Mohon tunggu...
Suhaimi Arza
Suhaimi Arza Mohon Tunggu... Guru - Seorang guru yang bertugas di MIN 12 Nagan Raya. sebagai kordinator Pendidikan dan juga merangkap bendahara pembantu dari Kantor kementerian Agama Kabupaten Nagan Raya

Seorang manusia yang biasa biasa, lahir dari seorang ibu dan ayah yang bekerja sebagai petani. Saya Lahir di langsa, anak ke 5 dari 7 bersaudara yang masa kecil dihabiskan dikampung halaman bermain dan beraktivitas dengan teman teman, pagi ke sekolah, siang istirahat, sore main bersama malamnya berkumpul di pesantren ngaji dan belajar ilmu agama kepada tgk rangkang di dayah. Sekolah Menengah di MIM (Madrasah Islam Modern) dan melanjutkanya ke Pendidikan Dayah (pesantren) BUstanul Muarif,Futuhul Muarif Al Aziziyah, Darul Huda dan Nidhammul Fata. Kuliah S1 di USK dulunya disebut UNSYIAH dan melanjutkan S2 di UIN Ar Raniry Jurusan Fiqh Modern. Bertugas pengabdian Sebagai Aparatur Sipil Nagara (ASN) mulai tahun 2019 bertugas di MIN 12 Nagan Raya. Selain mengajar saat ini mengasuh pendidikan dasar Alqur'an di rumah bagi anak anak tetangga untuk memperbaiki alqur'an dan dasar dasar membaca kitab jawi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Gara-gara "Jin Buang Anak"

29 Januari 2022   00:23 Diperbarui: 29 Januari 2022   00:30 55 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Beberapa hari ini di setiap sudut berita nasional maupun local banyak judul besar tentang "jin buang anak ". Kata kata ini sering didengar apalagi didaerah daerah  seperti Aceh, Betawi dan daerah lainnya. Bahasa ini di Aceh sangat familiar,  hampi serupa namun beda maknyanya seperti "beuh anak jin" (buang anak jin), peget aneuk jien (membuat anak jin) yang ungkapan tersebut keluar untuk orang orang  yang melakukan perbuatan tidak baik.

Konteks dari viral nya kata tersebut pasti membuat jin kurang nyaman karena selalu disalahkan, badahal belum tentu salah juga karena belum masuk perkaranya dalam meja hijau.  Apakah kata kata "jin buang anak" dapat dikatagorikan dalam hinaan?  Selaku warga negara yang baik kita tunggu  kabar mendatang dari para pakar ahli bahasa saat dipersidangan.

Unggahan video dari ucapan seorang yang sudah bisa disebut tokoh, karena apabila orang desa yang ucapkan demikian sungguh tidak akan viral seperti ini.  Edi Mulyadi, seorang wartawan yang sudah melintang puluhan tahun di dunia pemberitaan, sungguh ceroboh dan pastinya kepleset lidah saat  mengeluarkan stanment dalam  konferensi pers dengan ucapan yang demikian hingga membuat reaksi yang begitu gaduh dan luar biasa trendingnya dalam beberapa hari ini.

Permintaan maaf telah dilakukan, namun laporan akan tetap berjalan, hari ini Jumat 28 Januari 2022 Badan Reserse Kriminal Polri telah memeriksa Edy Mulyadi  beserta beberapa saksi lainya. kita nantikan kelanjutannya di episode yang akan datang bagaimana hasilnya.

Harapan kedepan semua warga Negara agar dapat menjaga stanment saat memberikan kritikan ataupun masukan kepada pemerintah. Kritikan itu perlu untuk membangun bukan menjatuhkan. Semoga masalah ini cepat terselesaikan , semua pihak harus mengutamakan rasa persaudaraan, kasih sayang, kedewasaan , saling memafaafkan dan tentunya untuk kang Edy Mulyadi adanya penyesalan dari ucapannnya tersebut.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan