Mohon tunggu...
Pemerintahan Pilihan

Memahami Politik Populis Gatot Nurmantyo (2)

7 Juni 2018   14:40 Diperbarui: 7 Juni 2018   14:52 0 0 0 Mohon Tunggu...
Memahami Politik Populis Gatot Nurmantyo (2)
Aksi 411. (Sumber: M Agung Rajasa/Antara)

Mengapa Gatot Nurmantyo tiba-tiba populer? Bagaimana peluang Romahurmuziy, Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartarto, Agus Harimurti Yudhoyono, Chairul Tanjung, Mahfud MD, dan lain-lain?

Dari perspektif marketing, Gatot Nurmantyo mengalami "Tipping Point", meminjam istilah Malcolm Gladwell, ketika Aksi Bela Islam (ABI) pada Oktober 2016 (411) dan Desember 2016 (212) berlangsung di Jakarta. Gatot, ketika itu, secara terbuka menyatakan dukungan terhadap ABI, termasuk pembelaannya terhadap salah satu tokoh terkemukanya, Habib Rizieq Shihab. Sesudah itu, Gatot juga rajin safari mengunjungi tokoh-tokoh agama, yang merupakan manuver politik demi ambisinya menjadi presiden di Pilpres 2019.

Situasi politik di Jakarta, ketika itu, memang tengah gonjang-ganjing karena jutaan umat Islam menuntut Ahok dipenjara karena dianggap melecehkan Al Quran. Jumlah umat yang besar tersebut sampai-sampai memperlebar ancaman tak hanya kepada Ahok sendiri, tetapi juga kepada Presiden Joko Widodo.

Belakangan, seperti ditulis jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat Allan Nairn di The Intercept "Trump's Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President". Aksi Bela Islam dijadikan dalih oleh "Rekan-rekan Donald Trump di Indonesia...bersama para tentara dan preman jalanan yang terindikasi berhubungan dengan ISIS...untuk menjatuhkan Presiden Joko Widodo."

Ketika situasi negara dirundung ketidakpastian, godaan elite politik untuk menarik militer ke tengah pertarungan atau elite militer berinisiatif mengambil tindakan memang sangat besar. Hal semacam ini sudah kita lihat sejak orde lama, tepatnya pada 17 Oktober 1952, Angkatan Darat meminta Presiden Soekarno membubarkan parlemen.

Dalam kasus ABI, ada anggapan yang kuat di antara demonstran bahwa Panglima TNI berada di pihak mereka untuk melawan pemerintah. Ditambah lagi, informasi berupa teks, meme, dan poster terkait sikap Gatot Nurmantyo terhadap aksi 212 menyebar dengan sangat cepat.

Salah satu ucapan Gatot yang dianggap membela ABI adalah ketika menjadi menjadi bintang tamu di acara Mata Najwa dengan tema 'Menjaga Bhinneka' yang disiarkan Metro TV pada Rabu (2/11) malam WIB.

Menjawab pertanyaan Najwa Shihab tentang keterlibatan TNI dalam pengamanan demonstrasi yang dilakukan umat Islam pada 4 November 2016, Gatot menjawab:

"Nana, begini. Dalam konteks ini mari kita berpikiran positif. Bahwa yang akan melaksanakan demo itu adalah saudara-saudara kita sebangsa se-Tanah Air. Mereka, kata Kiai Abdul Mu'ti tadi, tidak punya tempat di Mata Najwa. Sehingga mereka di jalan raya, ke Istana (Negara). Jadi kita berpikiran positif," kata Gatot.

"Kemudian kita mengawal, TNI turun BKO (bantuan kendali operasi) kepolisian, kita mengawal agar saudara yang menyampaikan aspirasinya itu tercapai. Dengan tenang, tertib menyampaikan, sehingga mereka mematuhi aturan yang disampaikan Pak Kapolri."

Berdarkan sudut pandang politik populis, manuver Gatot Nurmantyo adalah langkah cerdas dengan memanfaatkan momentum ABI untuk meraih dukungan umat islam. Kedua, Gatot dianggap sebagai antitesis Presiden Jokowi, walaupun saat itu Gatot masih menjadi bagian dari pemerintah.

Apalagi, saat Jokowi sedang semangat membangun infrastruktur dan melonggarkan aturan Tenaga Kerja Asing, Gatot justru mengembuskan isu Kebangkitan Komunis atau Komunis Gaya Baru. Menakut-nakuti orang bahwa penduduk pribumi Indonesia bisa punah karena migrasi penduduk asing, terutama dari Cina. Sebelumnya, dia juga aktif mempromosikan tesis bahwa Indonesia terancam menjadi "Proxy War" kekuatan asing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN