Mohon tunggu...
Sweetly Semuel
Sweetly Semuel Mohon Tunggu... Mahasiswa
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Seorang anak 3 bersaudara dari 2 orang tua tercinta. Mahasiswa FIS UNIMA (Universitas Negeri Manado)

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi Pilihan

Zoonosis (Pandemi COVID-19)

25 Juni 2021   15:23 Diperbarui: 25 Juni 2021   15:35 117 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Zoonosis (Pandemi COVID-19)
Gambar dikutip dari Wallpaperbetter / www.wallpaperbetter.com

Apa itu Zoonosis?

Zoonosis atau penyakit zoonotik adalah penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia atau sebaliknya. Zoonosis disebabkan oleh patogen seperti bakteri, virus, fungi, serta parasit seperti protozoa dan cacing. Diperkirakan lebih dari 60% penyakit infeksius pada manusia tergolong zoonosis.

Bagaimana Pola dan Cara Penularannya?

Pola

- Anthropozoonosis, artinya penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Pada jenis ini, penyakit infeksius berkembang bebas di alam di antara hewan liar maupun domestik. Manusia kadang akan terinfeksi dan akan menjadi titik akhir infeksi (dead end), serta tidak dapat menularkan penyakit kepada hewan atau manusia lain. Zoonosis yang tergolong kategori ini yaitu rabies, antraks, dan bruselosis.

- Zooanthroponosis, artinya penyakit yang menular dari manusia ke hewan. Pada jenis ini, penyakit infeksius bersirkulasi antarmanusia dan hanya kadang-kadang saja menyerang hewan sebagai titik terakhir. Termasuk dalam kategori ini yaitu tuberkulosis, serta infeksi Giardia duodenalis dan Cryptosporidium parvum.

- Amphixenosis. Kondisi di mana penyakit infeksius bersirkulasi di antara hewan dan di antara manusia. Infeksi tetap berjalan walaupun patogen tidak berpindah dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Contohnya infeksi Staphylococcus dan Streptococcus.

Penularan

- Secara langsung. Manusia menjadi sakit akibat mengalami kontak dengan hewan terinfeksi (misalnya rabies atau ringworm) atau aerosol saat hewan terinfeksi bersin atau batuk.

- Secara tidak langsung. Penularan zoonosis terjadi melalui perantara, baik hewan artropoda yang bertindak sebagai vektor (misalnya penyakit ensefalitis Jepang) maupun perantara yang berupa benda mati, seperti air, tanah, atau benda lainnya.

- Konsumsi pangan yang berasal dari hewan terinfeksi. Patogen yang paling banyak menyebabkan keracunan makanan (foodborne illness) di antaranya Salmonella, Escherichia coli, dan Campylobacter. Selain itu, penyakit seperti bruselosis, listeriosis, toksoplasmosis juga dapat diderita oleh manusia yang mengonsumsi pangan yang berasal hewan terinfeksi.

Kita Manusia Baru Saja Menciptakan Kondisi di Mana Kelelawar Bisa Menularkan Zoonosis

Ketika pemukiman manusia merayap semakin dekat ke habitat satwa liar, menggantikan petak hutan dengan pembangunan dan lahan pertanian, para ilmuwan khawatir perubahan penggunaan lahan tersebut dapat memacu evolusi penyakit zoonosis seperti COVID-19. Daerah yang telah mengalami transformasi dramatis dan merupakan rumah bagi populasi kelelawar yang besar, menurut beberapa ilmuwan, dapat menjadi titik awal pandemi virus corona berikutnya.

Sekelompok peneliti baru-baru ini berangkat untuk mengidentifikasi di mana wabah di masa depan mungkin terjadi, membuat peta titik panas potensial --- area dengan bahan-bahan yang berpotensi menguntungkan bagi limpahan virus corona terkait SARS. Mereka mencari lokasi yang memiliki konsentrasi kelelawar tapal kuda Asia yang tinggi, yang menampung keragaman terbesar virus corona, dan tingkat pemukiman manusia dan ternak serta fragmentasi hutan yang tinggi.

Dengan mengidentifikasi titik panas potensial, para peneliti dapat "membantu memikirkan bagaimana kita dapat mengurangi kemungkinan pandemi COVID-19 lainnya," kata David Hayman, seorang profesor ekologi penyakit menular di Massey University di Selandia Baru dan rekan penulis studi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN