Mohon tunggu...
Sri Amelia
Sri Amelia Mohon Tunggu... tentang saya

seorang pengamat

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Mengecewakan, Bawang Putih China Cepat Busuk

12 Mei 2019   23:04 Diperbarui: 12 Mei 2019   23:15 0 0 0 Mohon Tunggu...

Semua orang pasti sudah tahu kualitas produk asal China. Berbeda dengan negara tetangganya, Jepang atau Korea Selatan yang dikenal awet dan tahan banting, kebanyakan produk China kesohor akan kualitasnya yang semenjana dan terkesan murahan.

Tengok saja bawang putih yang baru-baru ini dan selalu diimpor dari China. Belum apa-apa cepat busuk. Setidaknya itulah pengakuan para pedagang di Pasar Kranggot, Kelurahan Jombang Wetan, Kota Cilegon. Mereka kecewa berat dengan kualitas bawang putih impor asal China.

Mereka bilang, kualitas bawang putih impor kalah kualitas dengan bawang putih produksi lokal. Supiah, salah seorang pedagang mengaku semua bawang putih yang dikirim Pemprov Banten semuanya busuk, dan tidak layak dikonsumsi. Alhasil, tidak ada peminatnya.

"Pelanggan lebih baik beli yang mahal tapi kualitasnya bagus daripada beli yang murah namun kualitasnya cepat busuk," ujanya seperti dilansir dari Bantennews.co.id, Selasa (7/5).

Supiah berucap, dirinya membeli satu karung bawang putih impor asal China dengan harga Rp400 ribu dengan berat sekitar 20 kilogram dari operasi pasar (OP) yang digelar Disperindag Provinisi Banten. "Tapi saying, kualitasnya buruk," akunya.

Ditempat terpisah, Kasubag Tata Usaha UPTD Pasar Kranggot, Aceng Syarifudin mengaku pihaknya banyak menerima keluhan dari para pedagang terkait bawang putih impor tersebut. Pihaknya mendapatkan kiriman Bawang Putih impor asal China sebanyak 3,6 ton. Dari jumlah itu pedagang dijatah hanya satu karung.

"Pedagang bilang sangat rugi karena bawangnya banyak yang busuk. Nanti kalau ada tahap kedua pengiriman bawang putih dari China, Mudah-mudahan-mudahan kualitasnya lebih baik," ucapnya.

Rujukan I 

Fenomena ini tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Impor dari China selalu menjadi solusi "pemadam kebakaran" dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan), acap kali harga produk hortikultura, termasuk bawang putih, meroket.

Kementan sendiri telah menyiapkan strategi swasembada bawang putih yang dimulai dengan menyediakan bibit. Ini bisa dimaklumi, 70-80% keberhasilan budidaya ditentukan oleh bibit yang baik. Dari target tanam seluas 30 ribu hektar pada 2019, semua hasil bawang putih akan dijadikan bibit.

Langkah lanjutannya, pada 2020 luas tanam ditargetkan mencapai 90 ribu hektar. Ini juga akan jadi bibit. Baru pada 2021, hasil bawang putih bisa untuk memenuhi konsumsi domestik dan kebutuhan bibit.

Pertanyaannya adalah, insentif ekonomi apa yang tersedia yang membuat petani tertarik menanam bawang putih? Tanpa kejelasan insentif ekonomi yang memadai, sebagai makhluk rasional, petani tentu akan lebih memilih tetap menanam tanaman yang lebih masuk hitungan ekonomisnya.

Untuk itu pemerintah wajib membuat kebijakan yang memungkinkan petani kembali mau menanam bawang putih. Selain subsidi dan kemudahan akses modal, penetapan jaminan harga dasar sebagai jaring pelindung kerugian akan kembali menarik petani agar mau menanam bawang putih.

Rujukan II 

Sepanjang keuntungan menanam bawang putih kalah dari komoditas lain, swasembad bawang putih hanyalah mimpi indah belaka.