Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pada Salah dan Lupa, Mari Menuding

6 Januari 2017   16:22 Diperbarui: 6 Januari 2017   18:23 396
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
antara wayang dan dalang

Mudah diucapkan dan tidak sulit untuk dipraktekkan. Menuding! Pasalnya manusia tempat lupa dan salah. Siapapun, tanpa kecuali. Dan hanya orang yang paling congkak  yang merasa diri tidak punya kesalahan apapun. Hanya orang yang tidak sanggup membedakan mana benar dan mana salah yang mendapatkan kekecualian.

Orang seperti itu agak langka meski bukan tidak ada. Yang terbanyak kiranya para penghuni Rumah Sakit Jiwa, dan berbagai rumah rehabilitasi kejiwaan serta semacamnya.  Sudah barang tentu banyak orang yang malu memiliki anggota keluarga tertimpa stres berkepanjangan dan memilih memeramnya di dalam rumah sendiri, menutupi dari siapapun yang lain, dan mungkin begitu kejam memperlakukan orang itu agar cepat mati saja.

Berkaca, Kearifan

Lupa dan salah itu dapat berkadar besar, namun sering kali kecil dibesarkan, dan kadang besar disembunyikan hingga pada suatu hari terkuak lebar untuk menyibak aib yang lebih besar. Maka beruntunglah orang yang salah dan lupanya kecil-kecil saja, tidak berasa, dan bahkan masih mampu menuding ke semua arah sambil berkacak pinggang dan meneriakkan kata-kata pongah : “Berkacalah padaku. Ikuti langkahku. Jangan begitu picik menjadi manusia dungu yang tak mampu sekadar mendapatkan pembanding untuk menjadi lebih baik. . . . .!”

Secara umum dapat kita kategorikan tiga sifat manusia terkait dengan kesalahan orang lain: pertama, merasa diri tidak punya salah; kedua, merasa diri kesalahannya sangat kecil; dan ketiga, rajin menyalahkan orang lain agar kesalahan sendiri seberapapun besarnya tertutupi.

Dalam ilmu kearifan sudah lama diketahui orang bahwa ada dua cara orang menyikapi perjalanan kehidupan, ada yang dengan bermain-main sedangkan yang lain dengan bersungguh-sungguh. 

Namun ada nasehat yang tampak seperti bergurau: bermain-mainlah dengan sungguh-sungguh. Bagaimana caranya? Nasehat orang bijak, dalami ilmunya. Sementara itu dalam kearifan agama disebutkan bahwa dunia ini semu dan tempat bermain-main. Cinta dunia ini melalaikan orang untuk mempersiapkan diri pada akhirat. Dunia ini umurnya pendek saja, sedangkan akhirat selama-lamanya. Namun orang lebih suka memilih salah dan lupa.

Korupsi, Kejujuran

Merebaknya operasi tangkap tangan terhadap para pelaku korupsi-kolusi dan nepotisme, tangkap tangan perselingkuhan, dan tangkap tangan peredaran narkoba misalnya menandai suramnya pengamalan nilai-nilai kebajikan dan kearifan kita. Orang yang pintar, yang berpangkat, yang berjabatan, bahkan orang yang berilmu tinggi (dalam iptek maupun ilmu nagama) ternyata lemah dalam urusan kejujuran.

Bayangkanlah betapa akutnya wabah itu beranak-pinak dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya. Mereka yang kini menduduki jabatan publik, menjadi petinggi partai, menjadi pengusaha sukses bukan tidak mungkin merupakan produk kelancungan masa lalu, ketidakjujuran orang per orang dan lembaga, bahkan juga ketimpangan sistem maupun budaya kita. Maka bila kita harus menuding (sambil berkacak pinggang dan pongah berujar) tak habis telunjuk kita mengarah ke semua arah. Dan iseng-iseng bolehlah sesekali menunjuk hidung sendiri.

Mari kita dengan sadar dan sengaja mencari sisi negatif apa saja di sekeliling kita, pada siapa saja, pada apa saja, dan juga pada sang pencipta alam semesta bila perlu. Kita kritis dan skeptis saja. Bila ada istilah sangat populer seseorang sebagai penista agama maka jangan-jangan setiap orang di negeri ini tak lain juga menjadi penista agama. Mereka mengaku beragama tertentu, memperlihatkan atribut keagamaan tertentu, dan bahkan rajin menyebut agama lain sebagai pembanding yang tidak sebanding; namun urusan kejujuran abai, urusan kepedulian lalai, urusan keikhlasan berbagi jauh panggang dari api.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun