Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Belajar Menikmati Banjir ala Sekda DKI Jakarta Saefullah

28 Februari 2020   23:20 Diperbarui: 28 Februari 2020   23:34 1105
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
anak-anak menikmati banjir jakarta

"Kami sudah jenuh dengan banjir. Tolong perhatikan rakyat karena kami merugi biaya, rugi tenaga karena sakit-sakit. Tolonglah jangan dipermainkan perasaan rakyat," kata Ahmad Hendra (24), warga kawasan Jakarta Barat.

*

Banjir membuat lelah para pimpinan daerah. Bupati, Walikota, dan Gubernur harus bekerja ekstra keras. Lelah mengurusi berbagai upaya untuk mengatasi dampak banjir, dan lelah pula untuk menjawab berbagai pertanyaan, pernyataan, dan bahkan hujatan yang terkait dengan kinerja yang diragukan keandalannya.

Khusus untuk Anies Baswedan sudah santer dikritikkan warga maupun nitizen ihwal ketidak mampuannya mengelola kota, termasuk penanggulangan banjir.

Dua tahun menjadi gubernur hampir-hampir tidak ada yang dilakukan terkait dengan upaya antisipasi dan penanggulangan banjir. Bahkan untuk sekdar meneruskan program gubernur sebelumnya pun tidak.

Yang mengherankan, agaknya yang lebih dipikirkan hanya bagaimana menyukseskan proyek Formula E. Itu sinyalemen aktivis dan pengamat politik Ray Rangkuti.

Karena soal banjir Anies Baswedan akhir-akhir ini memilih berhemat kata, maka Saefullah yang sibuk berhadapan dengan awak media maupun menjadi narasuber pada sejumlah acara yang membahas seputar banjir Jakarta. Hingga kemudian terlontarlah ucapannya yang menyepelekan, tanpa empati dan terkesan berusaha lepas tanggungjawab: "dinikmati saja".

*

Mungkin Saefullah letih dan bosan juga menghadapi banyak pertanyaan wartawan, bingung dengan tuntutan dan hujatan warga, bahkan menjadi jengkel dengan berbagai kritikan netizen.

Sehingga spontan -mungkin tidak sadar- ia mengeluarkan ungkapan yang bernada gurauan dan candaan yang tidak pada tempatnya. Setelah pernyatan itu viral mungkin ia baru menyadari bahwa logika yang dikemukakannya hingga sampai pada kesimpulan "dinikmati saja" tidak tepat, salah, dan tanpa perasaan.

Sebagai pejabat publik yang sedang mendapatkan sorotan media memang wajar ia kelelahan dan merasakan ketidaksukaan atas apa yang dihadapi. Tetapi bersikap tanpa empati, tanpa perasaan, sekadar berdalih dan bersilat lidah, tentu saja salah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun