Mohon tunggu...
Syahirul Alim
Syahirul Alim Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kiai Amin dan Santrinya

12 April 2018   09:54 Diperbarui: 12 April 2018   10:03 378
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Mamnun namanya. Nama yang agak aneh kedengarannya, terlebih bagi seseorang yang memahami bahasa Arab. Karena jika dialihbahasakan, "Mamnun" artinya "terputus". Tapi, itulah nama yang diberikan Tarlan dan Sumarni, kedua orang tua Mamnun yang berasal dari Dukuh Puntang, Cirebon. Kedua orang tuanya ingin sekali mempunyai anak yang cakap berakhlak, berilmu dan berbudi pekerti. 

Tak perlu menjadi pesohor seperti para penceramah di TV atau pemuka agama yang banyak pengikutnya. "Jadi santri itu mulia. Selain, kamu nanti bisa paham ilmu agama, kamu dididik menjadi pribadi yang mandiri, bertanggungjawab dan memiliki rasa hormat. Dan yang paling penting, bisa memberi contoh kepada masyarakat", ungkap Tarlan meminta.

"Kamu kalau kangen, ndak usah pulang. Biar Bapak sama Ibumu yang nanti menjenguk kesana," Sumarni tampak mencairkan suasana, melihat Mamnun tampak ragu, hampir saja memprotes kedua orang tuanya. Baginya belum terbayangkan, seperti apa hidup dan belajar di pesantren. Jauh dari orang tua dan teman-teman akrabnya. Yang terbayang dalam benak Mamnun adalah segala sesuatu dikerjakan sendiri di tengah suasana lingkungan baru yang belum tentu dengan mudah beradaptasi. Maklum, seumurannya, gairah bermain masih tinggi dan selalu saja berontak terhadap aturan-aturan yang mengekang kebebasan pubertasnya.

Selepas lulus sekolah dasar, kedua orang tua Mamnun menitipkan putra sulungnya ini ke pesantren yang diasuh Kiai Amin. Pesantren ini konon pernah menjadi basis perjuangan rakyat ketika terjadi aksi agresi militer Belanda di tahun 1948 silam. Saat itu Kiai Amin masih belia dan ayahnya-lah yang mengatur keberangkatan setiap santri untuk bergabung dengan pasukan Hizbullah di Surabaya. Banyak kisah menarik soal pesantren ini, termasuk seringnya para elit berkunjung sekadar mendongkrak elektabilitas. Apalagi di musim pilkada, pilkades atau pilpres, siapa saja bisa sowan meskipun terkadang Kiai Amin tak menghiraukan.

Di pesantren, Mamnun menempati kamar paling pojok, persis disebelah sumur menghadap jalan keluar pesantren. Kedua orang tuanya hanya mengantar hingga ruang tamu pondok setelah sebelumnya berbincang sesaat dengan Kiai Amin. "Kula titip Mamnun. Pasrah dengan segala aturan dan didikan Njenengan. Biar dia nanti mandiri, pinter ngaji dan paham budi pekerti", ungkap Tarlan dihadapan Kiai Amin. "Nggih, mudah-mudahan Mamnun betah dan mendapat banyak pengalaman hidup disini", Kiai Amin menegaskan. Figur bersahaja Kiai Amin memang sudah dikenal sejak dahulu. Tak pernah terlihat seperti seorang guru atau tokoh agama, penampilannya tampak apa adanya. Kadang hanya berbatik dan kopeah tak pernah berjubah. Namun, hampir semua orang tahu, Kiai Amin adalah pribadi mumpuni, bahkan konon memiliki ilmu "ladunni" (ilmu yang dianugerahkan Tuhan kepada seseorang karena kejujuran dan kerendah hatinya).

***

"Mamnun", dirinya meyodorkan tangan kepada salah satu penghuni kamar di hari pertama masuk pesantren. "Saya Wirjoyo, asal Indramayu", jawabnya singkat sambil menata barang bawaannya. Ada satu orang lagi yang selalu di pojok, duduk memperhatikan sebuah buku bertuliskan huruf Arab yang dibolak-baliknya dengan heran. "Udah bisa baca kitab kuning?", tanya Mamnun. "Belum, ini saya juga bingung gimana cara bacanya. Ini titipan kakak saya, dulu dia pernah mondok. Katanya kitab ini nanti bakal menjadi buku ajar di pesantren," jawabnya. "Oh, iya, saya Hadi, asal Karawang", tanpa menyodorkan telapak tangan. Mamnun memahami, yang penting dia sudah tahu nama kedua temannya yang nanti akan selalu bersama-sama setiap hari.

Butuh waktu satu bulan, Mamnun menyesuaikan diri dengan kehidupan pesantren. Lingkungan yang benar-benar asing pada awalnya. Di pesantren ini diajarkan kemandirian, karena memang segala sesuatu harus dikerjakannya sendiri. Kegiatannya selalu terjadwal padat, dari mulai dini hari hingga matahari menyembunyikan diri. Hampir tak ada waktu luang, kecuali selepas jam 9 malam. Jadwal Mamnun sudah terpampang di lemari kayunya yang usang, bekas lemari santri sebelumnya. Subuh berjamaah, dilanjut dengan mengaji Tashrifan dan Ta'lim Muta'allim yang langsung diasuh Kiai Amin. Pukul 7, dirinya harus sudah berangkat ke sekolah yang berada tak jauh dari pesantren. Selepas Ashar kembali mengaji, kitab Tijan Darori dan Fathul Qarib, disambung selepas Isya dengan mengikuti kajian Fathul Mu'in atau Jurmiyah bersama santri senior lainnya.

Sudah hampir 3 tahun, Mamnun nyantri di pesantren Kiai Amin. Beberapa kitab kuning sudah habis dilalapnya, dari yang tipis-tipis, seperti Safinah, Taqrib, atau Jurmiyah, hingga yang sedikit tebal, seperti Ushul Fiqh, Tafsir Jalalain, hingga Alfiyah. Dalam banyak hal, Mamnun biasa saja dan bukanlah tipikal santri yang menonjol. Bahkan, tak jarang dirinya kena ta'zir gara-gara telat  berjamaah atau bolos saat pengajian. Pesantren saat itu sudah tampak menjadi bagian dalam hidupnya, bahkan tradisi pesantren seperti melekat dalam dirinya. Kemandirian, keluhuran budi, kejujuran, dan yang lebih penting adalah selalu hormat terhadap ilmu pengetahuan dan siapa saja yang mengajarkannya.

Keakraban Kiai Amin dengan para santrinya, tak membuat jarak yang begitu jauh seperti halnya elit dan rakyat. Para santri memahami, pribadi gurunya adalah contoh hidup yang banyak menginspirasi. Kesederhanaan, kejujuran, keakraban, rasa saling percaya dan menghormati adalah sebagian dari budaya pesantren yang selalu ditanamkan oleh Kiai Amin. Tak hanya itu, Kiai Amin tak pernah membeda-bedakan setiap tamu yang datang, tak penting apakah pejabat, tokoh masyarakat, atau konglomerat, baginya semuanya sama harus dihormati dan diterima. Pernah suatu waktu dirinya kedatangan pejabat di sela-sela pengajiannya. Ia tetap melanjutkan pengajiannya hingga selesai dan pejabat itu duduk termangu hanya menunggu.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun