Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Kurma

Ngabuburit, Ruang Redaksi, dan Masjid Raya

24 Mei 2018   23:49 Diperbarui: 25 Mei 2018   00:03 421
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tergantung bagaimana kita memaknai ngabuburit, maka itulah yang kita kerjakan. Dalam istilah bahasa Sunda 'ngabuburit' ya merintang-rintang waktu, mencari satu-dua kesibukan menjelang Maghrib, dan ada pula yang mengartikan menunggu termangu-mangu detik demi detik berlalu hingga Adzan berkumandang.

Pada umur yang berbeda, pada lokasi dan kondisi yang berbeda, saya pernah melakukan berbagai gaya ngabuburit. Sewaktu masih kanak-kanak menunggu Maghrib berarti bemin sepabola, pada kesempatan lain bermain bola voli, main catur, dan pernah juga main karambol. Dapat diduga pada waktu itu betapa memprihatinkan pemahaman agama saya. Yah, begitulah alasan sebagian anak-anak zaman 'old' sehat jasmani, tapi rohani terlantar.

Peristiwa itu sudsah lama sekali berlalu. Tapi kalau saat itu ditanya maka lokasi favorit saya adalah lapangan. Atau setidaknya di lokasi saya bermain.

Lalu waktu pun bergulir cepat, tahun-tahun berganti, dan tiba-tiba saya di ujung masa kerja. Itu beberapa tahun lampau.; Bila saya ditanya hal di mana tempat yang membuat waktu terasa cepat berlalu? Jawabnya, di ruang redaksi. Kalau sudah sibuk di ruangan itu pergerakan matahari tak terpantau. Bahkan jarum jam seperti bergerak seperti pelari sprint.  Tiba-tiba sore, bahkan malam.

Siaran berita lokal dimulai tepat pukul 17.00 selama satu jam. Empat jam sebelumnya saya sudah berkutat di meja komputer untujk mengoreksi naskah demi naskah. Kemudian naskah didubbing dan selanjutnya rekaman audio tersebut dibawa ke ruang editing untuk diberi gambar hasil liputan berita yang telah dilakukan  hari itu.

Berbeda dengan pekerjaan lain, pekerja media -terutama audio visual- tidak menggunakan jam kerja kantoran. Tiap bagian punya jam kerja berbeda, tergantung pada jam tayang/siarannya.

Hampir lima tahun bekerja di meja redaksi berlalu karenapansiun. Maka kini lokasi yang paling favorit untuk ngabuburit tak lain yaitu di lingkungan masjid. Di halamannya, di teras, di kamar mandi, di dekat rak Al Qur'an, dan tentu saja di shaf-shaf depan. Masjid itu tak lain Masjid Raya Bandung, yang berada di tengah kota, di tengah pusat perbelanjaan, dengan halaman yang sangat luas yang dihampari rumput sintetis dan taman-taman tanaman hiasa aneka warna, serta dua menara kembar yang terbuka bagi pengunjung untk menikmati pemandangan sebagian kota Bandung dari atasnya .

Saya dan isteri biasa datang setelah shalat Ashar. Sepanjang sore kami duduk berpindah-pindah di seputar halaman. Dengan begitu kami mendapatkan spot yang menarik, berganti-ganti, sambil ngobrol apa saja, menikmati cuaca ketika sinar matahari mulai meredup. Beberapa kali diteman anak dan mantu, pada lain waktu bertemu dengan teman lama sesama pensiunan, dan lebih sering bertemu dan ngobrol dengan seseorang hal-hal yang aktual.

Jelang adzan Maghrib kami harus buru-buru mencari tempat diantara para penerima takjil. Ada ratusan orang yang mendapatkan kajil setiap waktu berbuka. Menurut panitia, jumlah yang disediakan bahkan mencapai sekitar 1.500 bungkus setiap hari. Sumbangan takjil dari berbagai pihak itu menjadi rezeki warga Bandung. Tak terhingga rasa terima kasih saya sebagai salah satu penerima takjil, untuk para penyumbang, dan mudah-mudahan Allah membalasnya dengan yang lebih baik di akhirat kelak.

Suasana meriah dan kolosal itu tak terlupakan. Namun suasana demikian sesekali saja sebaiknya diburu dan difavoritkan, karena beberapa alasan. Pertama, semakin banyak yang mengisi masjid di tempat yang jauh (termasuk Masjid Raya) maka masjid sendiri (di lingkungan terdekat dengan rumah) menjadi relative kosong. Hal itu yang sering terjadi pada minggu terakhir jelang Ramadan. Para Ustad biasanya menggambarkan hal itu sebagai 'terjadi kemajuan' dalam hal jumlah shaf yang mengikuti shalat Isya' dan Tarawih: shaf terakahir makin maju karena jumlah jamaah berkurang. Kedua, godaan untuk menikmati sore di halaman depan masjid menghilangkan minat dan waktu saya untuk bertadarus, berdzikir dan ber'itikaf di dalam masjid sendiri. Ketiga, sebagus-bagusnya Masjid Raya akan lebih bagus masjid di lingkungan sendiri. Harap maklum saja, sebab pada hari-hari lain lima kali dalam sehari saya mengikuti shalat wajib berjamaah di sana.

*

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun