Mohon tunggu...
Subagio Waluyo
Subagio Waluyo Mohon Tunggu... Taruna

Subagio S Waluyo, Lahir di Jakarta, 5 Maret 1958, sudah berkeluarga (1 istri, 5 anak, dan cucu), Pekerjaan sebagai dosen di FIA Unkris (1988 sampai sekarang), Pendidikan Terakhir S2 Administrasi Publik, Alamat Rumah Jalan wibawa Mukti IV/22, RT003/RW017, Jatiasih, Kota Bekasi 17422

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Frasa "Bagaimana Nanti" Versus "Nanti Bagaimana"

11 Oktober 2019   10:36 Diperbarui: 12 Oktober 2019   13:56 0 4 3 Mohon Tunggu...
Frasa "Bagaimana Nanti" Versus "Nanti Bagaimana"
olahan gambar pribadi penulis

Melihat judul di atas, saya yakin ada orang yang beranggapan bahwa "bagaimana nanti" lebih layak digunakan daripada "nanti bagaimana". Ada juga yang beranggapan bahwa "nanti bagaimana" lebih layak digunakan daripada "bagaimana nanti".

Meskipun demikian, ada juga yang tidak mau ambil pusing, kedua-duanya baik "bagaimana nanti" maupun "nanti bagaimana" sama saja artinya. Khusus untuk pendapat yang ketiga ini ada anggapan bahwa hal itu lebih disebabkan penempatan kedua kata itu saja yang dipertukarkan tempatnya. 

Tentang artinya tidak ada perbedaan yang substansial. Tulisan ini lebih cenderung untuk memasalahkan pendapat yang ketiga ini agar semua orang tahu bahwa kedua frase tersebut jelas-jelas berbeda dari sisi muatan yang terkandung di dalamnya.

Frase "bagaimana nanti" terkadang juga dimasukkan kata "saja" sehingga menjadi "bagaimana nanti saja". Frase "bagaimana nanti" tidak bisa dimasukan sebagai kalimat tanya meskipun di depan frase tersebut ada kata tanya "bagaimana" karena memang frase jenis ini tidak membutuhkan jawaban. 

Justru, frase "bagaimana nanti (saja)" merupakan sebuah jawaban seseorang ketika ditanya tentang, misalnya, kesiapan menghadapi ujian esok hari. Atau ketika seseorang melakukan aktivitas yang ilegal jika ditanyakan tentang resiko atas perbuatannya, selalu memberikan jawaban "bagaimana nanti (saja)".

Atau ketika seseorang telah melakukan pekerjaan semaksimal mungkin, jika ditanyakan tentang hasilnya, bisa juga memberikan jawaban "bagaimana nanti (saja)". Untuk yang terakhir ini sebenarnya boleh dikatakan jarang memberikan jawaban seperti itu.

Dalam tulisan saya yang terdahulu (lihat "Kerancuan Berpikir dan Kerancuan Berbahasa dalam Skripsi Sarjana S1") telah dijelaskan bahwa menurut hipotesis Sapir-Whorf, bahasa bukan hanya menentukan budaya, tetapi juga cara dan jalan pikiran manusia (Abdul Chaer, 1994:70). 

Dengan kata lain, boleh juga dikatakan suatu bangsa dengan bangsa lain yang berbeda bahasanya akan mempunyai jalan pikiran yang berbeda pula.

Dengan demikian, perbedaan bahasa merupakan sumber perbedaan budaya dan jalan pikiran manusia karena tanpa bahasa manusia tidak mempunyai pikiran sama sekali. 

Dengan melihat pada frase "bagaimana nanti (saja)" bisa dikatakan bahwa jalan pikiran orang yang mengatakan demikian lebih cenderung berpikiran pragmatis.

Mangunhardjana berpendapat kaum pragmatis berpendapat bahwa yang baik adalah yang dapat dilaksanakan dan dipraktekkan dan mendatangkan yang positif. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
KONTEN MENARIK LAINNYA
x