Mohon tunggu...
Hutami Pudya
Hutami Pudya Mohon Tunggu...

"Semoga bermanfaat" ^_^

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Masa Omelan untuk Siswa (MOS)

20 Juli 2012   23:16 Diperbarui: 25 Juni 2015   02:45 0 2 0 Mohon Tunggu...
Masa Omelan untuk Siswa (MOS)
13428260401679054518

[caption id="attachment_188828" align="aligncenter" width="360" caption="Ilustrasi (Sumber foto: republika.co.id)"][/caption]

Air minum bebas bulu, keripik OVJ, pulpen terbang, biskuit penyanyi dangdut, buku tulis merek pacarnya teteh, telur setengah mata sapi, air minim yang botolnya bentuk pocong, adalah beberapa beberapa benda yang harus dibawa Bisiril, anak rekan kerja saya. Belum lama ini, saya diminta membantu rekan kerja saya memecahkan kata-kata sandi tersebut. Putranya yang harus mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) disuruh membawa benda-benda itu oleh seniornya. Kalau tertinggal satu saja, bakal jadi bulan-bulanan senior saat MOS berlangsung.

Sembilan tahun silam, saya juga mengikuti kegiatan MOS di SMA. Kata senior saya, kalau tak mau mengikuti MOS, bakal dicoret dari daftar nama SMA saya itu. Entah benar atau hanya menakut-nakuti, dengan keluguan anak usia 15 tahun, saya percaya saja. Saya juga disuruh membawa berbagai benda “aneh” ke sekolah, dan saya berdandan seperti orang bodoh. Sebelum pelaksanaan MOS berlangsung, senior saya berkata bahwa MOS adalah ajang saling mengenal teman baru, kaka kelas, guru, dan lingkungan kelas. Ia juga mengatakan, saat MOS, pasti ada kakak kelas yang bersikap sangat tegas (suka marah-marah). Jadi kalau mau lolos dari semprotan kakak kelas tersebut, turuti perintahnya (meski permintaannya terbilang aneh).

Dan benar saja. Hari pertama MOS, para senior yang bertugas mengospek kami berhasil membuat jantungan. Mereka tak segan membentak dan memaki siapa saja yangmereka anggap melanggar aturan atau terlihat menantang mereka. Tidak hanya itu, saat mereka masuk kelas, bukan salam yang mereka ucapkan, tetapi mendobrak pintu. Sontak kami kaget setengah mati. Mereka juga kerap memukul meja, menambah suasana menjadi begitu mencekam.

Saya ingat, ketika mereka menyuruh kami untuk memakan bekal nasi yang kami bawa, dan harus habis dalam waktu tiga hitungan. Tak sedikit dari kami tersedak karena terlalu terburu-buru dan takut.

Tak hanya kami yang “tersiksa”, orang tua kami pun “tersiksa”. Kata-kata sandi yang mereka buat tentu juga membuat orang tua kami kelimpungan. Mereka membantu kami mencari barang-barang yang harus dibawa saat MOS. Mana ada orang tua yang tega anaknya “ditindas” saat MOS nanti.

Kata mereka, sikap senior yang seperti itu membantu kami untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, mampu menghadapi tantangan yang lebih berat di masa mendatang, dan lebih disiplin. Hmmm... benar kah?

Saya kok malah merasa tindakan para senior yang suka marah-marah itu justru membuat jurang pemisah antara senior dan junior. Tak sedikit tindakan senior yang berlebihan saking asyiknya mengerjai adik kelas. Katanya MOS itu ajang untuk saling mengenal satu sama lain, termasuk dengan senior.

MOS yang lebih banyak diisi dengan intimidasi adik kelas justru akan membudayakan penindasan dan “kasta”. Junior dipandang lebih rendah dari senior, jadi tidak boleh macam-macam. Menatap pun takut. Nanti dikira menantang, padahal mau kenalan.

Mengapa MOS di sekolah tidak diisi dengan kegiatan yang bisa mengakrabkan senior dan junior atau siswa baru dengan gurunya? Mengapa di kegiatan MOS, para senior tidak mencitrakan diri mereka kakak kelas yang menerima kedatangan adik kelasnya dengan suka cita, tanpa marah-marah atau bertampang judes. Dengan begitu budaya gotong-royong pun akan tumbuh.

Pembentukan mental yang lebih kuat dan kedisiplinan tak perlu melalui cara intimidasi, bisa dengan cara yang lebih santun. Cara santun akan membuat mereka dengan sadar mematuhi aturan, meski harus ada proses yang harus ditempuh. @TamiPudya

KONTEN MENARIK LAINNYA
x