Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 39 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memberantas Buta Aksara di Era Digital

6 September 2022   15:14 Diperbarui: 6 September 2022   15:20 143 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Taman Bacaan Lentera Pustaka

Siapa sangka di era digital yang canggih begini , masih ada kaum buta aksara atau buta huruf. Kaum ibu yang tidak bisa baca-tulis, bahkan tidak bisa menikmati hebatnya bermain gawai. Di mata kaum buta aksara, era digital dan kehebatan teknologi tidak ada maknanya. Karena semua dilakukan manual atau didatangi secara tatap muka. Tidak ada WA, SMS apalagi facebook atau Instagram.

Realitas itulah yang terjadi di Gerakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Diinisiasi oleh seorang dosen, Syarifudin Yunus, Pendiri Taman Bacaan Lentera Pustaka secara tidak sengaja bertemu dengan ibu buta aksara yang tidak bisa baca-tulis. 

Kini sudah 2,5 tahun berjalan  program pemberantasan buta aksara di Kampung Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab, Bogor. Awalnya hanya diikuti 4 ibu warga belajar. Lalu, berkurang menjadi 2 ibu. Dan kini ada 9 kaum ibu tercatat sebagai warga belajar berantas buta aksara. Dengan fasilitas seadanya yang tersedia di taman bacaan, seminggu dua kali (Kamis dan Minggu) kaum buta aksara belajar baca-tulis secara rutin.

Dari awalnya tidak bisa menulis nama dan membuat tanda tangan, kini mereka sudah mampu menuliskan namanya sendiri dan tanda tangan. Terus belajar mengeja kata demi kata, hingga kalimat demi kalimat. Memang belum lancar tapi sudah bisa membaca kata demi kata dengan lenuh kesabaran. Belajar baca-tulis di mata mereka, memang ala bisa karana biasa. Agar terbebas dari belenggu buta aksara.

Adalah fakta, kaum ibu buta aksara di program, GEBERBURA Taman Bacaan Lentera Pustaka memiliki tingkat pendidikan 33% SD dan 67% SD tapi tidak lulus. Tergolong kaum prasejahtera atau miskin. Pekerjaanya hanya ibu rumah tangga atau pembantu rumah tangga. Ada motivasi kuat dari mereke untuk belajar baca-tulis. Agar dapat menemani anak-anaknya belajar, di samping meningkatkan harkat martabat sebagai ibu yang tetap mau belajar, apapun kondisinya.

Nyantanya pula, tangan kaum buta aksara tergolong kaku saat menulis. Bahkan mulut dan lidahnya pun agak berat saat mengeja kata. Butuh adaptasi dan kesabaran saat mengajar kaum buta aksara. Maka Taman Bacaan Lentera Pustaka pun menerapkan metode "BElajar dengan seNANG (BENANG)" pada kaum buta aksara. 

Diawali doa, selalu ada canda, senam gembira, dan selalu ada PR untuk membiasakan membaca dan menulis di rumah. Lebih dari itu, kaum ibu warga belajar pun sering diberi "hadiah" berupa seliter beras atau mie instan seusai belajar baca dan tulis. Tujuannya, agar mereka tetap mau datang belajar baca dan tulis ke taman bacaan.

Maka di Hari Aksara Internasional tahun 2022 in, ada pesan penting, Untuk terus peduli memberantas buta aksara, seberapapun angka statistik bicara. Mereka tetap kaum buta huruf yang tidak bisa menikmati kecanggihan teknologi dan era digital.Jangan jasihani mereka tapi bantulah mereka untuk bisa melek huruf, bisa membaca dan menulis.

Caranya, tentu dengan menjaga kemauan belajar baca dan tulis. Di samping tetap peduli kepada kaum buta aksara yang ada di dekat kita. Ubah setiap niat baik jadi aksi nyata. Salam literasi #GEBERBURA #TBMLenteraPustaka #BerantasButaAksara #TamanBacaan

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan