin Jakarta Memprihatinkan!

16 Maret 2018   17:05 Diperbarui: 16 Maret 2018   17:10 487 0 0
Lingkungan Hidup Warga Miskin Jakarta Memprihatinkan!
Sampah Jakarta

Pemukiman warga miskin di Jalan Pintu Air II, Kebon Kelapa, Jakarta Pusat, Kamis (15/3) sangat memprihatinkan. Selain dipenuh sampah, lingkungan tempat warga belum ada Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) RW 04, Muhajar mengatakan pihaknya sudah pernah membuat pengajuan untuk diadakannya ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) ke Walikota Jakarta Pusat. Namun, pengajuan tersebut ditolak karena PT KAI sebagai pemilik tanah tidak memberikan izin.

"Kita enggak punya RPTRA, kita ngajuin di kelurahan Kebon Kelapa, kita ajukan ke Lurah, sampai tingkat Walikota, tiba-tiba datang patokan tanah milik PT KAI, itu sudah ditutup seng, dia sudah ketakutan" kata Muhajar saat ditemui di jalan Pintu Air II, Kebon Kelapa, Jakarta Pusat, Kamis (15/3).

Pengajuan RPTRA itu telah dilakukan Muhajar sejak 6 (enam) bulan lalu. Dengan tujuan agar masyarakat setempat dapat merasakan ruang hijau dengan udara segar dan mengurangi para pemulung yang meletakkan gerobaknya di pinggir jalan. Ditambah lagi dengan ketiadaan lampu penerang pada malam hari di kawasan tersebut.

"Saya memprogramkan (RPTRA) supaya orang lewat enggak takut, enggak ada pemulung. Sudah enam bulan lalu kita ajuin RPTRA, eh

tiba-tiba ditulisin tanah milik PT KAI. Permasalahannya izin enggak dikasih," ungkapnya.

"Akhirnya dipakai sama dia (PT KAI), dengar-dengar isunya mau dijadikan tempat parkir." pungkasnya.

Lokasi pemukiman kumuh tersebut tepatnya di RT 03 Jalan Pintu Air II, berada di samping rel kereta api di belakang stasiun Juanda. Pemukiman ini sangat kumuh dan kotor dengan tumpukan sampah yang menggunung dan bercecer, bahkan, sepanjang jalan rumah warga. Bau menyengat yang keluar dari sampah tersebut sangat tercium dan menusuk hidung.

Tidak terdapat celah dan lahan kosong sedikit pun diantara rumah-rumah warga, hanya tersisa jalan sepetak untuk  berjalan kaki. Kamar mandi umum masih digunakan warga sekitar dengan sumur penuh lumut, dan dapur mereka pun berada di luar rumah.