Mohon tunggu...
Syarif Enha
Syarif Enha Mohon Tunggu... Manusia yang selalu terbangun ketika tidak tidur

Manusia hidup harus dengan kemanusiaannya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ajaran Tuhan tentang Belajar Membaca

8 Juli 2020   00:36 Diperbarui: 8 Juli 2020   00:34 32 5 0 Mohon Tunggu...

Satu surat Al Qur'an yang diklaim sebagai surat pertama diturunakan adalah surat al 'Alaq. Ayat pertama dalam surat itu adalah frasa perintah untuk membaca, Iqro'. Perintah membaca tidak pernah ditujukan kepada orang yang tidak mampu membaca atau ketiadaan sesuatu yang dibaca. Sehingga saya memaknai surat ini bukan saja implikasinya sebagai perintah membaca, namun secara eksplisit berisi ajaran tentang bagaimana mestinya cara orang untuk membaca.

Tujuan membaca adalah menemukan maksud atau makna yang terkandung di balik apa yang kita baca. Tidak perduli apa yang kita baca. Apakah itu berupa naskah tulisan, atau bahkan hanya sebongkah batu yang hitam. 

Menempuh perjalanan menuju suatu tempat menuju tempat lain juga bisa disebut membaca. Bercakap dengan seseorang juga bagian dari membaca. Merenung untuk memperoleh jawaban dan solusi adalah juga membaca. Bahkan setiap akal kita berusaha menterjemahkan objek yang tertangkap oleh indra kita, tidak boleh tidak kita sebut sebagai proses membaca.

Bagaimana mestinya membaca, sehingga kita benar-benar akan memperoleh nilai yang kita cari? Al Qur'an dalam surat Al 'Alaq ini telah mengajarkannya.

Ayat pertama menuntun kita untuk memulai proses membaca itu dengan disertakan asma atas nama Tuhan yang telah menciptakan. Hal ini tidak cukup kita maknai hanya membaca basmalah di awal proses, namun hendaknya Tuhan menjadi ruh dalam keberlangsungan proses kita. Itulah sebabnya dalam ayat itu menerangkan kemudian bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan yang Maha Menciptakan. 

Artinya pembacaan kita tidak boleh lepas dari kontrol dan kesadaran bahwa apapun yang tengah kita kaji, dan bahkan alat intelektualitas kita yang digunakan untuk membaca tidak lain adalah ciptaan Tuhan itu sendiri. sehingga pada ayat kedua, dijelaskan bahwa Dia lah yang menciptakan manusia dari segumpal darah. 

Ayat ini seperti ingin mengikat kita bahwa diri kita ini yang tengah berusaha menterjemahkan banyak hal adalah tidak lain ciptaan Tuhan juga. Dengan demikian selama proses pembacaan kita tidak boleh lepas dari syukur dan kerendahan hati yang paling puncak.

Dalam ayat ke-tiga sampai ke-lima, Allah ingin menegaskan kembali, bahwa pemahaman yang kita hasilkan dalam upaya membaca kita bukan murni hasil kuasa kita, namun ada Dia yang pada hakekatnya telah mengajarkan manusia dengan perantara kalam. Dan tiada pihak yang lebih patut diajukan terimakasih kecuali Dia, karena Dia lah yang telah mengajarkan manusia dari apa yang sebelumnya tidak dia ketahui.

Cangkir Kosong

Jika kita menuangkan air kedalam cangkir berisi air yang penuh, tentu yang terjadi adalah air yang kita tuang akan tumpah sia-sia. Begitu pula dalam hal membaca. Jangan sekali-kali kita memposisikan diri penuh berisi ketika bermaksud menyerap ilmu yang murni. Kalau perlu kosongkan cangkir ilmu ilmu untuk menampung ilmu semesta yang luas.

Surat al 'Alaq menjelaskan hal tersebut di atas. Dalam ayat ke enam dan ke-tujuh jelas dinyatakan bahwa kebanyakan dari orang itu bertindak melampaui batas karena menganggap dirinya telah cukup. Dari sini Allah seperti hendak berkata kepada kita, bahwa kebanyakan orang tidak melakukan hal sebagaimana diterangkan dalam ayat satu sampai dengan lima hanya karena mereka merasa telah memiliki pengetahuan yang cukup, dan mengingkari keberadaan ilmu yang lebih luas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x