Mohon tunggu...
Syaiful Bahri
Syaiful Bahri Mohon Tunggu...

Syaiful Bahri, lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 11 Maret 1991. Kini tinggal di Surabaya dan berhimpun di komunitas ESOK. Sejumlah puisinya termaktub dalam antologi bersama, Teka-Teki tentang Tubuh dan Kematian (IBC, 2010), Antologi 100 Puisi Ibu (Satriowelang Publisher, 2011) dan Mengejar Matahari (2011).

Selanjutnya

Tutup

Catatan

SMS Lagi Ngapain dan Puisi

2 Desember 2011   17:21 Diperbarui: 25 Juni 2015   22:54 2553 0 0 Mohon Tunggu...

Beberapa hari lalu, saya bertemu Prima teman satu SMP dulu di acara alumni. Dia sekarang kuliah di Unair, jurusannya saya lupa. Sekitar tiga tahun tak ketemu dia kelihatan cantik, suka memakai baju gaya jepang pula.

Kami berbincang-bincang tentang kehidupan masing-masing selepas lulus dari SMPN 21 Surabaya. Lalu dia mengomel sendiri setelah melihat layar handphonenya, “Aduh, mesti SMS isinya lagi ngapain.” Saya bilang, “tidak kamu balas?” dia jawab: “Tidak, ah, bosan pertanyaannya gitu mulu.”

(Acep Zamzam)

Rupanya SMS, yang isinya lagi ngapain—artinya what are you doing, barangkali ada yang tak mengerti—ini sering dilontarkan teman-teman cowoknya. Sebuah kalimat pembukaan yang juga sering saya terima. Remaja mana yang tidak pernah membacanya? Tidak ada. Karena sering, atau terlalu sering maka telah mengakibatkan kebosanan akut.

Saya pun bertanya kepadanya, “Memangnya kamu tidak pernah mengirim SMS kayak gitu?” Prima menggeleng, menurutnya buat apa menanyakan aktivitas seseorang? Menurutnya kan lebih baik bertanya soal lain. “Bosan, ah, Bosan. Masa sudah sering menerima, saya juga mau mengirim sms seperti itu?”

Remaja berkerudung itu hanya nyengir. Dan malah balik bertanya, “Kamu juga sering kirim SMS lagi ngapain, ya?” Dia lalu tersenyum mengejek, “Ayo mengaku sajalah.” Tidak tahu kenapa mulut saya mengeluarkan kalimat: “Saya pernah mengirim, tapi saya lebih sering mengirim puisi pendek.” Ouh, shut. Saya menyesal mempunyai mulut yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya ini.

Dia tercenung sebentar seraya mengangkat kedua alisnya. Matanya sedikit memicing. Seraya mengeluarkan handphonenya, dia kembali berkata, “Boleh juga tuh. Saya mau dong dikirimin.” Tentu saja saya jawab boleh.

Saya sendiri sempat kaget. Bagaimana orang seperti Prima, yang gaul abis, tidak suka membaca, dan sering keluyuran, bisa meminta dikirimin puisi? What the hell?

“Tapi apa puisinya bagus?” Prima memang tidak tahu saya suka menulis puisi. Meski pun puisi saya sering dimuat di media cetak, saya tetap menjawab, “Lihat saja nanti.”

Percakapan terhenti. Panitia penyelenggara membagikan makanan dan minuman gratis. Mereka menanggung semua biaya menggelar acara alumni lulusan tahun 2006. Tidak heran, mereka kaya minta ampun.

Tanpa sungkan-sungkan, Prima mengaduk-ngaduk jusnya dan menyedot ujung sedotan itu sampai tinggal setengah. Dia haus sekali tampaknya. Tangannya beralih kepada makanan, dua roti, dia mengambil sebuah kemudian membuat gigitan besar. Apa dia sedang lapar? Gila, man.

“Ini nomer HP saya.” Dia membacakan 12 digit. Nomernya cantik. Ada 5 angka kembar berderet. Saya mencatatnya langsung dan menyimpannya dalam daftar kontak.

“Awas, loh ya? Kalau kamu SMS lagi ngapain.” Saya berjanji tidak akan mengirim SMS garing.

“Apakah kamu belum pernah dikirimi puisi oleh temanmu?” Dia mengaku pernah, tapi tidak sering. Ketika dia balas si pengirim puisi, dia pun tahu kalau puisi yang dikirim bukan karya sendiri.

“Pokoknya, Ful, kamu harus mengirim puisi karya kamu sendiri. Titik tidak pakai koma, tapi memakai tanda seru,” ujarnya. Saya juga berjanji tidak akan mengirim karya orang lain. ouh, shut. Saya baru sadar kalau saya tidak produktif lagi menulis puisi.

Saya berpikir, saya hanya akan mengirim kalau saya mempunyai puisi baru. Puisi pendek maksud saya. Cukup empat baris. Saya akan berusaha membuatnya. Tapi bukan puisi cinta, bisa berabe persoalannya. Saya akan mengirim puisi lain kepadanya. Itu syah, tidak ada dalam perjanjian. Meski pun saya kira semua remaja lebih suka membaca puisi cinta.

Puisi yang berbicara tentang kematian akan lebih dia suka menurut saya, ketimbang puisi garing asli tadi. Kematian tidak selalu menakutkan, dia bisa ditampilkan layaknya seorang teman. Subagio Sastrowardoyo pernah menulis: Dan kematian semakin akrab.

Saya memang sering mengirim puisi pendek lewat SMS. Tidak tahu kenapa. Padahal saya tidak mengerti mereka suka membaca puisi apa tidak. Meski pun suka, saya juga tidak paham kalau mereka akan suka puisi yang saya kirim. Tampaknya, kelakuan “menyimpang” saya akibat penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan membuat ada orang yang membaca puisi saya.

Tapi saya pikir, serangan SMS puisi saya lebih manusiawi, demokratis dan bersifat intelek ketimbang SMS lagi ngapain. Manusiawi karena di samping saya curhat, saya juga mengirim sesuatu yang menurut saya indah. Demokratis karena saya juga sering dibalas dengan puisi. Dan intelek menurut saya karena saya lebih kreatif.

Apakah kamu sering mengirim SMS lagi ngapain? Ayolah, Anak Muda, garing itu. garing. Saya bilang, “Grrrrr.” Sekarang kalimat itu sampai pada titik kehancurannya. Retak-retak. Kamu harus mencari kalimat lain, man. Yang lain. Kreatif sedikit.

Kreatif itu tidak sulit. Tidak sulit-sulit amat. Kalau orang lain bisa, kenapa kamu tidak? Mulailah dengan lebih memperhatikan hal-hal kecil. Hal-hal kecil yang menarik perhatian. Hal-hal kecil yang membuatmu tersentuh. Kamu akan bisa membuat puisi. Mulailah.

Jam sepuluh malam, acara alumni ditutup. Teman-teman bubar. saya juga bubar. Teman-teman pergi menuju kendaraan masing-masing, saya juga. Di perjalanan saya menemukan handphone saya bergetar. Ada pesan singkat masuk, saya baca: Lagi ngapain, Ful?” Ouh, shut.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x