Mohon tunggu...
Sri Wangadi
Sri Wangadi Mohon Tunggu... Penulis - 📎 Bismillah

📩 swangadi27@gmail.com 🔁 KDI - BTJ

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Begini Kisah Kesetiaan Nabi Muhammad SAW kepada Khadijah yang Patut Kita Teladani

9 November 2019   00:41 Diperbarui: 9 November 2019   00:54 516
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagaimana keadaan hati dan pikiran Anda ketika mendengar kata setia? atau melihat dan menyaksikan dua sejoli yang saling setia dalam menjalani sebuah hubungan? Ikut bahagia dan kagum bukan? kesetiaan ini bisa kita teladani dari kisah Nabi Besar Muhammad Shallallahu'Alaihi wa Sallam.

Nabi Muhammad SAW dikenal akan rasa cinta dan sayangnya yang sangat besar kepada istri pertamanya, yaitu Siti Khadijah. Selama bersama Khadijah, Rasulullah tidak pernah membagi cinta atau berpoligami dengan wanita manapun sampai Khadijah meninggal.

Diriwayatkan, Rasulullah menjalani hidup berumah tangga bersama Khadijah selama 25 tahun lamanya. Dalam Sirah Nabawiyah menyebutkan bahwa Khadijah kemudian wafat saat Rasulullah berusia 50 tahun.

Setelah Khadijah wafat, Rasulullah menduda selama satu tahun dan tidak terpikirkan untuk menikah lagi. Nabi Muhammad baru memulai poligami saat usianya menginjak 51 tahun. 

Selama masa hidup, beliau lebih lama hidup bermonogami dibanding dengan beristri lebih dari satu. Tujuan beliau adalah memuliakan wanita, bukan untuk kesenangan pribadi, karena semua wanita yang dinikahi Nabi adalah janda paruh baya dan memiliki banyak anak (kecuali Aisyah).

Terlepas dari perdebatan mengenai  poligami, niat atau keinginan untuk melakukan poligami memang hak dan pilihan masing-masing individu, setiap manusia punya pilihan yang berbeda. Ada yang memilih untuk poligami, namun ada pilihan lain, yaitu setia. Bagiku setia bukan hanya sekedar pilihan, melainkan sebuah keperluan dan keharusan.

Banyak yang memilih berpoligami dengan niatan tertentu. Dalam islam memang diperbolehkan untuk berpoligami asalkan niat dan tujuannya memang benar dan tentunya syaratnya harus bisa berlaku adil.

Setia adalah sebuah kata yang sangat mudah sekali untuk diucap, bagaimana tidak mudah? hanya satu kata. Satu kata yang sebagian orang menganggap berat dalam realisasinya.

Ada yang mengingkari kesetiaan dengan jalan berselingkuh, dengan dalil poligami namun caranya yang salah. Bukankah selingkuh adalah suatu kejahatan? menyakiti hati orang lain sama halnya dengan berbuat jahat terhadap seseorang, dan hal tersebut merupakan perlawanan kebaikan dari Tuhan.

Jangan menjadikan dalil poligami sebagai pemuasan hasrat semata, mungkin niat untuk membantu orang lain, namun istri sendiri dijadikan korban, ingin menikahi janda, namun istri sendiri dijadikan janda. Ingin membimbing wanita lain, namun istri sendiri ditelantarkan. Poligami bukan sekedar kepuasan, namun lebih ke tanggung jawab.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun