Mohon tunggu...
Taufiq Rahman
Taufiq Rahman Mohon Tunggu... profesional

Menulis karena ingin berbagi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Pada Lukisan Itu, Tercantum Falsafah Luhur Konsep Hidup Bertoleransi

12 Juni 2019   15:49 Diperbarui: 12 Juni 2019   22:00 0 7 2 Mohon Tunggu...
Pada Lukisan Itu, Tercantum Falsafah Luhur Konsep Hidup Bertoleransi
dokpri

Yen sira landep aja natoni,
Yen sira banter aja nglancangi,
Yen sira mandi aja mateni.

Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan, seorang wali yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus, pernah mengajarkan pesan demikian. Pada jamannya.

Dan, falsafah sangat luhur itu, kemarin, pada saat libur hari raya Idul Fitri 2019, saya temukan tercantum di lukisan Gusjigang, di Museum Jenang Kudus, Jalan Sunan Muria, Kudus. Sekitar 600 meter sebelah utara dari Alun-alun Kudus. Saya memang baru sempat berkunjung ke museum itu kemarin.

Di depan lukisan Gusjigang itu, saya berhenti. Sejenak. Dan berkomentar. "Sudah ratusan tahun silam, Sunan Kudus sudah mengajarkan umatnya tentang falsafah hidup yang demikian mulia dan luhur dan akan terus abadi hingga melintasi jaman," di dalam hati aku menyimpan sendiri komentar-komentarku itu.

Pada lukisan itu juga, jika kita jeli melihatnya, akan memberitahu kita kisah, bahwa para lelaki kota Kudus adalah sosok yang saleh dan seorang pekerja keras.

Dan sosok perempuan Kudus digambarkan sebagai sosok yang sangat perhatian terhadap keluarganya serta taat beribadah.

Yakkk, warisan Sunan Kudus yang diabadikan di lukisan Gusjigang itu memang merupakan salah satu falsafah sangat luhur tentang konsep bagaimana memandang keanekaragaman dan menata toleransi. 

Falsafah itu mengajarkan kita tentang sikap hidup yang bemuara pada kerendahan hati, menghormati orang lain, tidak menang-menangan sendiri serta sikap mengalah.

Mungkin karena warisan dan pesan Sunan Kudus yang seperti itu sangat ditaati umat dan demikian kuat mengakar di hampir semua sendi-sendi kehidupan masyarakat kota Kudus sehingga berhasil membuat sikap toleransi masyarakat Kudus terus terawat hingga hari ini, tidak pernah aus, rusak atau kadaluwarsa oleh jaman.  

Masyarakat Kudus memang senantiasa mampu merawat sikap toleransi. Maka, hasilnya, hingga hari ini, kita bahkan hampir tidak pernah mendengar kabar ada kejadian kerusuhan yang bermuara pada perbedaan etnis dan agama di kota kecil itu. Padahal, bukankah, ada begitu banyak industri dan perusahaan besar di sana yang dimiliki dan dioperatori oleh orang-orang non muslim dan bukan etnis Jawa.

Aku memang kerap beberapa kali berhasil merekam sendiri suasana sangat akrab dan hangat antar masyarakat Kudus yang sangat berbeda-beda itu. Di warung lentog, di kedai kopi, di pasar-pasar dan warung soto pinggir jalan. Di pagi dan malam hari. 

Bagi saya pribadi, cerita keakraban itu adalah seperti ulangan cerita ratusan tahun silam, jauh sebelum hari ini kita berteriak-teriak tentang pentingnya toleransi. Pada zaman dahulu masyarakat Kudus sudah demikian menghargai keanekaragaman.

Maka, atas jasa-jasa sang Sunan dan fakta atau keadaan masyarakat di kota Kudus itulah, tidak salah jika Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Kementerian Agama pernah menyebut Sunan Kudus sebagai Bapak Kerukunan.

Sunan Kudus adalah salah satu wali dari sembilan wali atau Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di kota Kudus dengan santun dan dengan cara-cara yang rahmatan lil alamin, yang menghargai perbedaan, dan yang mestinya bisa menjadi inspirasi untuk membangun dan merawat kerukunan umat dengan rupa-rupa agama dan etnis, yang pernah koyak oleh beberapa gelintir orang dan kelompok itu.

Lihatlah betapa di dalam musium jenang Gusjigang itu kita bisa menjumpai suguhan rupa-rupa warisan bangunan yang memadukan arsitektur dan corak Jawa, Islam, Hindu, dan China. Ini menjadi saksi betapa Sunan Kudus itu sangat ingin merawat keberagaman dan sekaligus menjadi peneguh bahwa sang Sunan itu bisa menerima perbedaan.

Museum Jenang atau yang juga dikenal dengan nama Gusjigang X-Building sendiri adalah bangunan museum yang menyatu dengan toko jenang Mubarok, di Jalan Sunan Muria, Kudus. Musiumnya tidak terlalu luas. Meski tidak luas, saya kira, sudah cukup menceritakan sejarah Kudus dengan lengkap.

Museum ini mengusung konsep sebagai tempat wisata dengan edukasi bagi para pengunjungnya.

Sedangkan nama Gusjigang sendiri, seperti saya uraikan di atas, diambil dari ajaran moral warisan Sunan Kudus yang merupakan falsafah hidup masyarakat Kudus. Gusjigang adalah kearifan dan nilai-nilai masyarakat lokal kota Kudus.

Gusjigang adalah singkatan dari baGUS (tema spiritual - akhlak), pinter ngaJI (tema intelektual) dan pandai berdaGANG (tema ekonomi).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2