Pemerintahan Pilihan

Bingung Menetapkan Kapan dan Bagaimana Bencana Nasional

9 Oktober 2018   01:34 Diperbarui: 9 Oktober 2018   05:44 471 1 1
Bingung Menetapkan Kapan dan Bagaimana Bencana Nasional
sumber gambar: lensaindramayu.com

Bangsa Indonesia akan tiba saatnya mengalami puncak masa-masa kebingungan untuk menetapkan kapan, siapa, dan di mana ketepatan itu harus segera diputuskan. Akan tiba saatnya semua menjadi tidak seimbang daya pikirnya dalam merumuskan sesuatu yang bersifat logis guna membangun Indonesia lebih baik. 

Gejala-gejala konflik di negeri ini alangkah baiknya diminimalisir seminim mungkin agar pertikaian-pertikaian yang berujung ketidakberdayaan manusia dan ketidakgunaan masalah untuk menjadi bahan berpikir nilai buruk terhadap bangsanya sendiri. Kebiasaan kita adalah saling berlomba-lomba menciptakan keterpurukan mendalam, menciptakan masalah-masalah yang dihimpit akal sehat, sehingga daya guna kemanusiaannya mengerucut pada identitas semata.

Bangsa ini kurang merefleksikan dirinya sendiri terhadap masalah yang sudah terjadi, baik masa lalu hingga masa milenial ini. Kecanggihan teknologi mengurangi daya berpikir rakyat Indonesia, akibatnya adalah upaya saling membenci, menggunjing, menyalahkan dari kita sesama rakyat. 

Kurangnya daya lingkup berpikir ke masa kejayaan Indonesia nanti, membuat kita justru semakin tidak bisa berkutik mengenai langkah ke depan, kita semakin mundur dengan munculnya tampilan para kawanan oknum yang membuat kita menilai secara stagnan di wilayah interen saja.

Orang akan saling benar kepada dirinya sendiri, orang akan memperebutkan wilayah kesalahan orang lain untuk menjatuhkan. Terciptanya kubu-kubu di antara penggawa negara ini semakin bingung kemana negara ini akan berkembang. Tidak menutup kemungkinan jika negara ini memang membenarkan dirinya tentang apa itu demokrasi, sistem negara yang dikendalikan oleh banyak kubu Partai politik dengan membawa kebenaran serta kesalahannya masing-masing.

Jangankan mereka sebagai parpol, bahkan tidak jarang ketika kita mendiami suatu organisasi dengan banyak anggota, banyak kepala, cara berpikir dan sudut pandang mereka pasti berbeda-beda. 

Kadang dari situ kita pun merasa kebingungan untuk membawa kemana organisasi itu ke depan. Sebuah kapal pasti membutuhkan nahkoda sebagai sopirnya. Di organisasi pun seperti itu, kita di organisasi mempunyai ketua sebagai pemimpin jalannya sebuah organisasi ke depan.

Perseteruan pasti terjadi mengenai perbedaan pandangan. Akan tetapi kembali lagi ke subtansi keorganisasian adalah suatu lingkup perkumpulan atau komunitas di dalamnya mempunyai tujuan sama. 

Bagaimana perbedaan pandang tersebut menjadi warna organisasi untuk belajar kedewasaan demi dasar tujuan yang telah ditentukan. Kalau di awal sudah mengalami kebobrokan, regenerasi seterusnya kemungkinan besar akan mengalami hal sama, kecuali ada soal kesadaran mengani hal itu. Sedangkan kesadaran tidak selangkah dua langkah dilakukan, butuh beberapa jangka panjang untuk memperbaikinya.

Sama halnya partai politik seperti biasanya. Dari golongan mereka masing-masing jelas mempunyai pandang tersendiri, mengenai apapun itu, terutama terkait kemajuan Indonesia. 

Bahkan bukan hanya cara pandang Indonesia ke depan, tapi di setiap dari golongan mereka tidak menutup kemungkinan membawa kesalahan masing-masing, entah itu korupsi atau nepotisme dan lain sebagainya. Bagaimana tidak nepotisme di era sekarang. Kita lebih sering memahami nepotisme mempunyai hubungan kekerabatan, kekerabatan diciptakan dari adanya sebuah golongan yang menjalin kerja sama, saling membantu dan saling menguntungkan.

Oleh karenanya kita sering kali melihat saat-saat pemilu atau apapunlah itu yang masih ada hubungannya dengan tata mekanisme pemilihan pemimpin di Indonesia. Di saat golongan siapa yang menang, pasti dari golongan mereka lebih mendominasi wilayah kekuasan di Indonesia, di bidang apapun. Saya kurang paham tentang hal itu, apakah hal tersebut menjadi sifat naluriah manusia, atau memang sudah menjadi kultur budaya, sehingga turun temurun dilakukan.

Kita simak akhir-akhir ini di Indonesia khususnya, terjadi gencar-gencarnya bencana, baik berupa fisik atau kesadaran manusianya. Indonesia sedang berturut-turut mengalami bencana. Dekatnya baru kemarin kita mengalami bencana di Lombok, kemudian bencana di Palu, Donggala dan sekitarnya, baru kemarin juga tidak kala pentingnya kita sedang menyaksikan bencana media yaitu tokoh elit politik dan seniman kita Ratna Sarumpaet.

Kabar Hoax seakan sudah terpelihara subur di negeri ini. Orang tidak bisa membatasi bahasa mulutnya, bahasa hatinya di media. Orang bebas tanpa batas berbicara di media umum untuk menarik simpati kepada rakyat, apapun caranya, meskipun itu metodenya tipu daya muslihat.

Negara ini seperti terjadi goncangan bertubi-tubi, baik alam ataupun kamanusiaannya sendiri. sudah hilang keseimbangan secara tata kelola alam dan manusianya. Hubungan keduanya sangat erat kaitannya. Terminologinya adalah di balik bencana pasti ada peringatan, sedang di balik rezeki pasti ada cobaan. Keduanya juga beriringan. Semua terjadi pasti ada sebab akibat di dalamnya. 

Peringatan ini mungkin ada skala wilayahnya. Tapi kesadaran diri sendiri lebih penting dari apapun. kita tidak tahu kapan musibah dan celaka datang menimpa. Momentum itu tidak pernah tau kapan datangnya. Maka dari itu intropeksi diri sendiri sangatlah penting ketika mengingat gejala-gejala timbul akhir-akhir ini.

Yang menjadi persoalannya adalah pemerintah tidak menetapkan ini sebagai Bencana Nasional. Ukurannya adalah bencana itu bisa dikatakan menjadi bencana Nasioanl ketika bencana tersebut mencangkup segi nasional. 

Jadi kalau gempa mungkin gempa nasional, kalau tsunami juga bisa tsunami nasional, gunung meletuspun mungkin gunung meletus nasional, jadi semua gunung-gunung di Indonesia saling meletus, lalu se-Indonesia tertimpa reruntuhannya. Apakah seperti itu perhitungannya.

Tidak perlu ambil pusing, bencana nasional bukan hanya bencana secara fisik, tapi bencana kemanusiaan, bencana kesadaran bisa lebih berat kerugiannya dari pada bencana fisik. Langsung saja pemerintah menggunakan ukuran kalau bencana Nasional adalah tindakan korupsi. Itu budaya paling terkenal dari negara Indonesia. Identitas budaya nasional kita. 

Masalahnya, korupsi letak kerugiannya tidak hanya di cangkupan regionalnya saja. Ketika orang sudah melakukan tindakan korupsi, maka letak kerugiannya adalah negara Indonesia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2