Mohon tunggu...
Teguh Adi Prasetyo
Teguh Adi Prasetyo Mohon Tunggu... Mahasiswa - Future Journalist

being brave is the starting point of justice, self-control is the way towards justice and rational is the key of justice

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Seni Mendengarkan, Bagaimana Menjadi Pendengar yang Baik? Simak Caranya!

22 Desember 2021   02:17 Diperbarui: 23 Desember 2021   03:54 487
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagaimana mendengar dan mendengarkan adalah sesuatu yang berbeda? 

Dalam kamus besar bahasa Indonesia mendengar adalah sebuah proses menangkap bunyi oleh pancaindera (telinga) dimana manusia menjalankan fungsi dari indera pendengarannya, berbeda dengan mendengarkan dimana manusia memfokuskan diri untuk sungguh-sungguh menymak konteks pembicaraan dari lawan bicara. Dapat dikatakan mendengar dan mendengarkan adalah dua hal yang berbeda, ini berkaitan tentang sejauh mana komunikan mengolah pesan dari komunikator.

Pada artikel ini kita akan membahas tentang seni mendengarkan dimana ini adalah sebuah keterampilan yang wajib manusia miliki untuk tetap bisa bersosialisasi dan membangun relasi yang positif. Mendengarkan bukan sebuah skill yang diturunkan oleh orang tua kita atau sebuah mukjizat yang datang begitu saja, manusia bisa mempelajari bagaimana untuk menjadi seorang pendengar yang baik terutama dalam konteks hubungan antarpribadi. Berikut caranya :

Menerima pesan dari komunikator

Syarat pertama sebelum masuk pada tahap berikutnya adalah proses penerimaan pesan, perlu digaris bawahi bahwa mendengar dan mendengarkan adalah dua hal yang secara konsep memiliki perbedaan proses penerimaan pesan juga harus sangat berhati-hati, jangan sampai kita memberikan premature judgement terlebih dahulu atau feedback yang sangat spontan.

Memahami pesan yang disampaikan oleh lawan bicara kita 

Seorang pendengar disini dituntut untuk dapat menafsirkan pesan yang disampaikan oleh komunikator, pendengar bisa menghubungkan apa yang disampaikan dengan pengalaman masa lalu atau bagaimana prinsip kita menerima atau menolak pesan yang disampaikan. Pada tahapan kedua ini pendengar memusatkan perhatiannya untuk benar-benar fokus mendengarkan pesan yang disampaikan agar tidak terjadi mispersepsi atau miskomunikasi. Misalnya A bercerita kepada si B tentang hubungan romansanya yang toxic, pendengar harus memusatkan perhatiannya dan tidak langsung memberikan feedback yang frontal agar dapat mendengarkan secara efektif. Disini perlu pendengar harus bisa benar-benar meresapi apa yang disampaikan oleh lawan bicara.

Mengingat baik-baik apa yang sudah disampaikan

Pada tahapan kedua ini pendengar dituntut untuk dapat menyimpan baik-baik pesan yang disampaikan didalam memori. Untuk mencerna pesan saja tidak cukup dalam proses mendengarkan ini, kita perlu mengingat baik-baik apa yang disampaikan oleh komunikator agar ketika kita memberikan feedback kita paham betul apa yang dia sampaikan tadi, jangan sampai ada pengulangan seperti “eh tadi kamu ngomong apa ya?” bisa jadi kita dinilai tidak memberikan respect kita terhadap apa yang disampaikan oleh lawan bicara kita. proses mengingat ini sangat diperlukan agar ketika memberikan respon nantinya lawan bicara benar-benar merasa dihargai.

Berpikir kritis saat memproses pesan yang disampaikan

Sebagai pendengar, kognitif kita harus secara aktif berpikir kritis saat memproses dan mempertimbangkan pesan yang sudah didapat. Meskipun dalam konteks hubungan antar pribadi kita memerlukan empati untuk memberikan rasa nyaman kepada komunikator namun sebagai pendengar kita harus benar-benar mengolah pesan dengan sangat hati-hati, kita perlu berpikir secara logis tanpa mengesampingkan empati kita terhadap lawan bicara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun