Mohon tunggu...
suherman agustinus
suherman agustinus Mohon Tunggu... Guru - Dum Spiro Spero

Menulis sama dengan merawat nalar. Dengan menulis nalar anda akan tetap bekerja maksimal.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengenal Budaya "Wuat Wai" di Manggarai

13 Agustus 2020   16:47 Diperbarui: 13 Agustus 2020   17:04 1070
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ritual "wuat wa'i" di salah satu kampung di Manggarai (Sumber: radarntt.co)

Istilah wuat wa'i sangat dikenal oleh masyarakat luas di Manggarai. Bukan karena diceritakan secara lisan dan turun temurun dari suatu generasi ke generasi, melainkan karena semua masyarakat, dari anak-anak usia belia sampai orang-orang dewasa selalu terlibat dalam acara wuat wa'i. 

Secara etimologis, wuat wa'i berasal dari dua kata Bahasa Manggarai, yakni wuat artinya mengutus dan wa'i artinya kaki. Secara harafiah, wuat wa'i artinya mengutus kaki. Namun, jika diartikan secara lebih mendalam, wuat artinya membekali dan wa'i artinya, berjalan jauh. Jadi, wuat wa'i artinya membekali seseorang untuk berjalan jauh.

Wuat wa'i di Manggarai dapat diadakan kapan saja. Terutama ketika hendak membekali seseorang untuk kergi keluar dari kampung untuk studi dan mencari nafkah di tanah rantauan.

Biasanya, wuat wa'i dilakukan secara bersama dalam keluarga. Tak pernah ada cerita bahwa wuat wa'i diadakan secara sendiri oleh indvidu yang mau merantau. 

Hal ini terjadi--karena dalam acara ini--individu yang mau merantau memohon doa restu dari segenap anggota keluarga agar perjalanannya ke tanah rantau dapat memberikan perubahan bagi kualitas kehidupannya sendiri dan juga kehidupan keluarga.

Yang menjadi kurban dalam acara wuat wa'i adalah ayam jantan yang berwarna putih. Kenapa harus berwarna putih? Karena warna putih melambangkan kesucian, ketulusan, dan kepolosan/kekosongan. Kosong artinya belum memiliki apa-apa di dalam dirinya.

Sehingga muncul go'et (peribahasa) Manggarai, yakni "Porong lalong bakok du lakom, lalong rombeng du kolem" (semoga pergi dengan tak membawa apa-apa, dan pulang harus membawa keberhasilan).

Peribahasa tersebut sangat menyentuh hati dan pikiran individu yang hendak merantau. Peribahasa itu memberikan kekuatan tersendiri bagi perantau yang mau mengadu nasib dan atau/ mengenyang pendidikan di tanah rantau.

"Wuat wai" menginspirasi penulis

Delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2012, penulis merantau ke Jakarta untuk kuliah. Kala itu, penulis juga dibekali dengan wuat wa'i. Keluarga penulis (bapa/mama dan saudara/i dalam keluarga besar) berkumpul bersama dan berdoa kepada Yang Mahakuasa agar penulis dapat menyelesaikan kuliah pada waktunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun