Mohon tunggu...
Lupin TheThird
Lupin TheThird Mohon Tunggu... Seniman - ヘタレエンジニア

A Masterless Samurai -- The origin of Amakusa Shiro (https://www.kompasiana.com/dancingsushi)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Quadragesima dan Keabadian

4 April 2021   06:00 Diperbarui: 5 April 2021   01:35 569
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gereja Katolik Seijo, Tokyo (Dokumentasi pribadi)

Dalam rentang waktu 40 hari itu, puasa yang kita lakukan pada hakikatnya bukan sekadar puasa lahir. Yaitu tidak makan kenyang, maupun pantang atas makanan atau hobi. 

Yang lebih penting adalah, bagaimana selama 40 hari itu orang sadar atas dosa-dosa yang telah dilakukan, sesudah itu memohon ampun. Apalagi puncak quadragesima adalah kebangkitan Kristus. 

Hari ini, hendaknya kita dapat menjadi satu dengan Yesus Kristus, yang wafat kemudian bangkit agar manusia bisa keluar dari kerajaan maut, menuju kehidupan dalam kerajaan yang abadi. 

Bukanlah suatu hal yang kebetulan bahwa quadragesima, ternyata berhubungan dengan situasi yang kita alami sekarang.

Alasannya begini. Saat ini, dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Bagi orang yang bepergian antar kota maupun antar negara, mereka harus masuk karantina baik secara mandiri, maupun di tempat-tempat yang sudah disediakan.

Karantina, berasal dari kata quarantine dalam bahasa Inggris, yang diambil dari bahasa Italia, quaranta. Nah, kata quaranta, artinya juga empat puluh. 

Pada masa pandemi ini, kita memang (terkadang) masih terbelenggu, entah karena karantina maupun karena sebab lain. Akan tetapi, tidak perlu khawatir apalagi pesimis, karena pandemi bukan melulu menimbulkan efek buruk. 

Kalau mau sedikit mengubah cara pandang, penderitaan orang karena pandemi justru memberi arti lebih kepada kita semua. Lah, bagaimana ceritanya penderitaan itu memberi arti lebih?

Jawabannya simpel. Penderitaan yang terkadang berakhir dengan kematian, bisa membuat manusia menjadi sadar bahwa kehidupan sebagai anugerah Tuhan, adalah tiket yang berlaku satu kali jalan. Bukan seperti tiket pulang pergi, di mana orang dapat memakainya dua kali. Bukan juga seperti tiket abonemen yang boleh kita pakai berulang kali.

Tidak hanya kehidupan seumur hidup, namun kehidupan hari per hari, jam per jam, menit per menit, bahkan detik per detik pun, hanya kita rasakan satu kali saja. Waktu yang telah berlalu tidak akan bisa diputar ulang dan alami kembali, bak memutar ulang kaset rekaman.

Empat puluh hari pantang dan puasa itu hendak mengingatkan kembali, bahwa waktu yang kita jalani di dunia ini terbatas. Keterbatasan manusia terasa jelas saat awal quadragesima. Yaitu melalui misa Rabu Abu, yang merupakan ingatan, bahwa manusia berasal dari abu, dan akan kembali menjadi abu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun