Mohon tunggu...
Pemerintahan

Peluang Chairul Tanjung, Cawapres Jagoan Denny Siregar (1)

8 Juni 2018   15:29 Diperbarui: 8 Juni 2018   15:39 0 0 0 Mohon Tunggu...
Peluang Chairul Tanjung, Cawapres Jagoan Denny Siregar (1)
Chairul Tanjung (Credit: Merdeka.com)

Bagaimana peluang Romahurmuziy, Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartarto, Agus Harimurti Yudhoyono, Chairul Tanjung, Mahfud MD, dan lain-lain?

Demikian pertanyaan yang belum terjawab pada dua artikel saya sebelumnya. Walau Gatot tampak unggul dalam survei sementara ini, saya melihat peluangnya sebagai Cawapres Jokowi cenderung kecil karena dua hal. Pertama, dia sendiri berambisi menjadi Capres. Kedua, politik SARA dan isu PKI Gaya Baru yang dia mainkan cenderung tak seirama dengan Jokowi yang tak suka kegaduhan. 

Pada tulisan ini, mari kita bahas mengenai peluang tokoh yang berpotensi mendampingi Joko Widodo dalam Pilpres 2019. Kita mulai saja dari Chairul Tanjung (CT), eks Menko Perekonomian era Presiden Joko Widodo-Boediono. Mengapa?

Pertama, nama CT dijagokan Denny Siregar. Hehehe. Influencer yang mendadak kondang ketika Pilgub DKI Jakarta ini mengajukan sejumlah alasan yang masuk akal. Sebagai pendukung utama Ahok dan Jokowi, argumennya perlu kita telaah. Secara singkat, berikut alasan Denny Siregar menjagokan CT:

  1. Chairul Tanjung adalah pengusaha pribumi yang menonjol. Ia juga pekerja dan tidak berisik. Ia juga tidak begitu berambisi untuk meraih jabatan sehingga tidak mengganggu kinerja Jokowi bahkan akan mengembangkannya.
  2. Chairul Tanjung adalah pendukung ide pembangunan infrastruktur Jokowi sejak awal.
  3. Jokowi kemungkinan besar akan memanfaatkan jaringan usaha mikro dari pengusaha sekelas Chairul Tanjung untuk meningkatkan ekonomi dari daerah-daerah tertinggal yang sudah ia bangun infrastrukturnya.
  4. Chairul Tanjung juga punya potensi untuk mendatangkan investasi dari jaringannya kalangan pengusaha luar negeri sehingga ekonomi di daerah menggeliat.
  5. Chairul Tanjung adalah konglomerat minoritas yang berasal dari kalangan pribumi akan menaikkan nilai jual Jokowi.
  6. Chairul Tanjung juga akan meredam isu bahwa Jokowi adalah musuh umat muslim, karena Chairul Tanjung adalah pengusaha muslim juga. Dia juga akan berpengaruh untuk merekatkan hubungan Jokowi dengan partai besar lainnya seperti Demokrat, karena Chairul Tanjung dikabarkan sangat dekat dengan petinggi Demokrat.
  7. Chairul Tanjung adalah pilihan yang netral dan tepat untuk meredam banyak hal. Ia punya uang, punya jaringan televisi dan yang pasti ia akan diterima banyak kalangan, baik dari politisi maupun pengusaha, karena hubungannya yang baik dengan mereka.

Alasan kedua mengapa kita mulai dari CT adalah tampak jelas bahwa namanya tidak muncul ujug-ujug dari langit. Meminjam istilah Mahkamah Konstitusi, CT muncul secara Terstruktur, Sistematis, dan Masif.

Artinya, gerakan sudah diorkestrasi rapi, layaknya gerakan Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy, Gatot Nurmantyo, dan Airlangga Hartarto. Indikasinya sederhana saja, yakni keberadaan kelompok yang mengatasnamakan kelompok relawan Sobat Jokowi dan Chairul Tanjung alias Sobat Jokowi-CT. Relawan tentu saja tak sepenuhnya bekerja gratisan. Pasti sudah ada penyandang -minimal- dana operasional.

Secara sekilas, saya setuju dengan argumen Denny Siregar. Akan tetapi, mungkin karena terburu-buru ngopi, Denny baru sempat menuliskan kelebihan dan kekurangan CT secara sederhana. Dia belum membahas bagaimana peluang CT sesuai realita politik nasional kita saat ini.

Realita apa sih?

Begini, jika Jokowi memilih CT, maka hal itu akan sama dengan langkah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat meminang Boediono sebagai wakilnya dalam Pilpres 2009. CT dan Boediono sama-sama bukan orang partai politik. CT berlatar belakang pengusaha sukses, sedangkan Boediono adalah birokrat.

Sayangnya, Jokowi Bukan SBY. Dia bukan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P). Jokowi tak sebebas SBY dalam memilih wakilnya. Dia harus meyakinkan partainya sendiri yang dipimpin Megawati Soekarno Putri, lalu meminta dukungan partai-partai lain di koalisi pemerintahannya.

Jokowi tak sebebas SBY dalam memilih wakilnya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN