Mohon tunggu...
Maskatno Giri
Maskatno Giri Mohon Tunggu... Guru - Mas Guru b. Inggris SMAN 1 GIRIMARTO

Maskatno Giri atau Sukatno Wonogiri orang desa yang biasa-biasa saja, mau berusaha belajar dari siapa saja, diberi amanat mengajar di desa, jauh dari kota, SMAN1 Girimarto tercinta. Dia juga pemilik dan pengelola blog pembelajaran untuk siswanya:sukatnowonogiribelajar.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Keprihatinan Seorang PNS

19 September 2021   05:17 Diperbarui: 25 September 2021   07:49 132 12 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Keprihatinan Seorang PNS
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Kalau ada berita  ada oknum PNS  suka membolos kerja, saya turut prihatin, bersedih dan malu. Yang menggaji PNS adalah rakyat. Sedangkan masih banyak rakyat yang menderita. Setahuku  penerimaan   gaji PNS  tetap  lancar, memang sudah seharusnya diimbangi dengan kinerja yang bagus.

Sebagai seorang  guru PNS, saya merasa harus bersyukur. Maka saya harus meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja saya. Barang kali pembaca  ada yang bertanya bagaimana ceritanya saya bisa menjadi PNS.

Saya lahir bukan dari keluarga PNS, ortuku keduanya petani ladang di daerah tandus Wonogiri. Saya anak terakhir dari 8 beraudara. Kakakku hanya satu yang menjadi PNS. Beliau dulu seorang tenaga tata usaha di salah satu SMP negeri, lalu melanjutkan kuliah dan menjadi guru.

Tidak ada keluarga yang memotivasi saya untuk menjadi PNS. Di desa saya,  kebanyakan  pria seusia saya  setelah lulus SMP atau SMA bahkan lulus dari SD merantau ke kota -kota besar. Kebanyakan mereka   merantau ke Jakarta.

Saya memiliki perbedaan perjalanan hidup dibanding teman-teman di desa dan kakak-kakakku. Dari kecil saya tidak ingin merantau menjadi buruh, juga saya tidak mau menjadi seperti ortuku kerja di ladang. Apalagi ladang di daerah saya ladang tandus. Maka saya  berusaha agar nasib saya lebih baik. Saya termotivasi  untuk rajin dalam belajar, saya memiliki obsesi ingin bersekolah setinggi-tingginya. Walau kurang biaya tidak boleh menyerah.

Setelah lulus SMP saya merantau ke Solo sambil kerja dan sekolah ke SMA dan Alhamdulillah setelah SMA bisa diterima tes UMPTN di FKIP bahasa Inggris UNS Solo. Alhamdulillaah, saya  bisa lulus SMA  dan melanjutkan kuliah tanpa pernah minta uang ke ortu dan saudara.

Saya bisa kuliah pun juga masih sambil bekerja sebagai "paper boy"alias tukang Koran.  Karena kekuatan dan  Keadilan Allah Tuhan yang Maha Kuasa, melalui jasa salah satu dosen, saya dicarikan bea siswa. 

Singkat cerita saya lolos  terjaring  bisa mendapatkan bea siswa Ikatan Dinas. Saya mendapat tunjangan ikatan dinas sampai saya lulus.  Penerima TID /tunjangan ikatan dinas membawa konsekuensi, setelah lulus kuliah saya  harus mau menjadi PNS dan bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia.

Benar setelah lulus saya ditempatkan di salah satu SMA di kabupaten Wonogiri. Jadi saya menjadi PNS tanpa memalui seleksi yang ribet.  SK PNS cukup dibagikan  di ruang kemahasiswaan kampus UNS  lalu  secepatnya  saya disuruh mencari sekolah yang tertera di SK.

Menjadi guru PNS bagi saya bukan suatu prestasi. Ini sungguh  suatu kebetulan, seperti sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Saya tidak melamar dan tanpa proses wiyata bakti. Banyak teman saya memiliki nilai  IPK  lebih bagus dibanding nilai  IPK  saya,  juga sudah WB  namun setelah lulus mereka masih kesulitan mencari pekerjaan.  Maka sungguh rugi kalau saya tidak bersyukur.

Sebagai wujud rasa syukur, begitu mudahnya  saya  mendapat pekerjaan. Maka saya niatkan menjadi PNS adalah pengabdian jiwa dan raga.  Konsekuensinya saya niatkan harus menjadi guru berprestasi dan juga mampu membelajarkan siswa untuk berprestasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan