Mohon tunggu...
Taufik Uieks
Taufik Uieks Mohon Tunggu... Dosen - Dosen , penulis buku travelling dan suka jalan-jalan kemana saja,

Hidup adalah sebuah perjalanan..Nikmati saja..

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Yogya Pada Era 1970-an

7 Juli 2022   08:42 Diperbarui: 7 Juli 2022   08:54 434
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kraton Yogya: Dokpri

Sudah beberapa hari saya kembali berada di Yogya. Sebuah kota yang selalu bikin kangen dan penuh  nostalgia dari abad lampau.   Tadi malam saya menyempatkan beranjangsana ke kawasan Sosrowijayan, Pasar Kembang dan daerah di sekitar Stasiun Tugu.  Suasana sangat ramai dan kendaraan padat merayap. Maklum di masa liburan sekolah seperti sekarang ini, Yogya memang selalu ramai. 

Nah suasana di sekitar kawasan itu membawa ingatan ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini. Sudah lama sekali lebih dari 46 tahun yang lalu, atau tepatnya akhir 1975.  Kalau itu saya memberanikan diri meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu di kota ini.  Lalu bagaimana cara ke Yogya pada zaman itu?

Tentu saja ada banyak cara ke Yogyakarta. Secara umum masih sama dengan sekarang kecuali jarang sekali yang ke Yogya naik kendaraan pribadi, apalagi lewat tol Trans Jawa karena saat itu Indonesia, bahkan pulau Jawa belum ada jalan tol dan kebanyakan rakyat juga belum punya kendaraan pribadi.

Dari pulau Sumatra, bisa naik kapal yang menyeberangi rute Pelabuhan Panjang menuju Merak.  Kalau sekarang untuk menyeberang banyak feri dari Bakauheni, bahkan saat itu Pelabuhan Bakauheni pun belum ada.  Setelah naik kapal dari Panjang ke Merak, perjalanan dilanjut dengan bus menuju terminal di Lapangan Banteng.   Kala itu Lapangan Banteng  merupakan terminal bus antar kota sekaligus salah satu terminal paling ramai di ibu kota.  Oh ya terminal bus antar kota di Pulogadung sendiri baru ada sekitar tahun 1976 atau 1977.  

Selain dari Lapangan Banteng, penumpang juga bisa naik bus antar kota dari beberapa kantor agen bus malam di sekitar Jalan Gajah Mada.  Walau tidak seramai sekarang, kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk juga sudah ramai dan sedikit macet pada saat itu.  Lalu berapa harga tiket naik bus malam Jakarta -Yogya.   Harganya yang saya ingat adalah Rp. 2.200 Rupiah saja.  Harga tiket bus hampir sama  dengan tiket kereta api kelas ekonomi dari Stasiun Gambir.

Bus biasanya berangkat sekitar pukul 4 atau 5 sore dari Lapangan Banteng dan kemudian bergerak kea rah timur melalui Pantura melewati Cempaka putih, Pulogadung, Bekasi.  Ada dua rute bus yang popular, yaitu bisa lewat rute selatan melewati Purwokerto, Gombong dan Kebumen  atau jalur utara melalui Semarang dan kemudian Magelang.  Bus juga berhenti beberapa kali untuk istirahat dan makan di Sukamandi serta sekitar Pekalongan.

Biasanya bus malam akan tiba di Yoga sekitar pukul 4 pagi di kantor agen bus malam di dekat stasiun tugu, di jalan Mangkubumi. Dan dar sini perjalanan bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki atau naik becak menuju ke penginapan atau losmen dan hotel tempat kita menginap. 

Saya masih ingat menginap pertama kali di sebuah hotel atau losmen di sekitar Sosrowijayan dengan tarif 900 Rupiah per malam.  Nah untuk tempat wisata di Yogya dan sekitarnya, secara umum masih sangat terbatas dan belum banyak seperti sekarang. Tentu saja kawasan Malioboro tetap menjadi primadona bahkan sejak dulu.  Namun yang jelas Benteng Vredeburg pada saat itu masih menjadi tempat yang angker dan menyeramkan karena tertutup rapat menyimpan seribu misteri.

Tempat yang menjadi favorit tentu saja kraton Yogya dan sekitar alun-alun utara.  Di sini selalu ada perayaan Sekaten bila kita datang pada bulan-bulan tertentu.

Setelah beberapa hari di hotel, akhirnya saya kemudian pindah ke kos di Jalan Gerjen yang kini menjadi Jalan Nyai Ahmad Dahlan.  Kebetulan di sini juga tinggal beberapa tetangga yang sudah lebih dahulu belajar di Yogya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun